Oleh: Prof. Dr. Ir. Jet Saartje Mandey, MS, IPU1); Ir. Nontje. J. Kumajas, MP1); Dr. Ir Rinny J Leke, MP2); Mursye Nataly Regar, S.Pt, M.Si1)
Produk perunggasan menyuplai sekitar 65% untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Kebutuhan ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk maupun kesadaran akan pentingnya mengonsumsi protein hewani di kalangan masyarakat Indonesia. Jika dibandingkan dengan protein asal hewan ternak lainnya, protein asal unggas, dalam hal ini daging ayam dan telur juga merupakan sumber protein hewani yang termurah, sehingga terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pertumbuhan industri perunggasan di negara-negara berkembang masih mengalami hambatan karena harga pakan yang relatif lebih mahal karena harga bahan pakan yang mahal. Harga pakan yang mahal ini menjadi faktor pembatas bagi pengembangan usaha peternakan unggas. Hal ini disebabkan karena pakan berkontribusi sekitar 60-70% dalam biaya produksi, sehingga jika harga pakan semakin tinggi maka akan semakin tinggi pula biaya yang diperlukan untuk produksi. Mahalnya biaya produksi ini juga akan menurunkan daya saing produk perunggasan dengan negara lainnya seperti Brasil yang biaya produksinya jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Oleh sebab itu, diperlukan usaha dan riset yang berkelanjutan untuk mencari sumber bahan pakan lokal yang dapat digunakan sebagai pakan unggas.
Lamtoro (Leucaena leucocephala) atau sering disebut sebagai petai cina atau petai selong merupakan jenis tanaman perdu. Berdasarkan laporan Eniolorunda (2011), komposisi proksimat dari tepung daun Leucaena yaitu 88,2% bahan kering (BK), 21,8% protein kasar (PK), 15,1% serat kasar (SK), 3,1% abu, 8,6% ekstrak eter, dan 50,7% Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN). Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa lamtoro menjadi bahan pakan yang kaya akan protein, asam amino esensial, mineral, karotenoid, dan vitamin. Meskipun terdapat mimosin yang menjadi zat penghambat dalam pemanfaatan daun ini, pemfaatan daun lamtoro sudah lama digunakan pada ternak ruminansia dan monogastrik.
Penelitian penggunaan tepung daun lamtoro sebagai pakan unggas diujikan pada 100 ekor ayam pedaging periode finisher yang ditempatkan dalam 20 unit kandang baterai. Masing-masing kandang sudah dilengkapi oleh tempat makan dan minum. Bahan pakan penyusun pakan dasar yang digunakan terdiri dari jagung kuning 52%, bungkil kedele 20%, tepung ikan 10%, dedak halus 17,5%, dan Topmix 0,5%. Tepung daun lamtoro yang digunakan yaitu 0, 5, 10, 15, dan 20% menggantikan sebagian pakan dasar (kontrol). Komposisi bahan pakan dan perhitungan nilai nutrisi dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi pakan percobaan dan nilai nutrisi pakan tiap perlakuan
Bahan Pakan |
Perlakuan |
||||
P0 |
P1 |
P2 |
P3 |
P4 |
|
Pakan Dasar |
100 |
95 |
90 |
85 |
80 |
Tepung Daun Lamtoro |
0 |
5 |
10 |
15 |
20 |
|
|
|
|
|
|
|
Komposisi Nutrien |
|
|
|
|
|
Protein Kasar (%) |
21,63 |
21,67 |
21,71 |
21,75 |
21,78 |
Serat Kasar (%) |
4,14 |
4,75 |
5,37 |
5,98 |
6,59 |
Lemak (%) |
7,72 |
6,59 |
6,48 |
6,35 |
6,23 |
Ca (%) |
0,35 |
0,35 |
0,34 |
0,34 |
0,33 |
P (%) |
1,01 |
0,97 |
0,92 |
0,87 |
0,85 |
ME (Kkal/Kg) |
3251,31 |
3280,23 |
3309,19 |
3338,1 |
3367,04 |
Variabel yang diamati untuk melihat performa ayam pedaging terdiri dari konsumsi pakan, pertambahan berat badan, dan konversi pakan. Konsumsi pakan diperoleh dari jumlah pakan yang diberikan dengan pakan sisa setiap hari, dihitung mulai dari umur tiga minggu. Pertambahan berat badan diperoleh dari selisih antara akhir dengan berat badan awal periode. Konversi pakan diperoleh dari perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan berat badan. Pengaruh perlakuan terhadap performa ayam pedaging terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh perlakuan terhadap performa ayam pedaging
Parameter |
Perlakuan |
||||
P0 |
P1 |
P2 |
P3 |
P4 |
|
Konsumsi Pakan (g) |
2894,25±49,7 |
2991,24±41,4 |
3020,15±43,2 |
2910,60±46,4 |
2819,35±37,9 |
Pertambahan Berat Badan (g) |
1124,34±44,6 |
1125,53±44,4 |
1132,67±40,3 |
1060,85±44,9 |
1044,26±45,1 |
Konversi Pakan |
2,66±0,15 |
2,66±0,88 |
2,67±0,11 |
2,75±0,10 |
2,70±0,11 |










