Oleh: Ir. Budi Indarsih, M.Agr.Sc., Ph.D.*
Usaha peternakan itik masih dapat dikatakan menjanjikan. Pasalnya, hasil produk dari itik memiliki pecinta dan pangsa pasarnya tersendiri, sehingga permintaannya pun akan terus berkembang. Melihat peluang tersebut, banyak peternak yang terdorong untuk melakukan usaha peternakan itik, salah satunya adalah para peternak di Pulau Lombok. Jenis itik yang dikembangkan adalah itik peking, karena dinilai memiliki hasil produksi yang lebih unggul dibandingkan jenis lainnya.

Melihat bentuk telur merupakan metode sexing pada itik yang mudah dilakukan oleh peternak kecil. Selain relatif mudah, langkah ini juga sangat ekonomis.

Kendati demikian, peternakan itik peking di Lombok, Nusa Tenggara Barat masih relatif baru dan didominasi oleh peternak kecil. Pada umumnya, itik peking dikenal sebagai unggas air penghasil daging. Tetapi kelompok peternak Mong Gelemong yang berada di Dasan Cermen, Kota Mataram, memelihara itik peking sebagai penghasil telur. Dalam pemeliharaan itik petelur, peternak hanya memerlukan itik betina saja. Masalahnya adalah ketersediaan bibit itik peking betina sangat terbatas, karena daya tetas telur itik lebih rendah dibandingkan dengan telur ayam lokal, yaitu 62,91% sedangkan ayam lokal berada di kisaran antara 74-84%.
Perbedaan ketebalan dan porositas kerabang tampaknya menjadi tantangan bagi keberhasilan proses inkubasi. Selain itu, sexing itik yang baru menetas juga lebih sulit daripada sexing pada ayam, karena perbedaan anatomi organ reproduksi. Untuk itu, biasanya sexing anak itik baru dilakukan oleh peternak pada  umur 3 minggu. Hal inilah yang menyebabkan usaha penetasan telur itik peking kurang diminati oleh kebanyakan peternak di Lombok.
Sebenarnya beberapa penelitian sexing unggas telah dilakukan oleh para ahli, mulai dari teknik yang sederhana sampai tercanggih sekalipun. Sexing DOC layer diantaranya dapat dilakukan dengan analisis endokrin (Weissmann et al., 2014), analisis genotipe (Liu et al., 2018), mempelajari hormon kuning telur dan berat telur (Al-Shahie, 2018), menggunakan spektroskopi laser (Galli et al., 2018) dan menggunakan eksentrisitas telur dengan perangkat lunak komputer (Mappatao, 2018).
Cara-cara tersebut memang berguna untuk  mencari solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi maju. Namun, hal tersebut kurang tepat untuk para peternak kecil. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai indeks bentuk telur itik terhadap pengaruhnya kepada jenis kelamin. Langkah ini sebagai upaya mengembangkan teknik yang tepat untuk memprediksi jenis kelamin telur itik pra-inkubasi, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan itik umur sehari bagi peternak kecil.
Dengan topik yang sama, penelitian serupa telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Misal karakteristik indeks bentuk telur untuk sexing anak burung pipit diteliti oleh Mead et al (1987), pada ayam bibit petelur (Yilmaz-Dikmen dan Dikmen, 2013). Kemudian, Milojević et al (2019) melakukan hal serupa pada parent stock hibrida Isa Brown. Ini berarti bahwa indeks bentuk telur umumnya berlaku untuk sebagian besar sexing telur unggas.
Metode yang perlu diketahui dalam penelitian ini adalah telur fertil sebanyak 360 butir dicuci, kemudian lebar dan panjang telur diukur menggunakan jangka sorong digital (±0,01 mm) dan indeks bentuk dihitung  SI = (W / L) × 100, dengan keterangan SI sebagai indeks bentuk, W sebagai lebar telur, dan L sebagai panjang telur. Berdasarkan indeks bentuk, telur dikelompokkan sebagai bulat, tajam, memanjang, dan sempit dengan kisaran indeks antara 68,1-73,7%.               Untuk penetasan telur itik pada penelitian ini, telur disimpan ke dalam mesin tetas sampai hari ke-4 pada suhu stabil 38oC tanpa dibalik. Untuk candling (peneropongan) telur digunakan senter ponsel (flashlight HP) pada hari ke-5. Kemudian, candling kedua dilakukan pada hari ke-7, ketiga pada hari ke-14, dan keempat dilakukan pada hari ke-21. Sedangkan pembalikan telur dilakukan ketika mulai ke 5 – 26 hari.
Untuk meningkatkan kelembapan inkubator mendekati waktu tetas,  telur disemprot air pada hari ke-25. Sedangkan pembalikan dihentikan pada hari ke-26. Memasuki masa penetasan, anak itik langsung diberi wing band, dan dipelihara sampai umur 2 minggu untuk mengamati jenis kelamin yang diprediksi. Selama proses inkubasi, 20 telur infertil atau embrio mati, sehingga tersisa 340 anak itik untuk dilakukan sexing.
Penilaian jenis kelamin itik
Pada umumnya sexing anak itik yang baru menetas dilakukan saat berumur dua minggu. Jenis kelamin jantan diketahui dengan adanya tonjolan pada kloaka, sedangkan betina tidak memiliki tonjolan. Dari  penelitian ini terdapat 360 telur fertil dengan 340 telur menetas menjadi anak itik, yang berjenis kelamin dan diperhitungkan untuk dianalisis lebih lanjut secara statistik untuk mengetahui seberapa akurat prediksi dari massa dan indeks telur yang telah dilakukan sebelum telur menetas.
Tabel 1. Statistik deskriptif telur fertil yang digunakan
Variabel
Sex
Rata-rata
SD
Min
Max
Massa telur  (g)
Betina
65.4
6.7
51
76
 
