Oleh : Ahmad Safik, A.Md*
Tak hanya mampun mengembangkan industri perunggasan modernnya Jepang juga fokus melakukan pelestarian berbagai jenis ayam lokal yang memiliki nilai budaya dan genetik tinggi.
Perunggasan di Jepang menjadi sektor yang berkembang pesat dan memainkan peran penting dalam ketahanan pangan serta ekonomi negara. Dengan perpaduan antara teknologi modern dan praktik tradisional, industri ini berhasil mencapai efisiensi tinggi dalam produksi daging dan telur, sekaligus menjaga kualitas dengan standar keamanan pangan yang ketat.
Di lain sisi, Jepang tak hanya dikenal dengan industri perunggasan modernnya semata. Namun juga bagaimana negara ini dapat melakukan pelestarian berbagai jenis ayam lokal yang memiliki nilai budaya dan genetik tinggi. Berkat berbagai inovasi dan teknologi, Jepang mampu menjaga dan mengembangkan produktivitas ayam lokalnya di tengah tantangan global, sekaligus mendukung kebutuhan pasar domestik dan internasional. Maka cukup beralasan apabila saat ini banyak ayam lokal Jepang yang telah tersebar diberbagai negara, seperti onagadori, chabo hingga shamo.
Sejarah ayam lokal Jepang
Saat ini ada sekitar berbagai jenis ayam lokal (Gallus gallus domesticus) yang dikenal di dunia, dimana sekitar 40 jenis ayam lokal di antaranya telah dikembangkan di Jepang (Tsudzuki, 2003). Berbagai jenis ayam lokal Jepang dikembangkan tidak hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga untuk tujuan sosial-budaya seperti permainan, keindahan, hingga keelokan suaranya. Meskipun mempunyai keanekaragaman jenis ayam lokal, namun, asal-usul dan sejarah pengembangbiakan ayam di Jepang masih belum sepenuhnya jelas. Terutama jenis yang dikembangkan sebelum Era Meiji (1868- 1912) yang acapkali sering menjadi kontroversi.
Berdasarkan karya berjudul “The History of Japanese Native Chicken” karya Oana menjelaskan bahwa ayam lokal Jepang dikatagorikan menjadi tiga keturunan, yaitu “Jidori”, “Shokoku”, dan “Shamo (O-Shamo)”. Ketiganya diintroduksi secara terpisah dari negara asing pada periode yang berbeda. Jidori adalah ayam lokal yang mempertahankan karakter primitif yang terlihat pada ayam hutan merah (G. gallus), nenek moyang ayam domestik. Menurutnya nenek moyang Jidori diperkenalkan ke Jepang pada Era Yayoi (1,000 SM-300 M) melalui Semenanjung Korea. Sebenarnya Jidori adalah nama umum yang tidak menunjukkan ras tertentu. Dan saat ini, Jidori diklasifikasikan menjadi beberapa ayam lokal seperti Tosa-Jidori, Ise (Mie) -Jidori, Gifu-Jidori, dan Iwate-Jidori, penamaan ini tergantung pada daerahnya. Masih dari sumber yang sama, Shokoku adalah ras yang estetis. Dipercaya bahwa Shokoku diimpor dari Tiongkok pada Era Heian (794-1.185), dan beberapa ras tambahan seperti Onagadori (ayam berekor panjang) dan Totenko (ayam cakar panjang) berasal dari Shokoku. Kemudian, shamo adalah jenis yang dikhususkan untuk sabung ayam dan diyakini berasal dari Thailand pada zaman Edo (1.603-1.868).
Sementara itu, menurut Ayano dkk (2020), nenek moyang utama ayam lokal adalah ayam hutan merah (Gallus gallus) yang hidup di hutan tropis yang diperkirakan telah didomestikasi di Asia Tenggara lebih awal dari 6000 SM. Sejarah panjang ayam ini terkait erat dengan proses migrasi dan perdagangan manusia. Dimana banyak rute perdagangan kuno di seluruh benua Eurasia memainkan peran penting dalam membawa berbagai ras ayam ke setiap wilayah, dan Jepang merupakan salah satu ujung timur rute perdagangan 1000–2000 tahun yang lalu.
Masih dari sumber yang sama, ayam lokal Jepang ditetapkan sebagai ras ayam yang mulai dipelihara dan dikembangkan pada era Meiji (1868–1912). Hampir 50 ras dikenal sebagai ras asli. Ras-ras ini telah diklasifikasikan secara bibliografis menjadi tiga kelompok, yaitu Jidori, Shokoku, dan Shamo. Ayam Jidori, yang diyakini sebagai yang tertua di antara ketiga kelompok, diperkenalkan ke Jepang lebih dari 2000 tahun yang lalu dan telah dipelihara sebagai ras lokal di seluruh Jepang.
Kemudian Shokoku diperkirakan telah diperkenalkan ke Jepang dari Cina sekitar 1000 tahun yang lalu. Shokoku awalnya dipelihara untuk kebutuhan ayam aduan. Namun karena mempunyai tampilan yang estetik, jenis ayam ini kemudian digunakan sebagai ras dasar untuk menghasilkan beberapa ras ayam hias. Adapun jenis Shamo tampaknya telah dibawa ke Jepang sekitar 1000–500 tahun yang lalu untuk tujuan adu ayam. Jenis ayam ini memiliki postur tegak, leher panjang, dan kaki panjang dan tebal, mirip dengan jenis ayam yang digunakan untuk adu ayam di seluruh Asia Tenggara. Berbagai jenis ayam telah ditetapkan sejak abad ke-17 dengan menyilangkan tiga kelompok ayam yang dijelaskan di atas, atau mengimpor jenis ayam dari luar negeri, seperti Ukokkei dan Chabo.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










