POULTRYINDONESIA, Jakarta – Meet & Greet Charoen Pokphand Best Student Appreciation Batch 5 sukses diselenggarakan dengan meriah di Hotel DoubleTree by Hilton, Jakarta pada Selasa (16/7). Acara ini dihadiri oleh 21 mahasiswa terpilih penerima manfaat kegiatan CPBSA, dosen pendamping dan sejumlah jajaran manajamen PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI).
Dalam sambutannya, Ali Imron selaku ketua program CPBSA batch 5 mengungkapkan bahwa CPBSA ini merupakan sebuah momen untuk mengakui dan merayakan prestasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dimulai dari tahun 2017, program ini mengalami perkembangan yang pesat. Dimana, CPBSA batch 4 berhasil mengumpulkan mahasiswa dari 13 perguruan tinggi dan CPBSA  batch 5 ini berhasil mengumpulkan 21 mahasiswa terbaik dari 17 perguruan tinggi negeri dari seluruh penjuru Indonesia.
“Untuk sampai dititik ini, proses seleksi yang dilakukan oleh tim CPI cukup ketat. Banyak kriteria yang harus dipenuhi mulai dari kepemmpin, akademik dan kecakapan personal. Kegiatan CPBSA sendiri terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya pembekalan magang, magang on site selama 2 bulan didampingi oleh manajemen dan mentor berkualitas, kemudian dikumpulkan dalam acara meet and greet mengikuti kegiatan poultry exposure melalui pameran Indolivestock dan kunjungan CP di Thailand,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Dr. (HC). Tjiu Thomas Effendy, S.E, MBA menyampaikan bahwa untuk menjadi mahasiswa terpilih dan mengikuti program CPBSA ini bukanlah hal yang mudah. Untuk itu dirinya berpesan kepada para peserta untuk bangga. Selain itu, melalui program CPBSA ini, CPI ingin memajukan industri peternakan dengan efisien agar bisa survive kedepannya.
“Jangan sampai kita hanya menjadi penonton dalam negeri. Harapannya, acara ini bisa membentuk adik-adik menjadi penggerak untuk daerahnya masing masing baik menjadi tenaga ahli maupun pengusaha. Perihal SDM, CPI tidak hanya menunggu tapi menjemput bola, khususnya dibidang pendidikan. Kita ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia pernakan. Kita menyiapkan mahasiswa untuk menjadi sarjana terapan yang siap pakai dan mengerti bagaimana beternak, ” lanjut Thomas.
Mendukung hal tersebut, sejauh ini CPI telah menghibahkan 15 kandang closed house di berbagai perguruan tinggi dengan tujuan agar mahasiswa memahami teknologi budi daya kandang closed house. Selain itu untuk saat ini, CPI juga memberikan 380 beasiswa kepada anak yang kurang mampu secara ekonomi.
Thomas secara langsung juga menjelaskan bahwa berbagai program yang telah berjalan ini bertujuan agar industri peternakan memiliki daya saing yang tinggi dengan SDM berkualitas yang dihasilkan. “Ini adalah bentuk kontribusi nyata CPI kepada Indonesia. Visi kami dalam berinvestasi yaitu harus bisa memberikan manfaat kepada negara dan masyarakat. Dimana CPI berinvestasi. Kami akan terus menjaga kesinambungan dan kontinuitas kontribusi ini,” tegasnya.
Diskusi peternakan
Dalam serangkaian acara meet & great ini, juga dilaksanakan sesi diskusi yang mengangkat tema terkait “Meningkatkan Keberhasilan Peternakan di Indonesia, Tantangan, Solusi, dan Inovasi untuk Masa Depan”. Turut hadir dalam sesi diskusi, H. Singgih Januratmoko, S.KH., MM selaku Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat ( PINSAR) serta Aif Arifin Sidhik, S.Pt., MSc selaku Direktur AS Putra Group.
Singgih menjelaskan bahwa tak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa waktu ke belakang, perunggasan Indonesia tengah mengalami periode yang sulit. “Sektor perunggasan kita memang tengah mengalami masa masa yang berat. Tapi kedepannya akan lebih baik. Program dari pemerintah yang akan ada pangan bergizi di tahun 2025, tentunya akan mendorong konsumsi terutama dari hasil peternakan, ” ungkap Singgih
Masih dalam diskusi yang sama, Aif dalam paparannya menambahkan bahwa bisnis ini akan sangat menarik, apabila melihat poultry value chain dari bisnis upstream hingga downstream sangat menyeluruh. Dari  bisnis feedmill, raw material yang apabila ditarik lagi ke atas akan makin besar. Menurutnya untuk lini midstream cukup crowded karena banyak peternak dari skala kecil hingga menengah. Sedangkan lini downstream, meskipun di Indonesia belum cukup berkembang, CPI sudah cukup baik dengan hadirnya Prima Freshmart.
“Kita sepakat industri perunggasan penting dan besar. Maka kita butuh talenta-talenta terbaik dan berkualitas, sehingga peternakan akan cerah kedepannya. Industri ini tidak bisa dilihat sebelah mata. Kita butuhkan brightness talent untuk sustainable growth,” lanjut Aif.
Kesan dan harapan
Terkait kesan program CPBSA, Bella Amanda Iswahyudi selaku mahasiswi Teknologi Hasil Pertanian Universitas Lampung mengaku bahwa untuk mahasiswa tingkat akhir seperti dirinya, program CPBSA ini menjadi kegiatan yang luar biasa.
“Saya mendapat penempatan magang di BISI Kediri, dan mendapatkan banyak pelajaran dari 2 mini project yang saya jalankan. Saya belajar bagaimana industri ini menjamin kualitasnya. Selama kegiatan CPBSA, kami sangat terfasilitasi. Dan saya yakin hal ini akan menjadi pengalaman sekaligus bekal yang berharga untuk terjun di dunia industri nanti. Semoga program program ini terus berkembang, “ucap Bella
Dari perwakilan dosen, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM, ASEAM Eng. selaku Dekan Fakultas Pertanian dan Plt. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya terhadap berbagai program dari CPI.
” Semoga kerja sama antara CPI  dengan perguruan tinggi  terus berlanjut. Semoga diperluas dalam memberikan bantuan. Dan untuk kegiatan CPBSA semoga bisa semakin meluas melibatkan perguruan tinggi lainnya,” harapnya.