Oleh: Prof. Dr.Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc.,IPU.,ASEAN Eng*
Itik merupakan salah satu dari sekian jenis unggas yang dapat dibudidayakan dan dipasarkan sebagai sumber pendapatan peternak. Kelebihan itik ialah memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan unggas lainnya. Itik pun dapat dimanfaatkan sebagai pedaging maupun petelur. Itik petelur menghasilkan telur yang dapat dimanfaatkan sebagai pemenuhan kebutuhan protein untuk masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari produksi itik lokal dengan bobot 1,4-1,6 kg sebanyak 253 butir telur per tahun dengan berat telur per butir rata-rata 65 gram.
Penambahan calcidifier dalam pakan dapat mempertahankan indeks putih telur dan volume kuning telur, sebab CaCO3 dan acidifier dalam calcidifier dapat membantu pembentukan cangkang telur yang kuat.
Produksi telur itik nasional juga mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang juga meningkat. Data menunjukkan produksi telur itik pada tahun 2019 yaitu 294.013 ton kemudian meningkat menjadi 297.954 ton pada tahun 2020 (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2020). Bahkan saat naskah ini ditulis, menurut Badan Pusat Statistik (2022), produksi telur itik meningkat menjadi 355.187 ton pada tahun 2022. Peningkatan produksi tersebut mencerminkan bertambahnya jumlah permintaan setiap tahun. Hal ini tentu menjadi peluang bagi peternak untuk memanfaatkan pasar dalam memproduksi telur itik.
Dewasa ini, konsumen sangat teliti dalam memilih telur. Kerabang yang rapuh dan tipis jarang dipilih oleh konsumen, dikarenakan rentan pecah jika bergesek dengan telur atau benda lainnya selama perjalanan. Dalam kata lain, tebal atau tipisnya kerabang telur menentukan kualitas telur. Sebab, kerabang yang berkualitas bagus dapat melindungi kualitas bagian dalam telur. Dalam mensiasatinya, kerabang telur yang tipis ini dapat diatasi dengan menambahkan kalsium ke dalam pakan itik dalam jumlah yang sesuai.
Seperti yang diketahui, penggunaan antibiotik sebagai bahan tambahan dan obat-obatan untuk unggas telah dilarang, dikarenakan meninggalkan residu pada produk ternak sehingga tidak aman dikonsumsi oleh masyarakat. Peraturan tersebut tertuang pada peraturan Menteri Pertanian No 14 tahun 2017 tentang larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) dalam pakan ternak. Hal tersebut mendorong industri perunggasan untuk memutar otak mencari bahan pakan tambahan alternatif AGP. Salah satu pengganti yang lebih aman adalah acidifier organik.
Karakteristik atau kualitas internal itik petelur sangat dipengaruhi oleh penyerapan nutrisi pada saluran pencernaan terutama usus. Oleh sebab itu, acidifier dapat digunakan dalam mengatasi hal tersebut. Secara definisi, acidifier adalah asam organik yang memiliki pH 3-4 yang bekerja dengan cara menurunkan atau mempertahankan pH saluran pencernaan seperti usus halus, sehingga dapat mengurangi mikroba patogen dalam saluran pencernaan itik.
Prinsipnya, acidifier akan menunjukkan aktivitas bakterisidal melawan mikroflora usus yang bersifat patogen. Hal tersebut dapat terjadi karena saluran pencernaan dalam kondisi asam, sehingga bakteri patogen tidak diberi kesempatan untuk hidup dan berkembang. Mekanisme kerja acidifier yaitu memperbaiki kecernaan dengan cara meningkatkan aktivitas enzim, menurunkan pH lambung serta menurunkan bakteri patogen dalam saluran pencernaan. Dalam penelitian ini, acidifier organik yang digunakan berasal dari belimbing wuluh.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yang biasa kita temukan di makanan sayuran manusia, ternyata memiliki ragam manfaat bagi kesehatan ternak. Belimbing wuluh memiliki komponen farmasetik, yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibakteri, dan antioksidan. Oleh karenanya, buah yang berbentuk lonjong dan berwarna hijau ini dapat dimanfaatkan menjadi acidifier untuk pakan ternak. Buah ini mempunyai kandungan asam organik antara lain asam asetat, asam sitrat, asam format, asam laktat dan asam oksalat.
Menurut beberapa penelitian, belimbing wuluh dapat menurunkan pH saluran pencernaan, menekan pertumbuhan bakteri patogen serta meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat (BAL). Hal tersebut akan memberikan kontribusi terhadap proses pencernaan sehingga pemanfaatan kalsium, protein serta nutrisi lainnya menjadi lebih baik untuk pembentukan telur serta kualitas internal telur. Namun demikian, penggunaan belimbing wuluh juga harus dibatasi. Pada level persentase yang sangat tinggi, belimbing wuluh akan mengakibatkan stres asam, merusak mukosa duodenum serta mengakibatkan masalah palatabilitas pada ternak.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan itik betina petelur mojosari fase layer berjumlah 200 ekor dengan umur 32 minggu. Itik dipelihara selama 38 hari di peternakan itik “Panggah Lancar” di Dusun Prembangan, Desa Sawahan, Kecamatan Turen, Malang, Jawa Timur. Kemudian, kandang yang digunakan merupakan kandang litter yang diberi sekat seng hingga berjumlah 25 plot. Ukuran kandang yang digunakan yaitu 2 x 1 x 1 (meter), dengan masing-masing plot berisi 8 ekor itik petelur Mojosari.
