Temulawak sebagai obat herbal untuk unggas
Oleh: Agung Adi Candra, SKH, M.Si*
Gaya hidup ‘kembali ke alam’ menjadi sebuah tren yang sedang naik daun di kalangan masyarakat, sehingga tak sedikit orang menggunakan bahan yang terdapat di alam. Salah satunya yaitu untuk pengobatan atau disebut dengan obat herbal. Pemanfaatan tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat sudah dilakukan sejak zaman dahulu jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern menyentuh masyarakat. Banyak keuntungan yang akan didapat jika memanfaatkan obat herbal,  Selain lebih ekonomis, efek samping dari obat herbal relatif lebih kecil, oleh sebab itu penggunaan obat herbal alami dengan formulasi yang tepat sangat penting dan tentunya lebih aman dan efektif.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang telah menyediakan berbagai macam flora untuk dapat dimanfaatkan menjadi obat bagi manusia maupun hewan, salah satunya temulawak yang berperan sebagai hepatoprotektor.

Sediaan obat herbal dapat diidentifikasi menjadi tiga macam, di antaranya yaitu jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka. Sediaan jamu merupakan sediaan obat yang bahan dasarnya berupa simplisia atau bahan dasar yang belum mengalami perlakuan pengolahan apapun. Di antara berbagai macam tumbuhan yang terdapat di Indonesia, temulawak merupakan primadona tumbuhan obat di Indonesia, karena banyak digunakan sebagai obat maupun bahan obat.
Temulawak di Indonesia digunakan sebagai simplisia tunggal atau merupakan komponen dari suatu ramuan. Menurut Moelyono (2007), temulawak ini dalam konteks penggunaan tradisional digunakan sebagai obat untuk mengatasi penyakit tertentu, dan dapat juga digunakan sebagai penguat daya tahan tubuh. Manfaat lain yang dimiliki temulawak yaitu sebagai antihepatitis, antioksidan, antihiperlipidemia, antiviral, antikarsinogenik, antiinflamasi, dan detoksifikasi.
Hati merupakan organ aksesori dalam sistem pencernaan dan kelenjar terbesar dalam tubuh. Hati pada unggas memiliki lebih sedikit jaringan ikat dibandingkan dengan hati mamalia. Hati juga merupakan organ yang unik, sel hepatositnya tidak dapat memperbaiki selnya yang rusak. Akan tetapi, selama sebagian besar sel hati berada dalam keadaan baik-baik saja, maka hati masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Hati pada unggas cenderung lebih besar dibandingkan mamalia jika dibandingkan dengan ukuran tubuh.
Baca Juga: Upaya Pencegahan dan Potensi Herbal untuk DVH
Ukuran dan warna hati ayam tergantung dari umurnya, peningkatan bobot dari hati akan meningkat secara signifikan seiring dengan pertumbuhan ayam. Faktor lain yang juga mempengaruhi ukuran hati yaitu jenis pakan, asupan pakan, kualitas pakan, bibit, faktor lingkungan, dan teknik pemeliharaan.
Hati memiliki fungsi utama dalam proses detoksfikasi tubuh. Proses detoksifikasi terjadi pada proses oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi, dan konjugasi terhadap berbagai macam bahan yang berbahaya bagi tubuh seperti racun dan over dosis obat. Kerusakan hati pada ayam juga dapat dipicu oleh mikotoksin pada pakan, virus seperti marek, dan adanya heat stress. Kerusakan hati dapat dicegah dengan zat yang bersifat hepatoprotektor, yaitu zat yang memberikan perlindungan kepada hati dari kerusakan yang ditimbulkan oleh racun, obat, dan lain-lain.
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efek hepatoprotektor dari temulawak 500mg/kg BB (dosis didapatkan dari riset sebelumnya) kepada broiler yang diinduksi dengan parasetamol sebanyak 1350mg/Kg BB selama 7 hari sebagai induksi perusak hati. Pengaruh keefektifan temulawak sebagai hepatoprotektor ini akan diukur berdasarkan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) atau disebut dengan aspartate aminotransferase (AST) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) atau disebut dengan alanine aminotransferase (ALT) yang diambil sebelum dan setelah pemberian temulawak.
Temulawak merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di Indonesia dan berfungsi sebagai hepatoprotektor
Pemberian parasetamol 7 hari meningkatkan kadar rata-rata SGOT dari 129,6 menjadi 160,6. Hal yang sama juga terjadi pada kadar SGPT dengan peningkatan rata-rata nilai 58,6 menjadi 68. Peningkatan kadar SGOT dan SGPT mengindikasikan bahwa pemberian parasetamol meningkatkan kerja hati untuk proses detoksifikasi. Menurut Wilmana dan Murwanti (2000), pemberian parasetamol 10 gram dilaporkan dapat menimbulkan nekrosa hati yang ditandai dengan peningkatan kadar SGOT, SGPT, bilirubin serum, enzim laktat dehydrogenase, serta perpanjangan masa prototrombin.
Pemberian temulawak setelah pemberian parasetamol selama 7 hari berturut-turut pada ayam mampu menurunkan nilai rata-rata SGOT 31 dan SGPT 9,3. Hal in menunjukkan adanya kerusakan hati akibat parasetamol dapat diperbaiki oleh pemberian temulawak. Hasil penelitian ini juga memperkuat penelitian sebelumnya oleh Hartono et al. (2004) yang menyatakan bahwa temulawak dapat melindungi kerusakan hati akibat zat-zat toksik.*Pengajar pada Program Studi Teknologi Produksi Ternak, Jurusan Peternakan, Politeknik Negeri Lampung
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Melindungi Kerusakan Hati Ayam Menggunakan Temulawak”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153