POULTRY INDONESIA, Tuban – Makan siang gratis bagi anak sekolah yang dicanangkan oleh presiden terpilih menjadi angin segar tersendiri bagi perkembangan peternakan broiler nasional kedepan. Menurut drh Komang Budiarta selaku Head of Animal & Public Health Devision PT Super Unggas Jaya, diperkirakan konsumsi daging ayam pada 2025 bisa mencapai 15 kg/ kap/tahun, setelah sebelumnya hanya berkisar di angka 11 kg/kap/tahun.
“Makan siang gratis ini tentunya akan membutuhkan daging ayam yang lebih banyak, sehingga pertumbuhan industri daging ayam kedepan akan semakin pesat lagi,” terangnya ketika mengisi acara “Ngobrol Bareng Praktisi” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Budidaya Ternak (HAMSTER) Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena, Tuban secara daring via Zoom, Jumat (28/6).
Menurutnya diperkirakan pada tahun 2025 kebutuhan karkas daging ayam untuk anak sekolah sekitar 1.200.000 ton, dengan jumlah siswa sekitar 82.900.000 siswa, dan jumlah hari sekolah sebanyak 280 hari efektif sekolah. Dirinya melihat bahwa pilihan daging ayam untuk menu makan siang gratis bagi anak sekolah merupakan pilihan yang tepat, karena harga murah, namun dengan nilai gizi yang bagus.
Ia juga menceritakan tentang perkembangan peternakan broiler di Indonesia. Menurutnya perintisan peternakan broiler terjadi sekitar tahun 1960-1970 an, dimana masa ini breeder mulai masuk. Tahap Perintisan berlanjut pada tahun 1980 an dimana penjualan Final Stock ( FS) ke agen atau Poultry Shop, dan adanya peningkatan industri perunggasan dari hulu hingga hilir.
Selanjutnya di tahun 1990an, merupakan masa perkembangan teknologi dengan adanya perkembangan teknologi di Rumah Potong Ayam ( RPA), adanya penjualan final stock ( FS) langsung ke peternak dan bermunculannya skema inti- plasma atau kemitraan. Kemudian pada 2010 terjadi konsolidasi dengan adanya teknologi kandang closed house, mulai bermunculan inti mandiri dan RPA dan further processing. Sedangkan pada tahun 2020 merupakan tahap E commerce dimana terjadi industrialisasi RPA dan further processing dan distribusi terjadi lebih pendek serta adanya penjualan melalui E commerce.
“Selain dari sisi industri, perkembangan juga terjadi pada sisi produksi. Dulu pada tahun 1950 untuk mencapai bobot 1,8 kg dibutuhkan waktu 84 hari dengan FCR : 3,25. Pada tahun 1990 untuk mencapai bobot 1,8 kg dibutuhkan waktu 42 hari dengan FCR: 1.93. Dan pada tahun 2019 untuk mencapai bobot 1,8 kg hanya dibutuhkan waktu 31 hari dengan FCR: 1,4. Artinya semakin kesini produksi broiler ini juga semakin baik,” tegasnya.