POULTRY INDONESIA, Surabaya – Limbah tak selalu menjadi masalah. Bagi Guru Besar, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof. Mohammad Anam Al Arif, drh., MP, limbah justru bisa menjadi solusi untuk memaksimalkan bahan baku pakan yang sudah ada. Salah satunya adalah memanfaatkan limbah Rumah Potong Hewan (RPH), khususnya isi rumen, sebagai sumber mikroorganisme.
Menurutnya, di dalam rumen terdapat banyak sekali mikroba yang tidak berbahaya. Dalam satu gram isi rumen, terdapat bakteri sebanyak 10-100 milyar, protozoa 4-6 juta, dan jamur sekitar 1 juta.
“Dan ketika mikroba-mikroba tersebut memperbanyak diri, mereka berkembang dengan cepat dalam jumlah yang sangat besar. Dimana mikroba ini berkembang secara deret ukur. Dari 100 milyar bisa menjadi 200 milyar, 400 milyar, dan seterusnya,” jelasnya saat orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar dalam bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak di Rektorat Unair, Surabaya, pada Selasa (25/2),
Anam melanjutkan, semua itu hanya berasal dari satu gram isi rumen. Padahal, isi rumen bisa mencapai 70-100 kg. Bayangkan berapa triliunan mikroba yang ada. Ia juga menekankan bahwa setiap mikroba mengandung protein 60-70%, yang merupakan protein murni yang kaya akan asam amino. Ini sangat berharga untuk pakan ternak.
Anam menjelaskan lebih lanjut bahwa isi rumen ini kemudian difermentasi dengan mikroba isi rumen itu sendiri, ditambah dengan feed additive. Proses fermentasi dilakukan secara anaerob selama lima hari, setelah itu dikeringkan dan digunakan sebagai campuran pakan puyuh dengan variasi 5%, 10%, dan 15%.
“Pada penelitian kali ini, kami menemukan bahwa produksi telur tertinggi terjadi pada penggunaan isi rumen sebanyak 5%. Sementara itu, penggunaan isi rumen sebanyak 15% justru menghasilkan telur dengan berat paling tinggi, warna kuning telur yang paling bagus, cangkang yang lebih kuat, dan kualitas kesegaran (HU) yang juga paling baik,” terangnya.
Menurut Anam, penggunaan isi rumen sebagai campuran pakan puyuh sangat layak untuk diterapkan. “Ini mampu menghemat pakan puyuh hingga 15%, bahkan dengan bonus peningkatan tingkat produksi telur puyuh yang semakin tinggi,” tandasnya.