Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Cikole, Lembang, Jawa Barat bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat menggelar acara bincang santai bertajuk “Bincang Cikole Season 2 Vol.5” pada Selasa, (24/05).
Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Cikole, Lembang, Jawa Barat bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat menggelar acara bincang santai bertajuk “Bincang Cikole Season 2 Vol.5” pada Selasa, (24/05).
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berdasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 2014, bahwa sumber daya genetik (SDG) merupakan kekayaan bangsa dan dikuasai negara untuk bisa dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat. Hal ini membuat SDG harus dikelola, dimanfaatkan, dilestarikan, serta dibudidayakan secara optimal.
Sehubungan dengan hal tersebut, Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Cikole, Lembang, Jawa Barat bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat menggelar acara bincang santai bertajuk “Bincang Cikole Season 2 Vol.5” pada Selasa, (24/05). Acara yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dan juga disiarkan dalam Live YouTube kali ini mengangkat tema terkait “Mengenal dan Pola Pengembangan Sumber Daya Genetik Lokal Ayam Sentul Asli Jawa Barat”.
Drs. H. Mohamad Arifin Soedjayana., M.M., selaku Kepala DKPP Provinsi Jawa Barat dalam sambutannya mengatakan bahwa akhir-akhir ini dunia peternakan sedang banyak ditimpa ujian. Namun demikian, dengan banyaknya ujian yang datang, ia berharap bisa menjadi sebuah motivasi untuk lebih baik lain ke depannya.
“Saat ini kita memang sedang diuji, Setelah adanya pandemi covid-19, kemudian muncul lagi wabah kasus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku). Saya berharap ini bukan menjadi hal yang menurunkan semangat kita. Namun justru meningkatkan semangat kita untuk bagaimana mengembangkan genetik lokal. Ini harusnya bisa menambah motivasi kita untuk bisa lebih baik lagi, dalam rangka menangani kegiatan-kegiatan peternakan, khususnya di Jawa Barat, dan umunnya di Nasional,” terang Arifin.
Arifin juga menjelaskan bahwa sejauh ini Jawa Barat, berdasarkan keputusan Kementerian Pertanian, memiliki 4 kelompok sumber daya genetik lokal, yaitu itik cihateup, itik ambon, ayam pelung, dan ayam sentul. Dan ke depan Arifin melihat potensi ayam sentul ini sangat cemerlang.
“Dengan potensi ayam sentul yang ada, perlu kita sosialisasikan lagi kepada masyarakat bahwa ayam sentul ini memang menjadi potensi lokal kita di Jawa Barat. Dengan harapan bisa lebih meningkatkan lagi pengembangannya. Saat ini juga terlihat tren perpindahan konsumsi masyarakat untuk lebih memilih ayam lokal. Dan ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu indikator, bagaimana usaha bisnis ayam lokal bertumbuh, dan para peternak bisa melakukan pengembangan ayam sentul ini,” ucap Arifin. 
Kepala Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Unggas (BPPTU) Jatiwangi, Ahmad Gufron, S.Pt., M.Si, yang hadir sebagai narasumber mengatakan bahwa masih banyak orang yang keliru tentang asal mula ayam sentul ini. Karena namanya ayam sentul, banyak yang mengira bahwa ayam ini berasal dari daerah Sentul, Bogor. Padahal ayam sentul ini adalah ayam lokal khas dari daerah Ciamis, Jawa Barat.  Selain itu ayam sentul ini terkenal dengan ayam jagoan.
Lebih jauh Gufron mengatakan bahwa sebagai balai pembibitan, BPPTU Jatiwangi punya mimpi untuk bisa menjadi fasilitator dalam pengolahan dan penyediaan bibit, dan perkembangan teknologi untuk ayam lokal. Yang didalamnya termasuk ayam sentul.
“Kita punya dua konsen terkait perbibitan. Kita ingin meningkatkan produksi ternak, dengan menyediakan DOC comersial stock. Dan yang kedua kita ingin melestarikan galur-galur strain ayam lokal. Ini yang kemudian menjadi landasan kami untuk melakukan konservasi terhadap ayam sentul,” tuturnya.
Gufron mengatakan bahwa ayam sentul ini mempunyai beberapa keutamaan. Ayam sentul bisa menjadi tipe pedaging dan juga tipe petelur. Dan yang lebih khas lagi, bahwa dagingnya itu lebih kenyal. Kemudian kalau ditarik ke belakang, menurutnya zaman dahulu ayam sentul ini terkenal dengan ayam jamuan raja. Hal ini berarti ayam ini disajikan untuk orang-orang istimewa atau dalam situasi yang istimewa atau special. Dengan latar belakang itu, ia ingin saat ini ayam sentul ini bisa menjadi jamuan istimewa untuk banyak orang.
“Pada tahun 2012 populasi ayam sentul semakin menurun. Sedangkan ayam sentul ini sudah menjadi amanat kita. Bahwa ayam sentul adalah rumpun ayam lokal asli Indonesia yang perlu dikelola dan dilestarikan, dengan cara pembudidayaan dan pemuliaan. Pada tahun 2013 sudah kita mulai dan sampai saat ini sudah sampai F6. Kemudian karena kita sudah punya rumpunnya, kita punya bangsanya, lalu saat ini kita sedang konsen tentang pure line-nya, kita sedang membuat galur murninya,” tutur Gufron.
Masih dalam acara yang sama, Gilang C. Aditiya, S.Pt., M.Si., selaku Kepala Seksi Pembibitan BPPTU Jatiwangi, yang juga hadir sebagai narasumber, mengungkapkan bahwa saat ini BPPTU memang sedang konsentrasi untuk pengembangan ayam sentul ini. Dirinya mengakui bahwa memang ada banyak sekali keunggulan dari ayam lokal khas Jawa Barat yang satu ini. 
“Jenis ayam sentul yang saat ini dikembangkan di di balai kita ada ayam sentul kelabu atau abu dan ayam sentul debu ini tipe dwiguna, yaitu untuk tipe petelur dan tipe pedaging. Untuk usia produktif ayam sentul ini sudah mulai bertelur di umur 20-22 minggu. Dan puncaknya mulai umur 24 minggu ke atas, sampai usia 80 mingu, ingin sudah inefisien. Disisi lain, ayam sentul ini mempunyai banyak sekali keunggulan. Mulai dari dagingnya yang lebih kenyal, kandungan gizinya tinggi, lemaknya juga rendah, dan konsumsi daging dan telur ayam sentul ini juga bisa mengatasi stunting. Harapannya ayam sentul ini bisa dibudidayakan dan dilestarikan dengan semaksimal mungkin,” ungkap Gilang.