Adapun bahan yang digunakan yaitu kalsium bikarbonat (CaCO3) dan belimbing wuluh sebagai acidifier. Campuran ini disebut dengan calcidifier. Pengukuran pH calcidifier dilakukan menggunakan pH paper universal test, lalu didapatkan hasil pengukurannya yaitu 3 (asam). Sedangkan pakan basal yang digunakan tersusun dari konsentrat, bekatul, kebi, dan karak yang dicampur sampai homogen. Pemberian pakan perlakuan dilakukan secara restricted feeding atau secara terbatas. Pemberian air minum diberikan secara ad libitum. Itik diberi pakan perlakuan sebanyak 160 gram/ekor/hari, dengan pemberian 50% di pagi hari dan 50% di sore hari serta diberi vitamin ke dalam air setiap pagi.
Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan lapang dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan dengan masing-masing ulangan terdiri 8 ekor itik petelur Mojosari. Kelima perlakuan tersebut antara lain; pakan basal tanpa penambahan calcidifier, pakan basal ditambah calcidifier 0,1%, pakan basal ditambah calcidifier 0,2%, pakan basal ditambah calcidifier 0,3%, dan pakan basal ditambah calcidifier 0,4%. Sedangkan variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah interior telur yang meliputi indeks putih telur, indeks kuning telur, volume putih dan kuning telur, viskositas putih telur, dan haugh unit.
Tabel 1. Komposisi bahan dari pakan basal
Komposisi
|
Jumlah (%)
|
Konsentrat
|
28,57
|
Bekatul
|
14,29
|
Kebi
|
28,57
|
Karak
|
28,57
|
Total
|
100
|
Tabel 2. Komposisi dan kandungan nutrisi pakan basal
Komposisi
|
Jumlah
|
Gross energy
|
3297 kal/g
|
Protein kasar
|
17,07%
|
Lemak kasar
|
1,41%
|
Serat kasar
|
5,77%
|
Kalsium
|
2,71%
|
Fosfor
|
0,61%
|
Tabel 3. Komposisi nutrisi calcidifier
Komposisi
|
Jumlah
|
Gross energy
|
0 kal/g
|
Protein kasar
|
0,54%
|
Lemak kasar
|
0,80%
|
Serat kasar
|
3,04%
|
Kalsium
|
38,66%
|
Fosfor
|
0,03%
|
Pengaruh terhadap interior telur itik
Penelitian ini memberikan hasil bahwa penambahan calcidifier dalam pakan dapat meningkatkan volume kuning telur dan mampu mempertahankan indeks putih telur secara baik. Dari berbagai perlakuan, penambahan calcidifier sebesar 0,2% merupakan hasil yang terbaik terhadap indeks putih telur. Sedangkan penambahan calcidifier sebesar 0,4% menjadi yang terbaik terhadap volume kuning telur. Secara ilmiah, CaCO3 yang terdapat dalam calcidifier dapat membantu untuk pembentukkan cangkang telur, sehingga pembentukkan cangkang dapat dilakukan dengan baik.
Cangkang dan kulit telur merupakan cikal bakal dari sebuah telur utuh yang akan melindungi bagian dalamnya. Penambahan kalsium dari CaCO3 akan terakumulasi pada cangkang telur, sehingga jika cangkang telur kuat memungkinkan rongga udara semakin kecil. Rongga udara yang kecil ini dapat mencegah masuknya benda asing atau bakteri ke dalam telur yang akan memengaruhi banyaknya volume kuning telur. Dapat diartikan, semakin kecil rongga udara kerabang telur maka akan melindungi bakteri untuk mengkonsumsinya. Di samping itu, menurut Sutrisna dkk (2020), faktor-faktor yang memengaruhi volume kuning telur itik yaitu umur unggas, kandungan trigliserida yang terdapat dalam lemak pakan, dan lama penyimpanan. Umur unggas pun berkorelasi dengan kandungan trigliserida.
Beralih kepada indeks putih telur. Menurut beberapa penelitian, indeks putih telur menurun selama penyimpanan, karena adanya pemecahan ovomucin yang dipercepat oleh naiknya pH. Kemudian menurut laporan Yuwanta (2010), perubahan pada putih telur disebabkan oleh pertukaran gas luar dengan isi telur melalui pori kerabang dan adanya penguapan air akibat dari lama penyimpanan dan pengaruh suhu. Penguapan tersebut akan mengakibatkan putih telur menipis, sehingga akan memperkecil nilai tinggi albumin. Berdasarkan laporan Purwati dkk. (2011), indeks putih telur itik segar memang bervariasi, umumnya berkisar antara 0,050-0,17. Sedangkan dalam penelitian ini, kadar pemberian calcidifier yang masih ditolerir terhadap indeks putih telur ialah sebesar 0,2%, yang mempunyai nilai indeks putih telur sebesar 0,058. *Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya
Artikel ini merupakan rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...