Menjaga litter tetap kering sama artinya dengan menjaga kualitas udara kandang, menjaga ternak dari agen penyakit dan menjaga performa produksi ternak. 
Dalam sistem pemeliharaan broiler, perhatian peternak kerap terfokus pada pakan, bibit, dan manajemen kesehatan, sementara aspek lingkungan kandang sering kali luput dari perhatian. Padahal, kualitas lingkungan kandang menjadi fondasi penting yang menentukan kenyamanan ayam sekaligus keberhasilan produksi secara keseluruhan.
Salah satu komponen lingkungan kandang yang memiliki peran krusial namun kerap dianggap sepele adalah alas kandang atau litter. Pengelolaan litter yang tidak tepat bukan hanya memicu masalah teknis di kandang, tetapi juga dapat berdampak langsung pada performa produksi broiler, peningkatan stres, hingga tingginya risiko gangguan kesehatan yang pada akhirnya berujung pada penurunan efisiensi usaha. Di lapangan, litter bukan sekadar alas kandang, melainkan penjaga keseimbangan mikroklimat kandang, mulai dari suhu, kelembapan, hingga kadar amonia.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Idris Irkham Romadlon selaku Supervisor Breeding Farm PT Mitra Berlian Unggas (MBU) pada Jumat (31/1), secara teknis litter berfungsi sebagai penyerap air dari feses dan air minum yang tumpah, sekaligus menjadi lapisan isolasi antara ayam dan lantai kandang. “Litter itu fungsinya membantu menjaga suhu tubuh ayam, terutama pada fase awal pemeliharaan. Kita bisa lihat litter yang berkualitas baik, ia mampu menyerap air dengan cepat, bobotnya ringan, tidak beracun, mudah didapat, dan bisa kering dalam jangka waktu lama.”
Litter Kering, Cermin Kesehatan Ayam
Kepada Tim Poultry Indonesia, ia menegaskan bahwa kondisi litter bisa mencerminkan kesehatan ayam. Menurutnya, jika litter kering, pertumbuhan bakteri pengurai bisa ditekan, udara kandang tetap segar, dan amonia lebih terkendali. Ayam juga lebih nyaman bergerak dan perilakunya normal. 
Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Najibulloh (2020) yang menunjukkan bahwa litter basah berkontribusi langsung terhadap peningkatan gas amonia di kandang, yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mata ayam. 
“Selain berdampak pada kualitas udara, litter juga langsung terasa dalam efisiensi produksi. Litter yang sehat membantu mencegah penyakit kaki seperti pododermatitis serta mengurangi stres akibat amonia, sehingga energi ayam lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan dan produksi,” jelasnya. 
Sebaliknya, litter basah menjadi salah satu faktor risiko munculnya berbagai penyakit. Dalam praktik lapangan, kondisi litter yang terlalu lembap sering dikaitkan dengan kasus koksidiosis, colibacillosis, gangguan pernapasan seperti CRD, gangguan mata, hingga bumble foot. Secara biologis, litter basah memicu pertumbuhan bakteri, jamur, dan parasit, serta meningkatkan populasi serangga yang berperan sebagai vektor penyakit. 
“Begitu litter mulai basah, sebenarnya risiko penyakit sudah naik. Kadang ayam kelihatan sehat, tapi performanya turun pelan-pelan. Artinya dampak dari litter itu munculnya perlahan, peternak harus peka saat ada penurunan performa produksi, karna efek dari litter basah bukan langsung berupa kematian”.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.