POULTRYINDONESIA, Jakarta – Genetik ayam ras, baik broiler maupun layer menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya. Hal ini dijelaskan secara mendetail dalam webinar Poultry Indonesia Forum edisi ke 27 yang mengangkat tema “Perkembangan Genetik Ayam Ras”, Selasa (22/8).
Dalam materinya, Amin Suyono selaku Key Account Technical Manager, Cobb Vantress Asia Pacific menjelaskan bahwa bahwa dari perkembangan genetik broiler yang terjadi, saat ini dibutuhkan lebih sedikit biji-bijian dan pakan untuk memproduksi daging ayam. Artinya efisiensi pakan pada broiler ini terus meningkat. pada tahun 1957 untuk menghasilkan ayam dengan bobot 2,2 kg membutuhkan pakan 6,01 kg. Untuk saat ini, pada tahun 2020 lalu, untuk menghasilkan bobot yang sama hanya dibutuhkan 3,82 kg pakan. Atau hanya sekitar setengahnya.
“Selain itu perkembangan juga terjadi pada proporsi karkasnya, yang dulu pada tahun 1957 hanya sekitar 61 %, dan pada tahun 2020 sudah di atas 82,03 %. Tak hanya itu, perubahan juga terjadi pada proporsi daging dada broiler. Dimana dulu proporsinya hanya 11,5%, sekarang naik jauh menjadi sekitar 27,88 %. Jadi tak heran apabila bentuk broiler dulu ramping dan terlihat seperti pejantan layer, namun sekarang menjadi lebih bulat,” jelasnya.
Dengan performa produksi yang semakin baik, broiler saat ini juga menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Untuk itu, dibutuhkan manajemen perkandangan yang sesuai dan mampu mengakomodir kebutuhan broiler. “Yang saya lihat, untuk kandang open house, mungkin di awal pertumbuhan masih oke, tapi begitu masuk umur 2 minggu ke atas dimana ukuran tubuh semakin besar dan panas tubuh yang dikeluarkan semakin banyak, maka biasanya performa ayam akan tersendat. Karena kandang open house tidak ada sistem pengaturan lingkungan selengkap kandang closed house. Untuk itu kandang close housed ini penting untuk mengakomodir kebutuhan ternak,” terang Amin. Dirinya menambahkan, untuk mencapai performa optimal peternak juga harus memperhatikan manajemen pre-heating, intake pakan seawall mungkin, ventilasi kendang yang memadai serta air minum yang higienis harus selalu tersedia.
Sementara itu, I Made Dewa Santana selaku South East Asian Technical Service Manager Hy-Line International banyak menjelaskan terkait perkembangan genetik layer dan cara mengoptimalkannya. Menurutnya selain produktivitasnya yang meningkat, panjang siklus produksi pada layer masa kini juga semakin panjang. Dari data yang dipaparkan, layer tahun pada tahun 1992 mampu berproduksi hingga umur 80 minggu dengan menghasilkan telur sekitar 321,4 butir. Dengan masa produksi yang sama, layer pada tahun 2022, mampu menghasilkan telur sekitar 382,5 butir, atau meningkat 61,1 butir. Lebih lanjut, layer saat ini mampu berproduksi hingga 100 minggu dengan menghasilkan telur sekitar 482,0 butir.
Namun demikian dirinya menegaskan bahwa dengan perkembangan genetik yang ada, maka harus diimbangi dengan adaptasi manajemen pemeliharaan yang tepat. Menurutnya dalam pemeliharaan layer terdapat 3 hal kunci utama yang harus diperhatikan Yang pertama adalah berat badan. Menurutnya di setiap umur pertumbuhan ayam ras memiliki peran dan fungsi khusus yang berbeda, sehingga para peternak jangan hanya berfokus pada pertambahan berat badan pada umur tertentu, namun pertambahan berat badan mingguan dan juga memperhatikan seluruh kesatuan sistem pada ayam tersebut.
“Seperti diketahui pada pemeliharaan untuk ayam ras petelur terdapat beberapa fase, yaitu brooding, growing, dan fase produksi. Fase 0-6 minggu merupakan fase yang terpenting bagi pertumbuhan ayam karena pada fase tersebut merupakan periode pertumbuhan sistem imun dan pencernaan ayam yang merupakan pondasi awal bagi tumbuh kembang ayam. Ketika pertumbuhan dalam periode tersebut tidak optimal, maka potensi ternak untuk mengalami gangguan kesehatan akan meningkat,” ungkap Santana
Selanjutnya pada periode pemeliharaan 6 – 16 minggu menurut Santana, sedang terjadi proses pembentukan frame atau jika dianalogikan seperti sebuah pabrik, maka periode tersebut merupakan periode pembentukan besar atau kecilnya sebuah kapasitas produksi pada sebuah pabrik. “Jika pada periode tersebut tidak mencapai target yang sudah ditentukan, maka otomatis frame yang dimiliki oleh ayam tersebut tidak akan optimal, otomatis produksi telur nantinya tidak akan sebesar ayam dengan frame yang sesuai dengan target yang ditentukan. Akan sangat terlihat nantinya di umur 16 sampai dengan masa produksi ketika ayam tersebut tidak mencapai target dari periode 0-16 minggu,” ujarnya.
Poin kunci kedua yang ditekankan adalah tingkat keseragaman. Dimana makin seragam, ayam maka puncak produksi bisa tercapai bersama, produksi telur lebih banyak, serta ukuran telur pun lebih merata. “Keseragaman ini sangat penting sekali karena semua rentetan manajemen yang kita lakukan itu basenya adalah keragaman. Dan poin kunci terakhir adalah program pencahayaan. Ini yang masih kadang-kadang kita susah jumpai di peternak. Terutama para peternak tradisional yang belum melakukan program pencahayaan. Program pencahayaan ini sangat penting pada ayam layer modern karena dia akan membantu meningkatkan produktivitas dan menentukan ukuran telur. Dalam penentuan program pencahayaan, maka peternak harus memperhatikan sistem kandang yang digunakan, berat badan dan keseragaman pada kandang,” tambahnya.