Oleh : Birendra Mishra*
Perubahan iklim global telah membawa dampak yang signifikan terhadap berbagai sektor industri, termasuk perunggasan. Peningkatan suhu lingkungan menjadi tantangan besar bagi produktivitas unggas, terutama ayam broiler yang rentan terhadap stres panas. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berpengaruh langsung pada efisiensi pakan, penurunan bobot badan, serta kualitas karkas yang lebih rendah. Jika tidak ditangani dengan baik, stres panas dapat menurunkan performa produksi secara signifikan dan mengancam keberlanjutan industri perunggasan.
Untuk mengatasi tantangan ini, berbagai strategi telah diterapkan dalam industri unggas, seperti penyesuaian formulasi pakan, pemuliaan genetik untuk ketahanan panas, dan pengelolaan lingkungan kandang yang lebih baik. Namun, pendekatan konvensional ini masih memiliki keterbatasan dan belum sepenuhnya efektif dalam mencegah dampak buruk dari stres panas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan metode inovatif yang lebih proaktif untuk meningkatkan toleransi unggas terhadap suhu tinggi.
Salah satu pendekatan terbaru yang menarik perhatian adalah manipulasi termal embrio (*Embryonic Thermal Manipulation/TM*). Teknik ini melibatkan peningkatan suhu inkubasi selama tahap pertengahan hingga akhir perkembangan embrio untuk merangsang adaptasi fisiologis yang memungkinkan ayam memiliki toleransi lebih baik terhadap suhu tinggi setelah menetas. Proses ini diyakini dapat mempengaruhi ekspresi gen secara epigenetik, meningkatkan metabolisme embrio, serta membentuk pola adaptasi yang mendukung daya tahan terhadap stres panas di masa pertumbuhan. Dengan menerapkan metode ini, diharapkan broiler dapat lebih siap menghadapi kondisi lingkungan yang lebih panas tanpa mengalami penurunan performa pertumbuhan dan efisiensi produksi. Selain itu, pendekatan ini juga memiliki potensi untuk dikombinasikan dengan strategi manajemen lainnya guna menciptakan sistem produksi unggas yang lebih berkelanjutan.
Metode dan Temuan Utama
Sistem termoregulasi pada ayam dikendalikan oleh interaksi antara sistem saraf dan hormon, terutama melalui poros hipotalamus-hipofisis-tiroid (HPT-axis) dan hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA-axis). Manipulasi termal selama perkembangan embrio dapat mempengaruhi ekspresi gen yang terkait dengan adaptasi suhu, termasuk regulasi hormon tiroid dan protein kejutan panas (*heat shock proteins/HSP*), yang berperan penting dalam respons stres panas.
Manipulasi termal selama inkubasi juga berdampak positif pada performa produksi ayam pedaging. Efisiensi pakan meningkat karena adanya optimalisasi pertumbuhan otot dan metabolisme tubuh, yang mengarah pada pemanfaatan pakan yang lebih baik. Selain itu, ayam yang mengalami manipulasi termal menunjukkan toleransi lebih tinggi terhadap panas selama fase pertumbuhan, yang membantu mengurangi risiko stres panas ketika suhu lingkungan meningkat. Dalam aspek kualitas karkas, metode ini berkontribusi terhadap pengurangan lemak tubuh serta peningkatan persentase daging dada, faktor penting dalam industri broiler yang berorientasi pada efisiensi produksi daging.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com