Jantan
69.6
3.9
63
76
Panjang telur (mm)
Betina
59.1
2.7
54
65
 
Jantan
62.7
2.2
57
65
Lebar telur  (mm)
Betina
44.9
1.1
42
46
 
Jantan
44.5
0.7
43
45
Indeks bentuk telur (%)
Betina
76.2
1.7
70.8
79.3
 
Jantan
70.9
2.8
67.7
78.9
Keterangan: SD-standard deviasi
Berat telur dan panjang telur jantan lebih tinggi daripada telur betina, sedangkan lebar telur dan indeks bentuk telur betina lebih tinggi daripada telur jantan. Berdasarkan korelasi regresi logistik berganda Pearson, semua faktor yang memengaruhi penentuan jenis kelamin, hanya indeks bentuk telur yang menunjukkan korelasi positif yang tinggi dan signifikan. Sementara itu, faktor lain seperti massa telur, panjang telur dan lebar telur masing-masing bernilai negatif rendah, negatif tinggi dan positif rendah, atau dapat dikatakan tidak signifikan dalam menentukan jenis kelamin itik peking. Dengan demikian, indeks bentuk telur jelas dapat menentukan jenis kelamin telur pra-inkubasi.
Indeks telur merupakan perbandingan antara lebar dan panjang telur. Indeks telur dipengaruhi oleh diameter isthmus dalam saluran reproduksi itik betina. Apabila diameter isthmus lebih besar, maka cenderung menghasilkan telur yang bulat, sedangkan bila diameter isthmus sempit maka telur yang dihasilkan cenderung lonjong. Berdasarkan penelitian Dharma et al. (2001), nilai indeks telur yang lebih kecil dari 79% akan memberikan penampilan lebih panjang, sedangkan nilai indeks telur yang lebih besar dari 79% akan memberikan penampilan lebih bulat.
Dari uji Chi-Square, nilai prediksi telur betina sebesar  82,8%, dan jantan 77,7%, dengan keberhasilan prediksi total  80,3 % (Tabel 2), atau lebih dari 50% prediksi yang diharapkan. Ini berarti akurasi prediksi cukup tinggi, sehingga menggunakan indeks bentuk telur lebih menguntungkan dibandingkan teknik inkubasi tradisional. Keuntungan teknik ini adalah meningkatkan volume inkubasi karena tidak ada itik jantan, sehingga sistem manajemen yang efisien karena mengurangi biaya pakan dan perawatan hariannya.Tabel 2. Chi-Square untuk jenis kelamin yang diamati dan diprediksi
 
Sex  (Pengamatan)
Sex (Prediksi)
Tingkat Konfirmasi  (%)
Betina (Jumlah)
Jantan (Jumlah)
Betina
174
  36
82.8
Jantan
29
101
77.7
Total
203
137
80.3
Singkatnya, indeks bentuk telur adalah metode sederhana dan mudah untuk sexing anak itik. Telur memanjang dan sempit cenderung berjenis kelamin jantan, sedangkan telur berbentuk bulat dan lebar cenderung berjenis kelamin betina. Hal serupa seperti yang dilaporkan sebelumnya oleh Yilmaz-Dikmen dan Dikmen (2013). Unggas akan menetaskan anak berjenis kelamin jantan dengan bentuk telur memanjang, karena perbandingan luas permukaan terhadap volume telur lonjong lebih kecil daripada telur bulat. Validitas pendekatan ini diisyartakan oleh itik jantan yang memiliki intensitas fluoresensi lebih tinggi dibandingkan dengan betina. *Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Mataram
Artikel ini merupakan rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com