Seiring dengan penurunan kasus Covid-19 yang signifikan dan pemerintah mulai melakukan pelonggar-an, PT Ceva Animal Health Indonesia (Ceva) menyelenggarakan event luring pertamanya, LAYER DAY 2022 yang diselenggarakan di dua kota, Jakarta, Selasa, (7/6) dan di Surabaya, Kamis (9/6). Acara yang mengangkat tema “Layer Producer Pressure and Plan: Approach to Enhance Layer Performance” ini sukses dihadiri oleh peternak dan perusahaan ayam petelur dari seluruh wilayah Indonesia dengan total kurang lebih 220 peserta. Ceva menghadirkan tiga pembicara yang unggul dibidangnya, yaitu Suryo Suryanta – Independent Poultry Consultant, Fauzi Iskandar –Veterinary Service Manager Ceva Indonesia dan Jessica Lee – Asia Veterinary Service Manager Ceva Asia.
Edy Purwoko selaku Country Manager Ceva Animal Health Indonesia, dalam sambutannya menyatakan bahwa dalam tema utama pada seminar hari ini, yaitu bagaimana tekanan dari pihak eksternal yang kita alami pada hari ini berupa harga pakan, dan diikuti harga sapronak lain yang juga ikut naik, kita tentunya sebagai pelaku bisnis ingin secara internal mengantisipasi sehingga semua input yang sangat mahal tadi akan menghasilkan output yang tinggi. Salah satunya dengan optimalisasi vaksin sehingga dari vaksin yang ada saat ini bisa mengurangi jarak pemberian vaksin untuk mengurangi tingkat stres,” papar Edy.
“Pemberian vaksin untuk ayam broiler saat ini mayoritas sudah diberikan di hatchery, mungkin sudah lebih dari 90% broiler saat ini divaksin di hatchery. Sebagai leader di vaksinasi hatchery, kali ini Ceva memberikan kesempatan yang sama kepada para peternak layer untuk dapat melakukan kegiatan vaksinasi di hatchery dengan konsep yang Ceva tawarkan. Selanjutnya Edy menambahkan bahwa pihaknya ingin memberikan suatu inovasi kepada para peternak layer. Harapannya di minggu pertama ayam sudah tidak perlu lagi ditangkap dan tidak perlu lagi ada injeksi maupun tetes mata dalam pemberian vaksin killed sehingga dapat mengurangi stres pada ayam. Kami sebagai pelaku bisnis di bidang perunggasan selalu ingin memberikan inovasi yang terbaik bagi para pelanggan setia kami,” tutup Edy.
Potensi genetik dan manajemen vaksinasi
Dalam paparan materinya, Suryo Suryanta menyatakan bahwa penting bagi para pemilik dan pengelola kandang untuk bisa mengelola aspek genetik dalam upaya efisiensi produksi telur. Suryo menjelaskan bahwa perkembangan organ akan sangat bergantung pada minggu pertama selanjutnya, minggu ke-3 adalah untuk perkembangan otot, sedangkan di minggu ke-8 adalah pertumbuhan telur. Hal ini menurutnya perlu perlakuan ekstra untuk mencapai performa ideal.
“Kuncinya adalah bagaimana SDM yang mengelola ternak, mampu untuk mengotrol bobot badan. Saran saya adalah melakukan penimbangan setiap hari, dan ayam dengan keseragaman kurang dari 15%, maupun lebih dari standar dihilangkan. Kesadaran menyadari kesalahan diri sendiri adalah mindset yang bisa membuat performa meningkat,” ungkap Suryo.
Selanjutnya, Suryo juga menyoroti program vaksinasi yang mana bisa meningkatkan stres pada ayam sehingga bagaimana perlakuan saat vaksinasi ini harus diperhatikan sedemikian rupa. “Vaksinasi adalah salah satu proses yang bisa menyebabkan stres di lapangan selama 4 minggu pertama. Masih banyak peternak yang ingin ternaknya sehat dengan melakukan vaksinasi secara berulang. Imbasnya akan terlihat penurunan berat badan jika dilakukan penimbangan harian, dari 2 hari setelah vaksinasi sudah bisa terlihat penurunannya,” papar Suryo.
