POULTRY INDONESIA, Surabaya – Permasalahan yang sering terjadi di perkotaan seperti Surabaya adalah sampah, termasuk sampah organik. Pemerintah Kota Surabaya sudah melakukan berbagai macam cara untuk melakukan pengolahan sampah organik, seperti melakukan komposting yang menghasilkan pupuk.
Baca juga : Peningkatan Produksi Ayam Kampung Melalui Persilangan
Menurut drh. Gagat Rahino H.S.,M. Si, Kepala Seksi Pengembangan Peternakan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Kota Surabaya pada Minggu ( 13/11) metode komposting kurang sesuai untuk kondisi akhir- akhir ini. Sebab, prosesnya panjang dan hanya menghasilkan satu produk berupa pupuk kompos saja.
“Metode yang relevan sekarang adalah dengan metode biokonversi, metode ini merupakan proses untuk mendegradasi, mengekstraksi dan mengubah nutrisi (protein) yang terdapat di dalam sampah organik dengan menggunakan maggot atau larva BSF,” terangnya dalam acara Webinar Study with UBUR ( Unggas dan Burung),Fakultas Kedokteran Hewan (FKH),Universitas Airlangga, Surabaya via Zoom Meeting.
Gagat mengungkapkan larva mampu mengubah sejumlah besar biomassa limbah organik menjadi protein dan lemak. Menurutnya dengan menggunakan metode ini proses dekomposisi dilakukan dalam waktu 24 jam, dengan produk berupa pupuk padat, pupuk cair, protein berupa maggot untuk pakan hewan seperti ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan).
Ia menceritakan bahwa pihaknya sedang mengembangkan pemanfaatan maggot untuk pakan ayam KUB. Pihaknya mengaku lebih memilih ayam KUB karena ayam ini memiliki sejumlah kelebihan seperti produksi telur tinggi, bisa mencapai 160 – 180 butir/ tahun. Hen day (daya telur per hari) bisa mencapai 45 %- 50%,dengan sifat mengeram yang sudah berkurang, serta cenderung lebih tahan terhadap penyakit.
“Ayam KUB yang kami gunakan mempunyai dua tipe, sebagai petelur dan pedaging. Kami juga sudah memberikan ransum pada ayam dengan campuran : maggot, azolla, dedak, jagung, mineral serta roti bs (roti yang sudah tidak layak dikonsumsi manusia),” pungkasnya.