POULTRYINDONESIA, BlitarLayer Solutions Day (LSD) 2025 sukses digelar di Hotel Santika Blitar, Jawa Timur (22/4). Acara yang menjadi wadah diskusi dan berbagi solusi terkini dalam industri perunggasan, khususnya layer (ayam petelur) ini diiniasi oleh PT. BEC Feed Solutions Indonesia, PT. Big Dutchman (BD) Agriculture Indonesia, dan PT. ISA Indonesia.
Membuka acara, Anjas Morodiono, National Sales Manager PT BEC Feed Solutions Indonesia menyampaikan apresiasinya kepada para peserta dan menjelaskan fokus BEC terhadap sistem otomasi, pengelolaan telur, serta kolaborasi dengan mitra teknologi dari Kanada dan Australia. “Kami ingin membantu peternak Indonesia mengadopsi teknologi yang meningkatkan nilai jual telur secara berkelanjutan,” ujarnya.
Managing Director Indonesia, Big Dutchman, Coen Boonstra menyoroti masih rendahnya adopsi kandang tertutup pada peternakan layer dibanding broiler. “Hanya 20% peternakan ayam petelur yang menggunakan sistem closed house (kandang tertutup). Padahal ini kunci efisiensi dan biosekuriti,” jelasnya.
Dari sisi genetika, Hendry Hendrix selaku Director PT. ISA Indonesia menyampaikan bahwa efisiensi produksi adalah kunci ketahanan pangan nasional. “Telur merupakan sumber protein hewani penting. Dengan teknologi genetik dan manajemen yang tepat, kita dapat meningkatkan kualitas dan ketersediaannya,” katanya.
Memasuki sesi seminar, Dr. Akaradet Seemacharoensri, Technical Services Speciliast Poultry & Swine – Southeast Asia, Jefo Nutrition Inc. memaparkan inovasi Jefo Matrix Technology yakni teknologi pelapis terbaru yang memungkinkan bahan aktif seperti asam organik dan essential oil tetap aktif hingga mencapai saluran pencernaan bagian belakang, yang selama ini sulit dicapai tanpa teknologi khusus.
Selanjutnya, Mega Saragi, Nutritionist and Technical Manager PT BEC Feed Solutions Indonesia membawakan materi seputar efisiensi bahan baku pakan melalui produk premix. Ia menekankan bahwa premix tidak hanya soal nutrisi, tetapi juga strategi menyeluruh dalam memaksimalkan hasil investasi peternakan.
Ansyar Jalaludin selaku Area Sales Manager of Sumatera PT BD Agriculture Indonesia memaparkan peran closed house dalam meningkatkan efisiensi produksi. Ia menekankan pentingnya desain, ventilasi, dan sistem kontrol otomatis. “Closed house bukan sekadar bangunan, tapi sistem integrasi,” ujarnya.
Tommy Lim, Product Sales Manager for Climate, BD Agriculture (Malaysia) Sdn Bhd menambahkan pentingnya efek wind-chill dan pengaturan suhu ideal untuk ayam petelur. Ia menekankan perlunya pemahaman zona termonetral ayam agar produksi tetap optimal di tengah tantangan iklim tropis.
Henry Hendriks menekankan bahwa sektor pangan kini menjadi salah satu dari tiga pilar utama sebuah negara, bersama dengan keamanan dan energi. Ia juga menyoroti upaya ISA dalam memastikan performa genetik ayam peterlur bisa dicapai melalui dukungan teknis dan edukasi berkelanjutan di lapangan.
Sementara itu, Erwan Julianto selaku Technical Manager Hendrix Genetics for Indonesia, Philippines & Asia Coordinator memberikan wawasan mengenai potensi produksi ayam petelur di sistem kandang tertutup. Ia mengungkapkan bahwa dengan manajemen yang tepat, ayam bisa bertelur hingga 100 minggu dengan produksi mencapai 500 butir telur per ekor. “Ini bukan lagi target mustahil. Dengan ventilasi yang optimal dan pencahayaan yang sesuai fase, ayam bisa dipertahankan produktif lebih lama,” jelasnya.