Sejalan dengan Suryo, menurut Jessica Lee DVM, Asia Veterinary Service Manager Ceva, juga mengatakan bahwa dengan program vaksinasi yang biasa dilakukan oleh para peternak sebanyak 20-25 kali dari periode pullet hingga grower. Hal tersebut sangat berpotensi untuk meningkatkan stres pada ayam dan menurunkan performa yang harusnya mencapai standar. “Semakin banyak kita melakukan vaksinasi, maka akan semakin tinggi pula tingkat stres yang dialami oleh ayam. Bayangkan dari periode pullet hingga periode grower saja divaksin sebanyak 25 kali. Hal ini harus menjadi perhatian oleh para peternak,” ucapnya.
Informasi terkni kejadian penyakit pada layer
Fauzi Iskandar selaku Veterinary Sevices Manager Ceva Animal Health Indonesia mengungkapkan beberapa penyakit yang terjadi sepanjang tahun 2022 berdasarkan hasil survey penyakit yang dilakukan oleh tim lapangan Ceva Indonesia. Dari tahun 2018 sampai dengan 2022 hampir setiap tahunnya penyakit ND merupakan penyakit yang paling sering ditemukan untuk layer di semua fase produksi, baik pada fase pullet, maupun pada fase laying. Akibatnya produksi telur pasti akan menurun. “Penyakit yang kedua adalah penyakit gumboro, di mana kemunculan penyakit gumboro ini selain dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan vaksinasi juga sangat bergantung pada kesiapan kandang dan biosekuriti,” paparnya.
Menurut Fauzi, dalam 4 tahun silam jika dilihat dari pergerakan penyakit dari tahun ke tahun walaupun penyakit ND selalu menjadi nomor 1, namun penyakit ND dari tahun 2019 hingga 2021 terjadi penurunan kasus yang cukup signifikan. “Hal tersebut karena farm yang menggunakan vaksin dari Ceva salah satunya Vectormune® ND (untuk broiler) dan Vectormune ND® + Rispens (untuk layer) yang mampu mengurangi shedding virus ND sehingga kejadian penyakitnya cukup berkurang secara signifikan.”
Secara spesifik, Fauzi mengutarakan untuk penyakit IBD jika dibandingkan antara tahun 2020 dengan tahun 2021, memang kejadiannya sudah berkurang. Akan tetapi, penyakit gumboro ini masih sulit untuk dihilangkan di farm karena program vaksinasi bukan satu-satunya cara untuk menghilangkan penyakit gumboro. “Dengan vaksinasi yang tepat, didukung dengan persiapan kandang yang optimal dan program biosekuriti yang ketat, akan meningkatkan keberhasilan pemeliharaan,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa penyakit selanjutnya yang sering ditemukan dilapangan, yaitu penyakit Infectious Bronchitis (IB) terutama IB variant dan juga Mycoplasma Gallisepticum (MG), yang mana tren dari tahun ke tahun masih terlihat di lapangan. Penyakit MG yang terjadi di lapangan masih belum disadari oleh para peternak layer di farm. Masalah utama yang dihasilkan oleh MG adalah masalah pernafasan dan penurunan produksi. Sehingga peternak sering sekali menyelesaikan masalah pernafasan dan penurunan produksi yang tidak spesifik dengan antibiotik yang bisa menambah beban biaya pengobatan dan resistensi antibiotik.
Maka dari itu, Fauzi menyarankan agar para peternak melakukan vaksinasi dan peningkatan biosekuriti karena jika dilihat dari permasalahan umum yang ditemui dalam peternakan layer di Indonesia adalah pemeliharaan dengan sistem multi-age sehingga memang harus bisa berdampingan dengan penyakit MG. “Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi live MG lewat produk Cevac® MG-F. Pada penggunaan dalam jangka waktu yang lama, harapannya strain lapang akan tergantikan oleh strain vaksin. Kami juga merekomendasikan agar para manajer farm dapat mengenali penyakit utama yang ada di farm kita. Apakah itu ND, Gumboro, IB, MG, atau yang lainnya agar fokus utama kita adalah dapat mengeliminasi penyakit utama tersebut. Yang kemudian kita lanjutkan program vaksinasinya, perbaiki biosekuritinya, dan sebisa mungkin pencegahan melalui vaksinasi sebelum kejadian itu muncul,” pungkasnya.
