Dengan daya penularan yang begitu cepat, penyakit marek dapat menyebabkan kerugian yang sangat signifikan bagi peternakan unggas. Untuk itu pengenalan, pencegahan dan pengendalian yang tepat perlu dilakukan.
Marek’s Disease, tentunya bukanlah hal baru bagi peternak ataupun praktisi perunggasan. Pasalnya penyakit unggas menular yang disebabkan oleh alphaherpesvirus atau virus marek ini dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian, penurunan produksi telur, dan masalah pertumbuhan pada ayam. Kerugian ekonomi menjadi lebih tinggi karena ditambah dengan mahalnya biaya vaksinasi dan pengendalian penyakit ini. Payne dan Venugopal (2000) menyatakan bahwa pada tahun 1984, total kerugian akibat adanya Marek’s Disease sebesar 943 juta dolar di seluruh dunia.
Sekilas tentang penyakit marek
Melihat ke belakang, penyakit marek pertama kali ditemukan di Amerika pada tahun 1924 oleh seorang veteriner asal Hungaria bernama Joseph Marek. Dari situlah nama penyakit marek muncul. Kemudian pada tahun 1970, penggunaan vaksin untuk penyakit ini berhasil ditemukan dan memberikan efek yang cukup signifikan.
Sementara itu, penyakit marek juga biasa disebut dengan fowl paralysis atau neurolymphomatosis. Penyakit marek ini disebabkan oleh herpes virus dari genus mardi virus dan subfamili alphaherpesvirinae. Virus yang memiliki struktur DNA dengan bentuk heksagonal dengan ukuran 85-100 nm sampai dengan 150-170 nm ini umumnya menyebabkan angka kesakitan 10-50% dan kematian sekitar 40-80%, bahkan ada yang menyebutkan sampai 100%. 
Istilah herpes berasal dari bahasa Jerman yaitu “herpein” yang berarti muncul pelan-pelan. Seperti namanya, penyakit ini memang terjadinya pelan-pelan, dan kemudian akan menjadi sangat berbahaya. Karakteristik semua herpes virus secara primer menentukan infeksi laten pada induk semang, dan bisa diaktifkan lagi pada tahap apapun. Kendati ayam merupakan inang alami dari virus ini, marek dapat menyerang unggas lainnya seperti puyuh dan kalkun karena virus marek ayam juga dapat bereaksi silang antara virus marek ayam dengan herpesvirus kalkun.
Dari tingkat keganasannya, virus marek memiliki level yang berbeda-beda tiap jenis atau strain-nya. Gallid herpesvirus 2 (MDV-1) mewakili jenis virus marek yang bersifat virulen sedangkan Gallid herpesvirus 3 (MDV-2) dan Meleagrid herpesvirus 1 (Turkey herpesvirus, MDV3) mewakili virus marek yang avirulent (tidak ganas) dan biasanya dijadikan vaksin untuk proteksi terhadap serangan virus marek. Tipe serangan dari virus ini pun berbeda, ada yang bertipe klasik maupun tipe akut. Hal yang membedakan dari kedua tipe ini yaitu pada tipe klasik, kematian dapat terjadi dalam hitungan hari maupun minggu setelah gejala terlihat.
Penularan dan gejala
Penyakit marek tidak ditularkan secara vertikal atau dari induk ke anaknya. Penularan penyakit ini terjadi secara horizontal baik secara langsung yaitu dari ayam yang sakit langsung menyerang ayam yang sehat, maupun secara tidak langsung melalui media perantara, seperti pakan, air minum, sekam, udara, dan lain sebagainya. Masa inkubasi penyakit marek juga bervariasi. Untuk virus yang ganas biasanya antara 3-4 minggu, sedangkan untuk virus yang kurang ganas bisa terjadi selama berbulan-bulan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com