Suasana kuliah umum USU yang menghadirkan CPI
POULTRYINDONESIA, Medan – Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah umum bertemakan ‘Perkembangan Bisnis Perunggasan Global dan Indonesia 2025’ secara hybrid di Medan pada Rabu, (7/5/2025). Kegiatan ini menghadirkan drh. Bambang Sutrasno selaku Regional Head Sumatera sebagai narasumber utama. Selain itu, dalam acara yang diikuti oleh  30 peserta online dan 30 peserta offline ini, juga turut dihadiri oleh jajaran pimpinan kampus, termasuk Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si., IPM. selaku Ketua Program Studi Peternakan Universitas Sumatera Utara.
Kuliah umum ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan menjadi salah satu bentuk kerja sama antara CPI dan USU. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkecil kesenjangan antara teori akademik dan praktik di lapangan dalam industri perunggasan, serta memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai tantangan yang dihadapi oleh industri perunggasan secara umum.
Dalam sambutannya, Dr. Nevy Diana Hanafi, S.Pt., M.Si. selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Peternakan menyampaikan pentingnya kolaborasi antara industri dan akademisi untuk memudahkan mahasiswa memahami kondisi industri perunggasan sesuai dengan yang terjadi di lapangan.
”Kita di kampus itu lebih dominan memberikan pengetahuan teori. Maka dari itu, kami mengundang praktisi untuk membagikan pengalamannya dan menggambarkan realitas industri saat ini,” jelasnya.
Selanjutnya drh. Bambang Sutrasno dalam materinya menyampaikan gambaran tantangan yang dihadapi oleh industri perunggasan dalam negeri yang dinilai masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga.
”Salah satu hambatan terbesar adalah mahalnya harga di tingkat konsumen, dimana mata rantai distribusi kita masih panjang. Jika harga bisa ditekan pasti konsumsi naik,” jelasnya.
Ia juga membandingkan konsumsi ayam Indonesia yang masih di angka 12 kg/kapita/tahun, yang masih jauh tertinggal dari Malaysia yang telah mencapai 50 kg. Selain itu, dirinya juga menyoroti lemahnya sistem cold chain nasional yang juga mempengaruhi efisiensi distribusi.
Secara global, dirinya menyampaikan bahwa tantangan muncul dari ketegangan geopolitik yang menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan, terutama komoditas pakan ternak.
“Selat Suez itu bisa dilewati untuk jalur perdagangan, tetapi karena melewati beberapa negara yang sedang konflik, maka menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sehingga banyak ekspotir yang memilih melewati jalur yang lebih aman meskipun secara jarak lebih jauh dan menambah biaya transportasi”.
Di sisi lain, Bambang menambahkan ancaman penyakit seperti flu burung dan salmonella juga masih menjadi masalah besar bagi industri pasar global. Dimana beberapa negara sangat ketat, terkait keamanan pangan, sehingga menyulitkan terjadinya ekspor produk perunggasan.