Pada budi daya ayam petelur (layer) seringkali ditemukan permasalahan yang multi faktor, dan harus diselesaikan bersama, seperti teknis pengelolaan yang kurang tepat, persaingan pasar, harga yang tidak stabil dan manajemen yang kurang baik. Permasalahan yang ada nyaris dialami oleh peternakan layer yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Maka dari itu, untuk mendapatkan solusi yang tepat dan konprehensif. Para stakeholder perunggasan saling bersinergi untuk membantu para peternak layer di Indonesia.
Atas dasar tersebut, PT BEC Feed Solutions Indonesia, PT Big Dutchman Agriculture Indonesia, dan Hendrix Genetics bersama-sama menyelenggarkan tur seminar bertajuk “Layer Solution Day 2022”. Blitar menjadi kota pertama penyelenggaraan kegiatan tersebut bertempat di Hotel Tugu, Blitar (10/10), kemudian kota selanjutnya berlokasi di Hotel The Zuri, Palembang (12/10) dan Hotel Santika, Medan (13/10).
Menurut Anjas Morodiono selaku National Sales Manager, PT BEC Feed Solutions Indonesia mengatakan bahwa keberhasilan dalam beternak layer tidak bisa hanya mempertimbangkan satu sisi saja. Untuk mencapai keberhasilan dalam budi daya layer ini membutuhkan sinkronisasi atau sinergi antara manajemen pakan, pembibitan dan manajemen kandang.
“Oleh karena itu, dalam acara ini kami bermaksud untuk melakukan sinkronisasi agar semua optimal, dan produksi menjadi lebih efisien. BEC Feed Solutions menunjang pada pakan, Big Dutchman pada manajemen dan teknologi di kandang dan Hendrix Genetics dari bibit layer,” ujar Anjas.
Tujuan dari penyelenggaraan acara kali ini adalah untuk branding company, lebih dekat dengan customer, hingga penyampaian detail technical and support customer. Menurut Presiden Direktur PT BD Agriculture Indonesia, Eric Borren, yang turut hadir pada acara ini mengungkapkan industri perunggasan memang sedang dilanda kesusahan. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan agar bisa bangkit kembali. Para stakeholder pun dapat bersama-sama saling bersinergi agar budi daya layer ini menjadi lebih baik dan dan lebih efisien.
Sementara itu Henry Hendrix, Direktur Hendrix Genetics Indonesia mengungkapkan bibit ayam layer sudah berkembang sedemikian rupa, maka dibutuhkan berbagai macam dukungan dan berbagai langkah strategis agar bibit yang digunakan bisa efisien dalam berproduksi.
Dirinya menyebutkan genetik ayam petelur ketika tahun 1960 terbilang produksinya rendah, per ekor ayam hanya mampu menghasilkan 205 butir per tahun. Namun, akhir – akhir ini genetik ayam petelur sudah berkembang luar biasa, per ekor ayam mampu menghasilkan 470 butir per siklus hidup 100 minggu.
“Kami terus melakukan pengembangan dan perbaikan agar mendapat produksi terbaik dan kualitas telur terbaik pula, termasuk bagaimana tingkat persistency/ daya tahan produksi, livability/ daya hidup sangat baik. stabilisasi berat telur dan kualitas kerabang yang optimal,” ujar Henry.
Saling bersinergi
Masih dalam acara yang sama, Mega Saragi selaku Nutritionist PT BEC Feed Solutions Indonesia dalam paparannya menjelaskan bahwa pembuatan formulasi pakan yang tepat harus mencakup proses yang tepat pula. Oleh karena itu penting untuk mengetahui kualitas nutrien tiap bahan baku termasuk premix. Ia juga menjelaskan pembuatan formulasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing peternakan termasuk kondisi ayam dan manajemen.
