Inovasi feed additive menjadi kunci membangun peternakan unggas yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan di tengah dinamika industri yang terus berubah.

Di tengah persoalan harga ayam hidup yang tak kunjung stabil, efisiensi performa budi daya menjadi keharusan bagi para peternak. Dalam upaya memaksimalkan produktivitas, ayam tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumber nutrisi dasar. Baik broiler maupun layer kini sama-sama membutuhkan dukungan zat-zat fungsional yang menunjang berbagai proses biologis dalam tubuh mereka, mulai dari peningkatan penyerapan nutrien hingga efisiensi pakan. Disinilah feed additive memainkan peran penting.

Feed additive atau imbuhan pakan saat ini menjadi komponen kunci untuk memenuhi kebutuhan spesifik unggas, seperti mendukung pertumbuhan, menjaga kesehatan, atau membantu peternak menghadapi tantangan lingkungan di kandang. Diatur dalam Permentan Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, imbuhan pakan termasuk dalam kelompok premiks, bersamaan dengan feed supplement. Premiks sendiri diartikan sebagai senyawa yang mengandung bahan obat hewan yang pemberiannya dicampurkan ke dalam pakan atau air minum dalam dosis tertentu dan harus bermutu, aman, serta berkhasiat.

Keduanya punya pengertian yang berbeda. Suplemen pakan adalah zat tambahan yang secara alami sudah terkandung dalam pakan tetapi jumlahnya perlu ditingkatkan, contohnya seperti vitamin, mineral, dan asam amino. Sedangkan imbuhan pakan adalah bahan yang tidak mengandung zat gizi atau nutrisi seperti yang ada di pakan, dimana tujuan ditambahkannya adalah untuk hal tertentu di luar nutrisi, contohnya yaitu enzim, probiotik, prebiotik, dan sinbiotik. Meski begitu, pada praktiknya di lapangan, premiks sering dianggap sebagai sebutan lain dari suplemen pakan dan tidak ada sangkut pautnya dengan aditif pakan.

Tren penggunaan feed additive yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir sering dikaitkan dengan pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) yang mulai diberlakukan di Indonesia pada awal tahun 2018, seperti diatur dalam Permentan No. 14/2017. Larangan penggunaan antibiotik sebagai promotor pertumbuhan unggas diputuskan karena terbukti menimbulkan residu antibiotik pada produk unggas, serta berisiko menyebabkan resistensi bakteri patogen yang membahayakan kesehatan manusia. Meski peternak pada kenyataannya telah lama menambahkan aditif ke dalam pakan unggas, namun dengan adanya pelarangan ini semakin masif digunakan dalam mengatasi tantangan baru seperti penurunan performa otomatis, FCR meningkat, dan naiknya insiden penyakit yang sebelumnya bisa ditekan oleh antibiotik.

Meski variasi produknya sudah cukup beragam, imbuhan pakan masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Terlebih di tengah tantangan industri perunggasan yang dinamis, terobosan inovasi dan arah pengembangan yang lebih jelas sangat diperlukan agar feed additive bisa menjadi solusi tepat guna atas permasalahan di lapangan. Pada kondisi lapangan yang sulit diprediksi, tidak bisa dipungkiri bahwa potensi tantangan baru dapat muncul. Di samping itu, bahan aditif yang terjangkau dan mudah diaplikasikan juga masih sangat dibutuhkan. 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com