Oleh : Shofiyatun Nisa’*
Masalah perunggasan tampaknya tak kunjung usai hingga saat ini. Dimulai dari tingginya harga DOC, pakan yang terlalu mahal, sampai posisi tawar peternak di pasar bebas yang dipertaruhkan. Kini ancaman ayam Brasil juga telah menghantui pasar Indonesia. Sekarang adalah masa di mana kaum milenial sedang diuji dan dipertaruhkan untuk peternakan Indonesia di masa mendatang.
Eksklusi sosial merupakan istilah yang tepat tentang kondisi yang sedang dirasakan oleh para peternak di negeri ini. Kondisi ini merupakan saat di mana peternak dipinggirkan dalam segala hal. Berbagai rangkaian protes telah dilakukan, tentu ini merupakan bukti bahwa masyarakat peternak benar-benar tersisihkan dan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Baca Juga : Nasib Peternak Rakyat
Langkah konkret dalam pemberdayaan peternak dengan mengintegrasikan berbagai elemen tentu akan menjadi sebuah aksi perubahan bagi peternakan di masa mendatang. Konversi harga atau penguatan harga produksi di tingkat peternak perlu dikaji ulang. Harga dalam ekonomi sama dengan nilai atau norma dalam sosiologi. Tentu ini yang seharusnya menjadi dasar apakah kesejahteraan peternak benar-benar tercapai atau tidak.
Melihat kondisi sekarang, rasanya cukup sulit bagi peternak untuk bisa sejahtera jika kondisinya masih seperti ini. Semoga dari 5 program prioritas presiden yang baru saja dilantik pada 20 Oktober 2019 lalu bisa memberikan pengaruh yang nyata bagi peternak dengan peningkatan sumber daya manusia, penyederhanaan segala bentuk kendala regulasi, hingga transformasi ekonominya.
Peternakan memiliki peran penting dalam perekonomian dan kemakmuran perdesaan. Tergerusnya uang di perdesaan ke perkotaan merupakan salah satu fenomena yang terjadi akibat berpindahnya kaum intelektual menuju perkotaan yang membuat desa tak lagi diperhatikan.
Peran mahasiswa sebagai masyarakat kelas menengah tentu harus hadir di tengah-tengah peternak disaat kondisi mereka sedang terpinggirkan seperti saat ini. Selain itu, upaya advokasi bersama dalam menghadapi berbagai regulasi yang tidak berpihak pada kepentingan peternak juga semestinya dilakukan agar peran desa sebagai lokus produksi dan reproduksi pangan asal ternak tetap berlangsung dan tidak hilang dimakan zaman. *Koordinator Wilayah II ISMAPETI dan Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Melihat Masa Depan Perunggasan Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153