Oleh : M Faiq Irfan Maulana*
Secara geografis, Timur Tengah merupakan wilayah yang terletak di Asia Barat dan memanjang hingga ke wilayah Afrika. Tidak ada daftar pasti negara-negara Timur Tengah. Namun banyak sumber yang mengatakan bahwa kawasan ini terdiri dari 17 negara. Selain kekayaan minyak buminya, kawasan Timur Tengah juga memiliki sejarah panjang terkait peradaban agamanya. Banyak agama besar berasal dari wilayah ini, seperti Kristen, Yudaisme dan tentu saja Islam. Agama Islam adalah agama yang paling banyak dianut oleh penduduk di mayoritas kawasan Timur Tengah.

Daging ayam menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat di Timur Tengah. Kendati demikian, mayoritas negara di kawasan ini harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan yang terus mengalami peningkatan.

Dari sisi ekonomi, kekuatan perekonomian Timur Tengah sangatlah bervariasi. Pasalnya ada beberapa negara yang sangat kaya, sementara yang lain sangat miskin. Seperti Arab Saudi yang termasuk salah satu negara terkaya, yang mana negara ini merupakan salah satu negara di Timur Tengah dengan sumber daya minyak yang luar biasa, sehingga sektor ekonominya ditopang oleh bidang tersebut. Daerah lain di Timur Tengah, seperti Turki dan Israel, memiliki perekonomian yang jauh lebih beragam seperti tekstil, peternakan, pertanian, kapas, dan perbankan.
Melansir laman www.worldpopulationreview.com, menjelaskan bahwa pada tahun 2023 kawasan Timur Tengah diperkirakan memiliki populasi lebih dari 483 juta orang yang tersebar di 17 negara. Angka populasi ini sekitar 6,03% dari total populasi global. Kemudian masih dari sumber yang sama, populasi Timur Tengah diperkirakan akan terus tumbuh pesat di masa mendatang. Di sisi lain, perkembangan jumlah penduduk ini tentunya diikuti dengan tantangan dalam pemenuhan akan pangan masyarakatnya.
Dari segi pangan asal hewan, produk perunggasan mempunyai peran penting bagi negara-negara di Timur Tengah. Hal ini tergambar dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), menunjukkan perkiraan tingkat konsumsi/kapita/tahun daging ayam negara-negara di Timur Tengah pada tahun 2023, di antaranya Israel 65,8 kg/kapita/tahun ; Saudi Arabia 34,7 kg/kapita/tahun ; Iran 24,1 kg/kapita/tahun ; Turki 20,1 kg/kapita/tahun ; dan Mesir 11,7 kg/kapita/tahun. Tingkat konsumsi daging ayam masyarakat Timur Tengah yang cukup tinggi ini tak mayoritas negara di kawasan ini merupakan penganut agama Islam, sehingga tidak ada larangan agama dalam mengonsumsi jenis daging ini.
Produksi dan perdagangan daging unggas
Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), pada tahun 2020, 17 negara di kawasan Timur Tengah mampu memproduksi 8,2 miliar ton daging ayam, yang mayoritas berasal dari ayam ras pedaging. Angka ini mendominasi produksi daging unggas di kawasan Timur Tengah dengan proporsi 96,5% dan menyumbang sekitar 6,9% dari produksi daging ayam secara global. Selain itu juga terdapat beberapa produksi unggas lain, seperti kalkun, itik dan angsa, namun produksinya tidak signifikan.
Tabel 1. Produksi daging unggas di Kawasan Timur Tengah berdasarkan jenisnya
Meat Type
Production (1000 ton)
Share (%)
Chicken
8,210.1
96.5
Turkey
170.6
2.0
Duck
77.1
0.9
Goose
31.5
0.4
Other
15.0
0.2
Total
8,504.3
100.0
Sumber : Database Food and Agriculture Organization
Dalam dinamikanya, perkembangan sektor perunggasan di Timur Tengah turut didorong oleh berbagai perusahaan besar yang ada di berbagai negara di kawasan tersebut. Berdasarkan Poultry Trends WATT Global, pada tahun 2022 perusahaan Arab Company for Livestock Development (ACOLID) menyembelih 603,4 juta ekor broiler/tahun. Yang mana ACOLID merupakan perusahaan saham gabungan yang berbasis di Arab Saudi dan dimiliki oleh 12 negara Arab. Melalui beberapa anak perusahaan, ACOLID menjelma sebagai perusahaan terintegrasi dan bergerak di bidang pembibitan, feedmill, produksi hingga pengolahan. Posisi kedua ditempati oleh Al-Watania yang mampu menyembelih sekitar 300,0 juta ekor broiler/tahun. Sama halnya dengan ACOLID, perusahaan ini juga berpusat di Saudi Arabia. Pada gambar 1. ditunjukkan produksi broiler di Timur Tengah.