“Manajemen pengaturan nutrisi sangat penting dan dibutuhkan untuk mengatasi heat stress. Strategi menangani heat stress dilihat dari spesifikasi pengaturan nutrient mencakup beberapa hal diantaranya penurunan atau kenaikan kebutuhan energi, pemilihan bahan baku, fokus kepada asam amino dan regulasi vitamin C serta keseimbangan elektrolit. Penurunan spesifikasi energi dilakukan saat lingkungan pemeliharaan diatas suhu ideal pemeliharaan ayam. Pada suhu diatas 27OC atau saat terjadi panting kebutuhan energi akan naik kembali. Penggunaan minyak sebagai sumber energi juga penting. Kondisi ini akan berhubungan dengan heat increment, feed intake stimulation, penambahan linoleic acid, dimana penambahan ini berdampak pula pada peningkatan bobot telur. Pada kondisi ini pula pemberian protein fokus pada essential amino acid bukan ke intake total protein,” ucap Mega.
Poin penting lainnya, penggunaan premix yang tepat dan efektif untuk melengkapi formulasi seperti menggunakan Smart Premix. Produk ini mengandung amino acid, vitamin, mineral, pendetoksi mycotoxin multi aksi karena mengandung agen pengadsorpsi dan deaktivasi atau biotransformer,” jelas Mega.
Ia pun mengungkapkan bahwa Smart Premix mengandung alternatif pengganti Antibiotik Growth Promotor (AGP). Didukung oleh kandungan organic acid, essential oil dan protease yang mana merupakan kombinasi yang dapat memberi keuntungan, melalui matrix technology, dan meningkatkan kesehatan saluran pencernaan serta dapat meningkatkan performa.
Selain itu, penggunaan Smart Premix dapat membantu saving cost biaya pakan melalui penggunaan multi enzim. Sebab, dalam premix ini sudah mengandung berbagai macam enzim yang mempunyai spektrum aktivitas yang luas, sehingga mampu untuk mengoptimalisasi biaya pakan, terlebih lagi dosis penggunaan premix ini yang terbilang kecil. Namun, mampu untuk mengoptimalisasi performa ayam.
BEC Feed Solutions menjamin pelayanan dan produk yang dipasarkannya, melalui 1) Keamanan, sistem persiapan bahan baku yang presisi dan spesifik untuk menghindari kesalahan proses. 2) Kualitas, semua produk yang didistribusikan memenuhi spesifikasi dan kualitas yang ditentukan. 3) Keterlacakan, semua bahan baku dan bahan jadi teridentifikasi dengan sistem barcode yang dapat dilacak untuk memastikan bahwa karakteristik produk dikontrol dan diverifikasi. 4) Konsistensi, semua kontrol dilakukan secara cermat untuk memastikan konsistensi tiap proses dan produk.
“Kami pun memberikan pelayanan analisis NIR instan (in-vivo based data), formulasi pakan yang least cost dan efektif, dimana formulasi ini berdasarkan kesesuaian kondisi masing- masing peternak dan didukung technical service yang bertugas untuk memberi layanan teknis di lapangan,” ujar Mega.
Pemateri selanjutnya, Tommy Lim, Product Sales Manager, Climate & Product Sales Management Big Dutchman, mengungkapkan bahwa ayam sangat rentan mengalami heat stress, ayam mengeluarkan panas dengan dengan cara penguapan air dari sistem pernapasannya. Menurutnya dalam memelihara ayam, kondisi kandang harus memiliki ventilasi yang baik. Sebab, sistem ventilasi yang tidak memenuhi spesifikasi akan berpengaruh pada kualitas produksi.
“Pergerakan angin yang bagus sangat penting yang mampu untuk memindahkan kelembaban, dan panas dari badan ayam. Aksi yang mengambil panas dari tubuh ayam melalui kecepatan angin itu disebut dengan wind chill effect,” tegasnya.
Dalam kesempatan kali ini, Big Dutchman memperkenalkan beberapa produk unggulannya yang dapat membantu permasalahan di kandang. Ia menyebutkan bahwa AirMaster EVO yang merupakan variable speed fan atau inverter, pada sebuah percobaan yang membandingkan AirMaster EVO dan produk kipas lain didapatkan bahwa penggunaan AirMaster EVO ternyata menghemat energi sebanyak 40, periode pengembalian dana hanya membutuhkan waktu 2 – 3 tahun saja, jika dibandingkan dengan fan on/off biasa, dan harganya juga sangat bersaing jika dibandingkan dengan variable speed fan yang lain.
“Produk ini tidak hanya menghemat energi ,produk ini juga membantu ventilasi, yang berguna untuk mengatur kecepatan angin yang lebih baik bila dibandingkan dengan fan on/off biasa,” tambahnya.
