Oleh : Gusti Ayu Mayani Kristina Dewi1, Made Wirapartha2, I.K.A. Wiyana3, N.P.M. Suartiningsih4
Ayam ras petelur yang dipelihara secara intensif, memerlukan ransum sebagai pemenuhan kebutuhan energinya untuk produksi, untuk pertumbuhan dan bahkan reproduksi. Dalam kegiatan usaha budi daya ayam ras petelur, komponen biaya produksi terbesar adalah biaya pakan yakni mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Adanya permasalahan kenaikan biaya bahan baku tertentu menjadikan biaya produksi terus meningkat. Dampak kenaikan harga produksi akan berpengaruh terhadap komposisi pakan yang tidak sesuai standar yang akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam proses produksi.

Ransum merupakan salah satu aspek penting selama pemeliharaan ayam ras petelur. Ransum untuk ayam ras petelur yang baik tersusun atas campuran bahan pakan dari hewani dan nabati

Guna terciptanya efisiensi produksi dalam usaha ayam ras petelur menuntut para peternak untuk berinovasi menciptakan formula pakan alternatif yang diharapkan memiliki biaya lebih ekonomis namun juga tetap memperhatikan kualitasnya. Bahan pakan dari limbah tanaman memiliki potensi untuk dikembangkan ditinjau dari segi ketersediaannya karena murah dan mudah didapat di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah yang tepat merupakan salah satu upaya peternak untuk menekan biaya pakan.
Potensi dari tanaman buah naga sangat baik terlihat dari permintaan yang terus meningkat di masyarakat. Teknik budi daya yang mudah, serta iklim di Indonesia sangat cocok untuk pertanian buah naga. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan buah naga untuk konsumsi, menyebabkan limbah kulit buah naga semakin meningkat. Kulit buah naga merupakan limbah yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Kulit buah naga yang menyumbang 30-35% dari total kandungan buah naga ini, memiliki manfaat sebagai sumber energi, serat kasar dan memiliki makronutrien lainnya. Khosem et al. (2007) menyatakan bahwa kulit buah naga mengandung zat aktif fenol yang berperan dalam aktivitas biologis seperti antimutagen, antikarsinogenik, antiaging dan antioksidan.
Hasil penelitian dari Daniel et al. (2014) mengungapkan bahwa perolehan kandungan serat kasar dari kulit buah naga sebesar 23,39%. Tingginya kandungan serat kasar merupakan faktor pembatas pemanfaatannya sebagai komponen pakan ternak unggas. Peningkatan nilai kulit buah naga dapat dilakukan dengan mengaplikasikan biofermentasi dengan memanfaatkan jasa mikroba yaitu memanfaatkan kemampuan dari khamir Sacharomyces cerevisiae yang terkandung dalam ragi tape.
Baca juga : Kualitas Litter Broiler yang Dipelihara di Kandang Closed House pada Ketinggian Dataran yang Berbeda
Menurut Dewi et al. (2015) dan Ahmad (2008), ragi Saccharomyces cerevisiae dapat meningkatkan kecernaan pakan berserat dan dapat berperan sebagai probiotik pada unggas. Manfaat lain dari produk fermentasi adalah untuk menekan aktivitas enzim 3-hydroxy-3-methylglutarylCo-A reduktase yang berfungsi untuk sintesis kolesterol dalam hati. Oleh karena itu, teknologi pengolahan pakan harus diterapkan untuk optimalisasi pemanfaatan limbah. Menurut Wahyudi dan Hendraningsih (2007), suplementasi Saccharomyces cerevisiae dalam ransum nyata meningkatkan laju pertumbuhan, efisiensi penggunaan ransum, dan mencegah kejadian keracunan pada unggas yang disebabkan oleh aflatoksin atau aflatoxicosis.
Melihat potensi dari fermentasi kulit buah naga tersebut mendorong penulis untuk melakukan riset pada kualitas telur ayam untuk ayam ras petelur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas telur ayam dengan melihat 7 parameter yakni produksi telur, bobot telur, index telur, bobot cangkang telur, ketebalan cangkang telur, warna kuning telur dan haugh unit (HU). Hasil dari penilaian ketujuh parameter kualitas telur ayam tersebut dapat dilihat di Tabel 1.

 

Keterangan:
  1. R0: tanpa pemberian tepung kulit buah naga fermentasi
  2. R1: penambahan 5% tepung kulit buah naga fermentasi
  3. R2: penambahan 5% tepung kulit buah naga fermentasi + 1% kalsium
  4. SEM: Standart Error of Mean
  5. HU: kualitas albumen yang diukur berdasarkan tinggi albumen dan bobot telur.
Penelitian ini menggunakan pakan ayam ras petelur yang diberi tambahan tepung kulit buah naga terfermentasi, mulai dari 0% (R0), 5% (R1) dan 5% tepung kulit buah naga terfermentasi + 1% kalsium (R2). Ayam yang digunakan ialah ayam petelur Isa Brown yang berumur 85 minggu atau memasuki masa apkir sehingga telur yang dihasilkan memiliki kualitas kerabang yang kurang baik, oleh karena itu diberikan penambahan 1% kalisuim, dengan menggunakan formulasi pakan berdasarkan rekomendasi dari Scott et al. (2008) yang terdiri dari jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, dedak padi, tepung kulit buah naga terfermentasi, minyak kelapa, premix dan CaCO3. *Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Udayana1)2)3); Pranata Laboratorium Fakultas Peternakan, Universitas Udayana4

 

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2021 dengan judul Manfaat Penambahan Tepung Kulit Buah Naga Terfermentasi Terhadap Kualitas Telur Ayam. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153