Untuk meningkatkan daya saing para pelaku industri perunggasan dan pemerintah harus bekerja keras dan cerdas untuk mentransformasi atau memodernisasikan manajemen rantai pasok (sumber gambar: catchlight.studio)
Oleh : Dr. Ir. Arief Daryanto, Dip.Ag.Ec., M.Ec*
Model integrasi vertikal membutuhkan manajemen rantai pasokan yang modern dan efisien. Konsep manajemen rantai pasok atau Supply Chain Management (SCM) merujuk pada manajemen keseluruhan proses produksi, distribusi, dan pemasaran dimana konsumen dihadapkan pada produk-produk yang sesuai dengan keinginannya dan produsen dapat memproduksi produk-produknya dengan jumlah, kualitas, waktu, dan lokasi yang tepat. Dalam konteks perunggasan ayam pedaging (broiler), manajemen rantai pasok produk daging ayam merupakan pengelolaan keseluruhan proses produksi broiler hidup, daging dan olahan daging ayam, distribusi dan pemasaran broiler hidup, daging dan olahan daging ayam untuk memenuhi kepuasan konsumen. Keterkaitan atau hubungan yang tidak berjalan dengan baik dapat mengganggu efektivitas dan efisiensi rantai pasok secara keseluruhan.  
Pada saat ini rantai pasok daging ayam masih terfragmentasi dan saluran distribusinya panjang. Pemangkasan rantai pasok daging ayam broiler dari peternak produsen ke konsumen diyakini dapat meningkatkan harga broiler hidup di tingkat peternak dan menurunkan harga daging ayam di tingkat konsumen. Upaya peningkatan efisiensi rantai pasok daging ayam dapat dilakukan dengan memotong rantai pasok untuk mengurangi peran pedagang pengepul (broker) dan mendorong terciptanya hilirisasi industri pengolahan produk berbahan baku daging ayam. Semakin ke hilir, nilai tambah (value added) nya semakin besar sehingga marjin keuntungan (profit margin) di lini usaha ini akan menjadi lebih besar.
Baca Juga: Wujudkan Produk Ayam yang Sehat dengan Menjaga Rantai Produksi
Untuk meningkatkan daya saing para pelaku industri perunggasan dan pemerintah harus bekerja keras dan cerdas untuk mentransformasi atau memodernisasikan manajemen rantai pasok. Manajemen rantai pasok diarahkan untuk (a) lebih berorientasi kepada kepentingan konsumen, (b) fokus pada proses, (c) produknya terdiferensiasi (kualitas, kemasan dan merek), (d) mengedepankan fungsi grading dan label, (e) memperhatikan keamanan pangan, kesejahteraan hewan dan keterlacakan (traceability), (f) mengedepankan kreasi nilai (value creation), (g) mendorong posisi pengecer (retailer) menjadi dominan, (h) memperbaiki struktur kelembagaan pasar, aliran produk, informasi, dan kontrol yang lebih terintegrasi melalui e-commerce, dan (i) menciptakan dukungan logistik yang sangat kuat.
Dengan mengelola rantai pasok secara efektif dan efisien, maka para pelaku industri dapat memastikan kebutuhan pasokan daging ayam dan olahannya lebih berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat luas. Produsen pun mendapatkan marjin keuntungan yang memadai.
Kita sejauh ini telah tertinggal dalam menciptakan industri perunggasan yang kuat, berdaya saing, efisien dan produktivitas tinggi. Kita tertinggal dalam mengimplementasikan model integrasi vertikal dalam industri perunggasan yang didukung oleh kerja sama kontrak dengan peternak/mitra/plasma yang saling menguntungkan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita segera melakukan akselerasi. Jim Leach mengingatkan kepada kita bahwa “the hall mark of our times is change and acceleration, but we have to provide the history”.  Ciri khas zaman kita adalah perubahan dan akselerasi, tetapi kita harus bekerja lebih keras dalam menciptakan sejarahnya. Kalau tidak, kita akan terus tertinggal. *Dekan Sekolah Vokasi IPB, Ahli Ekonomi Industri dan Bisnis Peternakan dan Adjunct Professor University of New England, Australia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2021 dengan judul “Akselerasi Industrialisasi Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153