daun sirih hijau yang memiliki fungsi sebagai antibakteri dan antijamur

Oleh: Nining Haryuni, S.Pt, M.Pt1), Dr. Ir. Eko Widodo, M.Agr Sc2), Dr. Ir. Edhy Sudjarwo, MS2)

Perbaikan produksi dalam ternak unggas terus diupayakan oleh berbagai pihak untuk memaksimalkan hasil produksinya. Terdapat tiga hal utama yang menjadi fokus dalam perbaikan produksi ternak, di antaranya dari segi bibit (breeding), pakan (feeding), dan pengelolaan (management). Pada kenyataanya, dalam hal perbaikan produksi ini masih terjegal beberapa permasalahan yang menyebabkan penurunan performa produksi baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Selain mudah didapat dan harganya relatif murah, daun sirih sendiri memiliki fungsi yang hampir sama dengan antibiotik, yaitu digunakan sebagai antimikroba dan antijamur.

Penurunan performa produksi ternak ini salah satunya disebabkan oleh adanya infeksi bakteri patogen, contohnya infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan Salmonella sp. Infeksi dari kedua bakteri tersebut pada dasarnya dapat diobati dengan antibiotik, namun terdapat beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan antibiotik. Dari segi ekonomi, pengobatan menggunakan antibiotik ini membutuhkan biaya, sehingga meningkatkan input produksi. Dari segi kesehatan, penggunaan antibiotik ini juga harus penuh pertimbangan dan dalam pengawasan dokter hewan.
Daun sirih (Piper bettle. Linn) merupakan tanaman herbal yang cukup mudah dan banyak ditemukan di Indonesia serta harganya yang murah. Daun sirih sendiri memiliki fungsi yang hampir sama dengan antibiotik, yaitu digunakan sebagai antimikroba dan antijamur. Secara umum, daun sirih mengandung minyak atsiri sampai 4,2%. Berdasarkan beberapa penelitian, daun sirih tersebut dapat menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri atau bersifat bakteriostatik. Beberapa bakteri yang dapat hambat pertumbuhannya di antaranya Escherichia coli, Salmonella sp., Streptococcus mutans, Pneumococcus sp., Bacillus cereus, Listeria monocytogenes, Streptococcus agalactiae, dan Staphylococcus epidermidis.
Penelitian efektivitas dari jus daun sirih ini diujikan pada 250 ekor ayam petelur strain isa brown umur 69 minggu. Terdapat lima perlakuan dengan level pemberian jus daun sirih yang berbeda pada tiap perlakuannya. P0 hanya pakan basal saja, P1 = pakan basal + 5 ml jus, P2 = pakan basal + 7,5 ml jus, P3 = pakan basal + 10 ml jus, dan P4 = pakan basal +12,5 ml jus.
Terdapat beberapa variabel yang diamati pada penelitian ini untuk mengetahui performa produksi dari ayam petelur, di antaranya konsumsi pakan harian, produksi telur harian (hen day production), bobot telur, feed conversion ratio (FCR), dan mortalitas. Hasil dari tiap perlakuan terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data rataan konsumsi pakan harian, hen day production (HDP), bobot telur, dan feed conversion ratio (FCR)
Perlakuan
Rataan Parameter
Konsumsi pakan (g/ekor/hr)
HDP (%)
Bobot Telur (g)
FCR
P0
112,59±5,4093
69,48±0,4021
58,79±1,6794
2,66±0,0529
P1
111,29±2,1424
73,89±0,6159
61,45±0,5919
2,52±0,0663
P2
110,88±5,7114
75,33±0,9091
61,60±1,5001
2,46±0,0557
P3
109,42±4,9669
75,89±0,5008
61,55±0,9026
2,44±0,0519
P4
109,36±5,6089
76,43±1,4417
61,67±1,1029
2,33±0,0624
Konsumsi pakan harian