Solusi untuk tingkatkan performa
Dengan berbagai macam tantangan di lapangan, maka solusi aplikatif sangat diperlukan oleh para peternak untuk dapat meningkatkan performa ternak dan menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang maksimal. Oleh karena itu, Jessica Lee DVM, menawarkan sebuah solusi vaksinasi dengan konsep Less is More. “Kali ini Ceva memperkenalkan sebuah evolusi dalam vaksinasi khususnya untuk ayam ras petelur dengan sebuah konsep yang dinamakan Less is More,” ungkap Jessica.
Permasalahan produksi telur di lapangan memang masih menghantui hingga saat ini, yang pada akhirnya ternak tidak mampu mengeluarkan potensi genetik terbaiknya. Apalagi dengan tingginya frekuensi program vaksinasi konvensional yang bisa meningkatkan stres sekaligus kejadian penyakit lewat perantara pekerja kandang yang melakukan vaksinasi,” jelas Jessica.
Permasalahan tersebut bisa ditanggulangi dengan konsep Less is More yang mampu mengurangi proses handling di lapangan sehingga ayam lebih nyaman dan tingkat stres berkurang. “Terutama pada periode 1-3 minggu yang sangat krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan ayam layer. Selain itu, untuk pullet sendiri pada waktu 15-16 minggu juga merupakan periode krusial, yang sangat berpengaruh terhadap produksi telur di masa produksi,” ujar Jessica.
Untuk itu, Ceva menghadirkan range produk inovasi hatchery unggulan untuk mencegah penyakit utama pada untuk ayam layer, seperti ND, IBD dan IB. Vaksin unggulan untuk menangani kasus ND yaitu Vectormune® ND + Rispens yang mampu untuk mengontrol tingkat kematian lebih baik, mengurangi jumlah unggas yang terserang virus tantang dan juga menurunkan total shedding virus dibandingkan dengan program vaksinasi yang menggunakan ND killed di minggu pertama. Vectormune® ND + Rispens adalah vaksin HVT yang sifatnya terus bereplikasi seumur hidup ayam sehingga memberikan imunitas seumur hidup ayam. Dari eksperimen yang dilakukan oleh tim riset Ceva Phylaxia menyatakan bahwa Vectormune® ND + Rispens mampu memberikan perlindungan hingga umur 72 minggu di area dengan area challenge ND yang rendah. Dan tentunya hal tersebut adalah goal Ceva kedepannya untuk menurunkan challenge ND di Indonesia setelah menggunakan Vectormune® ND secara berkesinambungan.
Kemudian dalam menangani kasus penyakit IBD, setelah unggul dengan produk imun kompleks IBD di broiler yaitu Transmune®, kali ini Ceva menghadirkan Novamune® yang merupakan vaksin imun kompleks IBD dari strain SYZA 26 yang terikat dengan antibodi spesifik dan dikhususkan untuk layer. Novamune® telah dirancang khusus agar aman dan akan dirilis sesuai dengan penurunan antibodi asal induk (MAB) sehingga kedepannya tidak perlu lagi melakukan vaksinasi IBD secara konvensional di farm dengan menghitung waktu yang tepat untuk vaksinasi gumboro menggunakan rumus Deventer.
Cevac IBird®, merupakan vaksin yang melengkapi perlindungan terhadap tantangan berbagai virus IB varian di layer komersial. Vaksinasi dengan IB live yang dilakukan sedini mungkin bertujuan untuk perlindungan di awal kehidupan ayam dan sebagai priming yang akan memaksimalkan kerja dari booster vaksin IB live dan killed selanjutnya. Adv