Pengembangan pasar ekspor dinilai menjadi alternatif solusi untuk mengatasi oversupply, memperluas akses pasar, dan memperbaiki ekosistem industri perunggasan nasional

Indonesia memiliki industri perunggasan yang menjanjikan dengan kontribusi besar atas 2/3 dari total konsumsi protein masyarakat serta memegang proporsi 80,77% terhadap total produksi ternak nasional. Tidak hanya itu, industri ini memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional, dengan menyumbang sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor peternakan. Sebagai industri padat karya, perunggasan juga memainkan peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, yakni sekitar 10% dari total angkatan kerja nasional. Nilai ekonominya pun sangat besar, dengan estimasi omzet mencapai Rp700 triliun per tahun.

Namun demikian, kemajuan di sisi produksi ini belum sepenuhnya diimbangi oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat yang sepadan. Meskipun konsumsi daging dan telur unggas nasional terus meningkat, laju pertumbuhannya masih lebih lambat dibandingkan pertumbuhan produksi. Ketidakseimbangan ini menyebabkan persoalan klasik dalam dunia agribisnis, yakni kelebihan pasokan (oversupply) yang berdampak pada tekanan harga di tingkat produsen.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri perunggasan nasional. Di tengah situasi tersebut, wacana untuk memperluas pasar ekspor semakin mengemuka. Strategi ini tidak hanya membuka peluang pasar baru, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan keseimbangan dalam ekosistem perunggasan nasional.

Dari sisi peluang, prospek ekspor unggas sangat besar. Secara global, tren konsumsi daging unggas diproyeksikan terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan populasi dunia dan pergeseran preferensi dari daging merah ke daging unggas. Faktor utama yang mendorong pergeseran ini adalah harga daging unggas yang lebih terjangkau serta kemudahan dalam pengolahan.

Menurut laporan OECD dan FAO (2024), daging unggas diperkirakan akan menyumbang 43% dari total konsumsi protein hewani global pada tahun 2033. Sekitar 79% pertumbuhan konsumsi ini akan berasal dari negara-negara berpenghasilan menengah. Peningkatan permintaan juga didorong oleh kesadaran terhadap isu lingkungan, mengingat industri unggas menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan industri daging merah, seperti sapi.

Dimana negara-negara di Asia dan Afrika diperkirakan akan menjadi kontributor utama dalam peningkatan konsumsi unggas global. Di kawasan ini, pertumbuhan konsumsi diproyeksikan melampaui kemampuan produksi dalam negeri, sehingga membuka peluang besar bagi negara-negara produsen seperti Indonesia untuk memasuki pasar ekspor.

Urgensi Menyasar Pasar Global

Selain sebagai langkah pengembangan pasar dan menambah devisa negara, pengembangan pasar ekspor bagi industri perunggasan juga diharapkan dapat menjadi pendorong keseimbangan ekosistem perunggasan. Profesor Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Nyak Ilham menjelaskan bahwa pengembangan pasar ekspor menjadi salah satu strategi penting dalam menyeimbangkan kondisi oversupply yang kerap terjadi di industri perunggasan Indonesia. Menurutnya, dengan membuka akses ke pasar internasional, suplai produk unggas nasional tidak hanya bertumpu pada pasar domestik, sehingga tekanan terhadap harga dapat dikurangi dan kestabilan harga bisa terjaga. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif secara luas, baik bagi peternak mandiri, perusahaan kemitraan, hingga pelaku industri unggas secara keseluruhan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com