Oleh : M Faiq Irfan Maulana*

Dengan kontribusi yang besar terhadap perekonomian negara, nyatanya industri perunggasan Mesir masih dihadapkan dengan berbagai persoalan yang cukup signifikan.

Industri perunggasan Mesir dianggap sebagai salah satu usaha produksi pertanian yang paling penting. Berdasarkan data yang dirilis oleh GAIN-USDA, industri ini menaungi 10.731 peternakan berlisensi, dari total 60.000 entitas yang, ada, dengan investasi mencapai EGP 100 miliar ($ 5,09 miliar). Pada tahun 2021, industri perunggasan Mesir menghasilkan 1,5 miliar ayam pedaging, dan 13 miliar butir telur. Dengan produksi tersebut, Mesir telah berhasil mencapai swasembada telur dan 95% swasembada daging ayam.

Sementara itu menurut laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Informasi Kementerian Pertanian dan Reklamasi Lahan (MALR), industri perunggasan di Mesir telah membuka lapangan pekerjaan untuk sekitar 3 juta pekerja dengan jumlah total perusahaan perunggasan di negara ini sekitar 38.000, termasuk peternakan, pabrik pakan, rumah pemotongan hewan, dan outlet yang menjual obat-obatan hewan dan vaksin. Di sisi lain menurut OECD-FAO pada periode 2017-2026, total konsumsi unggas di Mesir akan meningkat dari 993 ribu ton di 2017 menjadi 1.156 ribu ton di 2026, dengan konsumsi/kapita berada di kisaran angka 9,2 kilogram selama periode tersebut. Artinya, total volume daging unggas yang dikonsumsi di 2026 akan meningkat sebesar 14% dari total volume yang dikonsumsi di 2017. Menurut para ahli, konsumsi tahunan masih bisa meningkat dari 3% sampai dengan 7 % setiap tahunnya. 

Persatuan Produsen Unggas (UPP) menguraikan bahwa ke depan Mesir akan meningkatkan investasi di sektor ini, untuk dapat memproduksi 2 miliar ayam pedaging pada tahun 2030, serta menggandakan produksi telur ayam. Hal ini juga didukung oleh Kementerian Pertanian dan Reklamasi Lahan (MALR) yang memberikan kemudahan perizinan untuk proyek-proyek industri perunggasan. Selain itu, dalam pengembangan industri perunggasan, pemerintah telah mengalokasikan  lahan gurun di Mesir bagian barat untuk  investasi baru di perunggasan dengan nilai mencapai EGP 1,5 miliar (atau senilai dengan $90,9 juta). Investasi ini ditujukan untuk pengembangan usaha pembibitan GPS dengan populasi 100 ribu, PS 4,2 juta dan 62 juta broiler setiap tahunnya.

Kendati industri perunggasan Mesir telah berkembang sedemikian rupa dengan peran besar yang ditorehkannya, namun berbagai gejolak dan tantangan masih saja terjadi di tahun ini. Setelah di tahun 2023 persoalan tingginya harga pakan membuat para pelaku usaha menjerit, nyatanya di tahun ini persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai. Di sisi lain, meningkatnya importasi daging beku dari luar negeri dinilai telah memberikan tekanan bagi para peternak ayam lokal. 

Tantangan industri pakan

Di awal tahun 2024, Mesir tengah menghadapi kesulitan stok daging ayam akibat beberapa perusahaan gulung tikar sejak dimulainya krisis industri pakan di negara itu pada tahun 2022. Berdasarkan laman www.allaboutfeed.net diberitakan bahwa Abdel Aziz Al-Sayed, Head of the poultry division at the Cairo Chamber of Commerce, mengungkapkan bahwa saat ini Mesir mengandalkan impor untuk memenuhi 80% kebutuhan jagung dan 95% kebutuhan kedelai. Dimana selama beberapa tahun terakhir, impor bahan pakan ke Mesir terus mengalami pasang surut yang secara langsung berdampak pada industri pakan di negara ini.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com