Oleh : Ir. Arif Afiata Rahmat, S.Pt., IPP*
Genetik ayam petelur (layer) saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat baik, sehingga memungkinkan ayam mempunyai siklus produksi yang lebih panjang dengan tingkat persistensi yang lebih baik dari pada ayam petelur masa lalu. Namun demikian untuk mencapai potensi genetik yang optimal, tentu diperlukan berbagai manajemen pemeliharaan yang tepat. Salah satu manajemen pemeliharaan yang mempunyai peran vital, namun acapkali terabaikan di lapangan adalah manajemen pencahayaan.
Sering diabaikan oleh peternak, namun program pencahayaan mempunyai peran vital dalam pertumbuhan dan proses produksi ayam petelur.
Pada umumnya, di kandang ayam petelur selalu terpasang lampu yang berderet di bawah atap. Memang hal ini termasuk bagian dari program pencahayaan. Akan tetapi, tak jarang peternak yang hanya seenaknya memasang lampu penerangan, asal kandang terang saja. Bukan hanya itu, terkadang waktu mati nyala lampu di kandang pun tidak menentu atau sesempat peternak saja. Padahal, untuk mendapatkan produktivitas yang optimal pada usaha budi daya ayam petelur, peternak tidak boleh abai akan program pencahayaan ini.
Pentingnya program pencahayaan
Apabila ditelaah lebih dalam, cahaya berpengaruh langsung terhadap tingkah laku dan proses biologis ayam petelur. Terkait tingkah laku, cahaya berfungsi untuk merangsang aktivitas ayam, yang dalam proses budi daya ayam petelur sistem cage erat kaitannya dengan proses makan dan minum. Sehingga ketika tidak ada cahaya, berarti juga tidak ada aktivitas. Hal ini tentu akan berkorelasi dengan Feed Intake (FI) dan Body weight (BW) ayam.
Kemudian untuk proses biologis, cahaya mampu merangsang aktivitas metabolik ayam, yang dipengaruhi oleh kelenjar tiroid sebagai produsen hormon tiroksin tubuh. Hormon tiroksin inilah yang akan mengatur metabolisme ayam, sehingga berperan dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan produksi telur pada ayam. Proses biologis selanjutnya adalah cahaya akan merangsang hipotalamus pada otak yang mensekresikan kelenjar hipofisis untuk mengeluarkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Hormon FSH ini berfungsi untuk merangsang pembentukan telur ayam, sedangkan LH akan menggertak proses pelepasan sel telur dari ovarium ke saluran telur.
Masih berhubungan dengan proses biologis, cahaya juga berhubungan dengan sekresi hormon melatonin. Hormon ini akan disekresikan dari kelenjar pineal dan retina saat kondisi gelap atau saat ayam istirahat. Sehingga saat lampu mati, kelenjar pineal dan retina akan merespon dan hormon melatonin akan mengatur metabolisme tubuh. Di sisi lain, hormon melatonin ini berlawanan dengan hormon Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) yang berperan terhadap cekaman stress. Hal ini lah yang membuat ayam ketika kondisi gelap akan lebih tenang.
Untuk itu, walaupun cahaya mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan dan produksi telur, namun ayam pun juga membutuhkan saat dimana tidak ada cahaya. Pencahayaan yang terlalu lama juga dapat memicu ayam untuk melakukan aktivitas yang berlebihan. Hal ini menyebabkan ayam menjadi stres akibat kurangnya istirahat. Oleh karena itu, juga dibutuhkan pergantian atau rotasi dari kondisi terang ke gelap pada pemeliharaan ayam petelur. Dimana tidak hanya kondisi terang, ayam juga membutuhkan kondisi gelap untuk memaksimalkan pertumbuhan dan produksinya.
Berkaitan dengan proses produksi telur, masa kritis yang harus diperhatikan adalah ketika awal masa bertelur. Dimana dewasa tubuh dan dewasa kelamin harus seimbang ketika masa pertumbuhan. Indikator dewasa tubuh adalah BW dan panjang shank (farm size). Dalam hal ini manajemen pakan berperan vital. Dimana manajemen pakan juga dipengaruhi oleh rangsangan cahaya untuk melakukan aktivitas tersebut. Kemudian untuk dewasa kelamin, indikator visual secara subyektif ada di jengger yang berwarna merah, mata cerah, seragam, dan lebar antar tulang pubis minimal 2 jari. *Teknikal Layer, PT Widodo Makmur Unggas