Ia juga menerangkan tentang Compo Tower yang berfungsi untuk mengolah kotoran ayam menjadi pupuk. Keuntungan menggunakan compo tower adalah sistem komposting versi vertikal dengan kualitas yang terbaik dengan 4 – 5 kali proses, bisa menghasilkan kompos setiap hari, sangat mudah dioperasikan, menggunakan pendekatan modular sehingga mudah masuk dan berkembang serta sudah memiliki sertifikat myHIJAU.
Erwan Julianto selaku Technical Service Manager Indonesia & Philippines di ISA -BV. Hendrix Genetics. Mengungkapkan bahwa kemajuan genetik pada ayam layer modern telah membuat ayam layer yang lebih tinggi produksinya dan lebih panjang siklusnya. Per ekor ayam bisa menghasilkan sampai 470 butir per siklus hidup sampai 100 minggu bahkan lebih.
Oleh karena itu dibutuhkan pondasi dan rangka (frame) yang kuat agar potensi genetik ayam layer modern bisa muncul. Kalau belum tercapai potensinya,sebaiknya melakukan evaluasi, salah satunya adalah memperhatikan titik kritis pemeliharaan ayam layer, titik kritis ini kalau tidak tercapai maka efeknya sampai akhir.
“Kalau tidak dilakukan atau salah,tidak bisa dimulai lagi dari awal,yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi diujung, memang dalam pemeliharaan ayam dari awal DOC sampai akhir memang penting. Namun, ada yang paling kritis,” tegas Erwan.
Menurutnya ada sejumlah titik kritis yang harus diperhatikan seperti berat badan dan uniformity harus dari awal,berat badan yang tidak standar akan mengakibatkan konsekuensi seperti kalau berat badan yang over akan berakibat pada feed intake rendah saat memulai produksi, kenaikan berat telur lambat, puncak produksinya rendah.
Erwan menjelaskan ada rumus pemeliharaan layer yakni 5 – 16 – 300. Artinya 5 minggu, 16 minggu dan 300 gram kenaikan berat badan dari sexual maturity ke physical maturity. Menurutnya masa 5 minggu adalah masa pertumbuhan organ vital seperti sistem pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan sifatnya critical. Jika terjadi gangguan kesehatan pada minggu tersebut, pencapaian target berat badan terganggu, dan akan sulit untuk diperbaiki. Sebab sampai umur 5 – 6 minggu perkembangan organ vital hampir selesai, walaupun terkejar berat badan di minggu minggu setelahnya, hasil di produksi akan berbeda (kurang optimal).
Selanjutnya, Erwan juga mengingatkan pada fase developer (sekitar 10-15 minggu) yang merupakan fase training, ayam sengaja diberikan energi dan protein lebih rendah agar makan lebih banyak (kapasitas intake berkembang), fase ini untuk mengembangkan sistem pencernaan agar tumbuh dengan optimal. Periode training sangat penting dalam pencapaian feed intake saat start produksi yang harus naik 40%.
“Periode ini penting sekali, dimana kita menginginkan ayam yang kuat dalam feed intake. Sebab, tidak mungkin mendapatkan ayam yang mampu untuk mempunyai feed intake bagus, kalau tidak pernah melatih saat fase pullet untuk makan banyak,” tegasnya.
Ia juga menegaskan tentang pentingnya masa prelayer. Masa ini hanya dua minggu namun terbilang kritis. Sebab pada fase prelayer problemnya seringkali di perkembangan bone matrix yang merupakan tempat deposit kalsium, jika fase ini tidak terbentuk dengan sempurna, maka akan berpengaruh pada pembentukan kerabang telur pada nantinya. Penyebabnya yaitu kalsium tidak bisa diproduksi oleh ayam, sumbangan kalsium hanya dari deposit medullary bone, yang dibentuk saat prelayer, dan dari pakan yang dimakan. “Prelayer membentuk matrik dalam tulang, seperti laci- laci dalam lemari, kalsiumnya dalam laci-laci, kalau prelayer tidak bagus, maka nantinya bisa kekurangan kalsium. Prelayer merupakan pakan 10 hari sebelum telur pertama, yakni antara 15 – 16 minggu tergantung telur pertamanya,” pungkas Erwan. Adv