Hasil konsumsi pakan menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan dari tiap jenis perlakuan. Konsumsi pakan tertinggi ditujukan pada perlakuan P0 yaitu sebesar 112,59±5,4093 g/ekor/hari sedangkan terendah pada perlakuan P4 yaitu 109,36±5,6089 g/ekor/hari. Beberapa hal yang mempengaruhi konsumsi pakan di antaranya umur, palatabilitas pakan, energi pakan, tingkat produksi, dan kuantias maupun kualitas pakan (Zahra et al. 2012).
Tidak adanya perbedaan yang signifikan pada konsumsi pakan ini disebabkan karena kandungan energi maupun pakan dari protein semua perlakuan pada penelitian ini sama, sehingga konsumsi energi juga akan sama untuk setiap perlakuan. Kandungan energi pada pakan akan berpengaruh pada jumlah yang dikonsumsinya. Jika energi pakan ditingkatkan maka konsumsinya akan menurun dan sebaliknya. Konsumsi pakan akan menurun sebesar 1,8% setiap kenaikan 50 Kkal/kg pakan (Amrulloh 2003).
Hen Day Production (HDP) dan bobot telur
Peningkatan produksi pada ayam yang diberikan jus daun sirih disebabkan karena jus daun sirih memiliki fungsi sebagai antimikroba yang mampu menekan pertumbuhan maupun membunuh bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Pada penelitian ini persentase HDP tertinggi ditunjukkan pada kelompok perlakuan P4 yaitu 76,43±1,4417. Produksi telur juga dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya umur, kondisi kesehatan ayam, perkandangan, pencahayaan, pakan, suhu lingkungan (Muharlien 2010), protein, fosfor (Yulrahmen 2008), tahap kedewasaan, obat, kandungan gizi pada pakan terutama asam amino dan kandungan asam lemak linoleat (Tugiyanti dan Iriyanti 2012).
Baca Juga: Efek Daun Pegagan Pada Telur Puyuh
Bobot telur pada ayam yang diberikan jus daun sirih juga cenderung lebih besar dibandingkan dengan perlakuan yang hanya diberikan ransum saja. Bobot telur tertinggi yaitu 61,67±1,1029 gram ditujukan pada pemberian jus daun sirih sebesar 12,5 ml (P4). Hal ini disebabkan karena berkurangnya bakteri patogen dalam saluran pencerncaan oleh jus daun sirih, sehingga penyerapan nutrisi yang terkandung dalam pakan menjadi optimal.
Feed Conversion Ratio (FCR) dan angka mortalitas
Feed conversion ratio merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menduga keuntungan. Semakin rendah konversi pakan, maka semakin menguntungkan pula usaha tersebut. Konversi pakan ini didapatkan dari jumlah pakan yang dikonsumsi (kg) dibagi dengan berat badan yang dihasilkan. Angka FCR pada penelitian ini menunjukkan semakin menurun seiring dengan penambahan jumlah jus daun sirih. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan jus daun sirih dapat membantu menurunkan FCR sehingga proses budi daya semakin efisien.
Mortalitas dari penelitian ini juga berada pada angka 0% satau tidak ditemukannya kematian pada kelompok kontrol maupun pada kelompok perlakuan. Hal ini mengindikasikan bahwa pakan perlakuan memiliki kualitas yang sama dengan pakan kontrol. Angka mortalitas pada pemeliharaan unggas dapat dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan, khususnya kebersihan dan kesehatan (Nurcholis et al. 2009). Penggunaan jus daun sirih pada ayam petelur dapat digunakan pada ayam petelur untuk  meningkatkan produksi telur harian (HDP), bobot telur, dan meningkatkan FCR. Hasil terbaik ditunjukkan oleh pemberian ransum dan jus daun sirih sebesar 12,5ml. 1)Dosen Univesitas Nahdlatul Ulama Blitar, 2)Dosen Universitas Brawijaya Malang
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2020 dengan judul “Manfaat Jus Daun Sirih untuk Meningkatkan Performa Ayam Petelur”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153