Laporan Kualitas Panen Jagung 2021/2022 oleh U.S. Grains Council (USGC)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – U.S. Grains Council (USGC) merilis Laporan Kualitas Panen Jagung 2021/2022 yang mengungkapkan tanaman jagung tahun ini memiliki bobot uji rata-rata yang lebih tinggi dan kerusakan total serta retak stres yang lebih rendah.
Baca juga : Koperasi Wira Sakti Utama Gelar Rapat Anggota Tahunan
Berdasarkan pemaparan dari Dr. Kyle Gilliam, selaku manajer strategi dan perdagangan global USGC mengatakan bahwa pihaknya selalu memberikan laporan setiap tahunnya selama 11 tahun terakhir.
“Laporan kami secara konsisten menunjukkan bahwa AS menghasilkan banyak jagung berkualitas baik. Laporan mengenai jagung tahun ini merupakan laporan yang terbaik sejak kami memulai laporan kami pada tahun 2011,” ujarnya.
Selanjutnya menurut Kale Petersen yang merupakan seorang peternak memberikan informasi mengenai bagaimana menanam jagung di AS dan rencana penanaman di masa depan. Kale berpendapat bahwa keberlanjutan atau sustainability merupakan hal sangat penting bagi pertanian. Kale juga melihat tren yang baik ke depannya di sektor pertanian.
Senada dengan Kale, Jay O’Neil yang merupakan pemilik dari HJ O’Neil Commodity Consulting sekaligus konsultan komoditas internasional mengatakan jika semua berjalan dengan normal, dirinya memperkirakan harga biji-bijian meningkat.
Acara ini juga dihadiri oleh Carlos A. Campabadal, Ph.D., yang merupakan Program Specialist in Grain Quality & Feed Manufacturing International Grains Program (IGP). Carlos mengatakan bahwa di daerah tropis hal yang penting adalah bagaimana kita bisa mengurangi pertumbuhan jamur, terutama pada jagung.
“Berbicara mengenai penyimpanan biji-bijian di daerah tropis, yang perlu diperhatikan adalah biji-bijian ini sangat rentan terhadap jamur. Sehingga, terkait penyimpanan, salah satu yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita bisa mengurangi kepadatan dan kelembaban. Saat biji lembap, maka jamur akan aktif dan tumbuh,” terang Carlos.
Masih dalam acara yang sama, menurut Dr. Adam C. Fahrenholz, selaku Professor di Prestage Deparment of Poultry Science North Carolina State University, mengatakan bahwa produsen harus memastikan fasilitas dalam penggilingan.
“Secara keseluruhan, strategi yang dapat dilakukan adalah kontrol peralatan, mencari alternatif proses grinding, dan memperhatikan ukuran partikel. Kita harus menyediakan ukuran partikel yang sesuai dengan target ternak dan mengurangi konsumsi energi saat penggilingan. Hal ini berdampak pada lebih sedikit efek rumah kaca dan efeknya lebih baik untuk lingkungan,” jelasnya.