Kasus flu burung biasanya mencapai puncak pada musim gugur seiring migrasi burung liar. Namun, tahun ini Eropa menghadapi peningkatan kasus yang luar biasa dan Jerman menjadi negara paling terdampak hingga harus memusnahkan satu juta unggas.

Eropa saat ini berada dalam fase waspada tinggi terhadap gelombang baru flu burung, khususnya dari strain dominan H5N1. Lonjakan kasus ini memaksa sejumlah negara memberlakukan karantina ketat dan housing order untuk melindungi populasi unggas domestik mereka serta mencegah terjadinya penyebaran virus lintas farm.

Disebabkan oleh virus Avian Influenza, wabah ini semakin meningkatkan kekhawatiran industri unggas dan pemerintah di Eropa sejak menyebabkan kematian ratusan hingga jutaan unggas dalam beberapa tahun terakhir. 

Menurut laporan Reuters, Irlandia mulai memberlakukan housing order nasional pada awal November 2025, setelah mengonfirmasi kasus flu burung pertama mereka dalam 3 tahun terakhir. Semua unggas wajib ditahan di dalam kandang guna meminimalkan kontak dengan burung liar migran, yang dianggap sebagai vektor utama penyebaran virus. 

Menurut Nigel Sweetman, Ketua Irish Farmers Association National Poultry Committee, pola flu burung kini berubah. Kedatangannya di tahun ini lebih cepat satu bulan dari biasanya. Virus ini juga muncul di lokasi geografis yang berbeda di Irlandia, sehingga ia menyebut wabah ini sangat-sangat mengkhawatirkan.

Kebijakan serupa untuk menahan ayam di kandang sudah diberlakukan lebih dulu di Belanda, Belgia, dan Perancis pada bulan Oktober, yang kemudian disusul oleh Inggris di awal November. Terutama bagi Perancis, epidemi ini mengingatkan mereka pada dampak dari masa-masa mengerikan ketika terkena wabah flu burung parah yang memusnahkan lebih dari 20 juta unggas di tahun 2021-2022 lalu.

Jumlah Kasus Cukup Signifikan

Dari 27 negara di Uni Eropa, 15 diantaranya dilaporkan menghadapi wabah flu burung selama musim gugur (September-November) tahun 2025. Kasus flu burung umumnya memang berada di masa puncak pada musim gugur seiring migrasi burung liar. Namun peningkatan luar biasa terjadi pada tahun ini, dimana sekitar 688 wabah terjadi, atau sekitar 500 kasus lebih banyak daripada tahun lalu.

Di Jerman, dilaporkan ada 58 wabah flu burung antara Agustus dan Oktober 2025. Ini merupakan jumlah yang sangat banyak karena mencapai 43% dari total kasus di seluruh Uni Eropa dan Inggris pada periode yang sama. Jerman bahkan disebut-sebut sebagai negara paling parah terdampak di seluruh Uni Eropa. Padahal pada tahun lalu, Negeri Bir ini hanya melaporkan 8 kasus. Lonjakan kasus ini memaksa Jerman memusnahkan satu juta unggas.

Sementara itu, Polandia menempati kasus terbanyak kedua, meskipun belum mewajibkan seluruh unggas untuk dikurung. Sejauh ini, produsen unggas terbesar di Uni Eropa tersebut sudah mengalami 15 kasus flu burung di peternakan unggasnya.

Selain housing order, langkah biosekuriti diperkuat. Mulai dari sanitasi kandang yang ditingkatkan, akses luar kandang dibatasi, dan pemantauan burung liar migran diperluas. Beberapa negara tengah mengevaluasi strategi vaksinasi unggas sebagai langkah mitigasi jangka panjang, meski penerapan vaksin masih menghadapi tantangan regulasi dan logistik.

Dampak wabah terasa nyata di sektor perunggasan. Pemusnahan massal unggas, pembatasan transportasi, dan penahanan unggas di dalam kandang mengganggu rantai pasok, menekan produksi, dan menaikkan biaya operasional.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com