Industri perunggasan Mesir menjadi salah satu industri pangan terpenting yang berhasil mencapai swasembada daging unggas dan meraih keuntungan tertinggi dari devisa melalui ekspor ke luar negeri. Ditengah berbagai kekuatannya, beberapa kelemahan masih menjadi pekerjaan rumah tangga yang menanti sebuah solusi.

Mesir merupakan salah satu negara terpadat di Afrika dan Timur Tengah, dengan populasi 114 juta jiwa (Worldometers, 2024) yang terkonsentrasi di sepanjang Sungai Nil. Negara ini memiliki perekonomian yang beragam dengan sumber daya alam yang kaya, termasuk lahan pertanian. Tak khayal apabila sektor pertanian mempunyai peran penting dalam komponen utama ekonomi Mesir. Berdasarkan laporan United States Agency for International Development (USAID), pada tahun 2022 sektor pertanian menyumbang 11,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara Mesir, menyumbang 28 persen dari semua lapangan pekerjaan, dan lebih dari 55 persen pekerjaan di Mesir berkaitan dengan pertanian. Mesir berencana untuk meningkatkan GDP pada sektor pertanian menjadi sebesar 12 persen dan meningkatkan produksi pertanian sebesar 30 persen pada tahun 2024.

Dari berbagai macam subsektor pertanian, industri perunggasan dianggap sebagai salah satu usaha yang krusial bagi negara Mesir. Berdasarkan data yang dirilis oleh Global Agricultural Information Network (GAIN-USDA), industri perunggasan Mesir menaungi 10.731 peternakan berlisensi, dari total 60.000 entitas yang ada, dengan investasi mencapai EGP 100 miliar ($ 5,09 miliar). Pada tahun 2021, industri ini menghasilkan 1,5 miliar ayam pedaging, dan 13 miliar butir telur. Dengan produksi tersebut, Mesir telah berhasil mencapai swasembada telur dan 95% swasembada daging ayam. Berdasarkan data dari Statista memperlihatkan bahwa volume produksi daging ayam ras dalam 5 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Dimana pada tahun 2020, 1,5 MT ; 2021, 1,53 MT ; 2022, 1,55 MT ; dan 2023 1,59 MT. 

Sementara itu menurut laporan yang dikeluarkan oleh The Ministry of Agriculture and Land Reclamation (MALR), industri perunggasan di Mesir telah membuka lapangan pekerjaan untuk sekitar 3 juta pekerja dengan jumlah total perusahaan perunggasan di negara ini sekitar 38.000, termasuk peternakan, pabrik pakan, rumah pemotongan hewan, dan outlet yang menjual obat-obatan hewan dan vaksin. 

Di sisi lain, The Union of Poultry Producers (UPP) menguraikan bahwa ke depan Mesir akan meningkatkan investasi di sektor ini, untuk dapat memproduksi 2 miliar ayam pedaging pada tahun 2030, serta menggandakan produksi telur ayam. Hal ini juga didukung oleh The Ministry of Agriculture and Land Reclamation (MALR) yang memberikan kemudahan perizinan untuk proyek-proyek industri perunggasan. Selain itu, dalam pengembangan industri perunggasan, pemerintah telah mengalokasikan lahan gurun di Mesir bagian barat untuk investasi baru di perunggasan dengan nilai mencapai EGP 1,5 miliar (atau senilai dengan $90,9 juta). Investasi ini ditujukan untuk pengembangan usaha pembibitan GPS dengan populasi 100 ribu, PS 4,2 juta dan 62 juta broiler setiap tahunnya. Selain itu untuk mendorong industri perunggasan di Mesir, industri pakan juga akan terus tumbuh sekitar 2-3% setiap tahunnya.

Pendorong dan penghambat produksi daging unggas

Industri perunggasan Mesir memegang peranan tersendiri dalam pemenuhan pangan masyarakat, sekaligus penyumbang ekonomi bagi negara. Namun demikian, seperti halnya industri pertanian lainya, industri perunggasan Mesir juga memiliki banyak risiko. Dimana perunggasan telah terpapar pada beberapa kesulitan selama dekade terakhir yang menyebabkan penurunan produksi dan menyebabkan fluktuasi dalam pertumbuhannya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com