Kemudian, apabila dilihat dari produksi daging ayam setiap negara, Iran (27%) dan Turki (26%) merupakan negara dengan produksi daging ayam terbesar di Kawasan Timur Tengah. Disusul dengan Mesir dan Saudi Arabia menempati posisi berikutnya dengan porsi produksi berturut-turut 16,3% dan 11,0%. Sedangkan Israel, sebagai negara yang mempunyai tingkat konsumsi daging unggas/kapita tertinggi dengan 65,8 kg/tahun, hanya menempati urutan kelima dalam hal produksi dengan proporsi 7%.
Disisi lain, berbicara terkait supply demand daging ayam, nampaknya mayoritas negara di kawasan Timur Tengah masih banyak bergantung dari negara luar dalam pemenuhan daging ayamnya. Hal ini seperti artikel yang ditulis oleh Hans-Wilhelm Windhorst, seorang Profesor Tamu di University of Veterinary Medicine Hannover, Jerman dengan judul “Patterns of the poultry industry in the Middle East and Africa (MEA) region”. Dalam tulisannya Hans menyebutkan bahwa kecuali Turki dan Iran, negara-negara di Timur Tengah tidak mampu memenuhi peningkatan permintaan daging ayam dengan produksi dalam negeri. Dalam artian sebagian besar negara di Timur Tengah harus mengimpor daging ayam untuk memenuhi permintaan dalam negeri.
Dalam artikelnya, Hans menjelaskan bahwa total ekspor daging ayam di kawasan Timur Tengah pada tahun 2020 sebesar 692,4 ribu ton. Dari angka ini Turki menjadi negara yang mencatatkan volume ekspor terbesar (75,4%) dan diikuti oleh Iran (7,2%). Selanjutnya yang menarik adalah beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman mengekspor beberapa impor daging ayamnya ke negara-negara yang berdekatan. Sedangkan untuk volume impor daging ayam Timur Tengah memperlihatkan jumlah yang lebih besar, yakni berkisar 2,2 miliar ton selama tahun 2020. Dari jumlah tersebut, Arab Saudi (27.8%) menempati posisi teratas sebagai negara yang paling besar melakukan impor daging ayam, disusul oleh Uni Emirat Arab (21.4%) dan Irak (19.3%).
Tabel 2. Produksi dan perdagangan daging ayam di kawasan Timur Tengah
Country
Poultry meat production
(1000 ton)
Chicken meat production (1000 ton)
Chicken meat exports
(1000 ton)
Chicken meat imports
(1000 ton)
Iran
2,230.9
2,219.0
50.0
3.0
Turkey
2,201.1
2,138.5
522.3
44.4
Egypt
1,468.9
1,339.1
0.6
19.7
Saudi Arabia
900.7
900.0
31.5
617.4
Israel
664.9
578.2
0.1
Jordan
200.6
200.0
6.5
49.1
Yemen
194.5
194.5
139.7
Iraq
156.5
156.5
2.1
429.0
Syria
126.6
124.8
13.1
Lebanon
126.0
126.0
1.9
1.6
Kuwait
62.6
62.6
4.8
134.8
U.A.E.
51.2
51.2
62.2
474.9
Palestine
42.7
42.7
8.6
Qatar
34.8
34.8
120.6
Cyprus
26.7
26.5
0.8
8.8
Bahrain
9.1
9.1
0.3
62.2
Oman
9.3
96.5
MEA region
8,497.8
8,203.7
692.4
2,223.4
Sumber : Database Food and Agriculture Organization
Masih dalam sumber yang sama, dijelaskan bahwa Brasil merupakan negara utama sebagai tujuan impor daging ayam berbagai negara di Timur Tengah. Sedangkan Amerika Serikat, sebagai salah satu produsen daging ayam terbesar di dunia memperoleh pangsa pasar yang lebih tinggi di Uni Emirat Arab. Dengan dinamika yang terjadi, Hans menilai bahwa impor daging ayam akan di Timur Tengah akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya beli yang semakin tinggi akan mengakibatkan permintaan yang terus meningkat. *Alumni Al-Azhar University, Kairo, Mesir
Artikel ini merupakan rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com