Oleh : Iman Hernaman*
Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang biasanya dihadapi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah di Indonesia. Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal, sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental. Beberapa studi menunjukkan risiko yang diakibatkan stunting yaitu penurunan prestasi akademik, meningkatkan risiko obesitas lebih rentan terhadap penyakit tidak menular dan peningkatan risiko penyakit degeneratif.

Pemeliharaan dan perawatannya yang sederhana dan mampu menghasilkan daging dan telur, membuat budi daya ayam kampung menjadi kegiatan yang potensial sebagai penghasil gizi keluarga dan upaya pencegahan stunting.

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh yang memadai. Remaja yang terhambat pertumbuhannya lebih tinggi tingkat kecemasan, gejala depresi, dan memiliki harga diri yang rendah dibandingkan dengan remaja yang tidak terhambat pertumbuhannya. Anak-anak yang terhambat pertumbuhannya sebelum berusia 2 tahun memiliki hasil yang lebih buruk dalam emosi dan perilakunya pada masa remaja akhir. Oleh karena itu, stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengembangan potensi bangsa.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) bahwa angka stunting Indonesia pada tahun 2022 adalah 21,6 persen. Sementara itu, menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi sadikin bahwa  target pemerintah pada tahun 2024 turun mencapai angka 14 persen. Masalah stunting bisa dipicu oleh banyak faktor diantaranya berkaitan dengan kurangnya asupan gizi. Ibu hamil dan bayi pada usia 6-24 bulan adalah fase yang paling tinggi yang menyebabkan stunting.
Untuk mencegah atau menurunkan kasus stunting, maka dalam jangka pendek dapat dilakukan intervensi pada ibu hamil dan bayi yang berisiko stunting melalui asupan gizi yang cukup, terutama protein hewani yang dapat diperoleh dari telur, daging, susu, dan ikan. Bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah intervensi ini tentu harusnya datang dari pihak pemerintah pusat atau pemerintah daerah, karena daya beli yang masih kurang terhadap makanan yang bergizi. Namun demikian, intervensi jangka pendek tersebut sangat bergantung pada anggaran pemerintah yang terbatas, sehingga risiko terulangnya kasus stunting akan muncul lagi atau bahkan akan bertambah jika angka kemiskinan terus meningkat. Strategi jangka panjang sangat diperlukan dalam penyediaan makanan bergizi agar tetap berkelanjutan dan masyarakat tidak bergantung lagi pada anggaran pemerintah. 
Ayam kampung sumber makanan bergizi 
Ayam kampung banyak dijumpai di daerah pedesaan dan hampir setiap rumah tangga memeliharanya. Hal ini disebabkan pemeliharaan ayam kampung relatif mudah dan tidak membutuhkan modal besar, dapat beradaptasi dengan lingkungan dan mampu memanfaatkan limbah serta dapat diusahakan oleh setiap lapisan masyarakat tanpa mengganggu lahan usaha tani lainnya. Ayam kampung dikenal sebagai ternak yang mempunyai daya hidup yang tinggi, dapat hidup di berbagai wilayah dengan perbedaan kondisi iklim yang ekstrem, serta mempunyai kemampuan untuk hidup dalam kondisi pakan dengan kandungan nutrisi yang rendah. Ayam kampung memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan mudah dirawat. Mereka dapat hidup bebas di alam bebas tanpa perawatan khusus. Agar ayam kampung ini tumbuh dengan baik, cukup diberi pakan berupa biji-bijian dan vitamin. Oleh karena itu, tidak perlu melakukan upaya ekstra untuk menjaga kesehatan ayam kampung. 
Ayam kampung merupakan contoh hewan ternak yang bisa memenuhi kebutuhan nutrisi pokok masyarakat. Dimana produksi dari ayam kampung seperti telur dan daging dapat menyediakan gizi keluarga. Ayam kampung potensial penghasil telur. Produksi telur ayam kampung pada umumnya yang tidak mengeram 132 butir per ekor per tahun, mengeram dan tidak mengasuh anaknya 115 butir per ekor per tahun, serta mengeram dan mengasuh anaknya sampai lepas sapih mencapai 52 butir per ekor per tahun. Sementara itu, jenis ayam kampung unggul menghasilkan telur yang lebih besar dapat mencapai 160-180 butir/tahun. 
Telur merupakan sumber gizi yang sangat baik. Satu butir telur mengandung protein, lemak, sejumlah vitamin (A, B, D, K), kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, dan seng.  Telur diperlukan untuk kesehatan membran sel dan baik untuk fungsi mental dan memori. Telur juga dapat mempertahankan kekebalan tubuh dan merupakan antioksidan kuat. Vitamin yang terkandung dalam telur dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mengubah makanan jadi energi. Vitamin yang dimiliki juga berguna untuk penglihatan, pertumbuhan sel, dan kulit yang sehat, dan sebagai antioksidan. Telur bila dikonsumsi setiap hari dapat meningkatkan kesehatan kognitif, karena telur mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan oleh otak dalam mengatur memori. Telur membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Dilaporkan oleh beberapa peneliti bahwa telur merupakan sumber nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan dan memperkenalkan telur lebih awal selama pemberian makanan pendamping akan meningkatkan gizi anak dan berkontribusi dalam mengurangi stunting. Kehamilan meningkatkan kebutuhan nutrisi wanita secara signifikan. Berkat kepadatan nutrisinya, telur adalah pilihan makanan yang bagus selama kehamilan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ekstra ibu dan bayi selama masa hidup ini. Selain itu, Ibu yang sedang hamil dapat mengonsumsi satu butir telur yang kaya akan kolin, protein, lemak, serta omega-3 yang sangat penting bagi pertumbuhan sel-sel otak dan penglihatan bayi.
Selain telur, ayam kampung juga menghasilkan daging sebagai sumber gizi keluarga. Daging ayam kampung lebih disukai konsumen karena dinilai lebih baik mutunya dan lebih padat, rasanya lebih gurih, kandungan lemak dan kolesterol lebih rendah, dan kandungan protein tinggi. Nilai gizi daging ayam kampung sebagai sumber protein hewani cukup baik, yaitu mengandung air 75,15 %, protein 23,05 %, lemak 0,81 %, abu 0,89 %. Daging ayam kampung mengandung protein tinggi yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh manusia, sumber vitamin dan mineral, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan tulang. Daging ayam berperan amat penting untuk memperlancar metabolisme tubuh, membentuk otot, dan janin. Nutrisi dalam daging ayam memiliki sifat antioksidan yang meningkatkan metabolisme dan tingkat energi yang baik dan membantu perkembangan sel-sel baru. Kajian pemberian daging ayam pada bayi memberikan efek protektif terhadap stunting, sehingga perlunya intervensi untuk meningkatkan praktik pemberian makanan pendamping ASI, dimulai sejak masa bayi.
Membangkitkan kembali beternak ayam kampung 
Meskipun pemeliharaan dan perawatannya yang sederhana dan menghasilkan daging dan telur yang potensial sebagai penghasil gizi keluarga dan terbukti dapat mencegah stunting, namun dengan maraknya telur dan daging ayam negeri yang mudah diperoleh di warung-warung terdekat menyebabkan kegiatan budi daya ayam kampung di masyarakat semakin berkurang. Padahal semua lapisan masyarakat, termasuk masyarakat tingkat ekonomi rendah akan mampu memeliharanya. Oleh karena itu, perlu dibangkitkan kembali beternak ayam kampung melalui langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Intervensi jangka  pendek melalui bantuan makanan bergizi sifatnya hanya sementara 
  2. Intervensi untuk jangka panjang dengan memberikan bantuan bibit ayam kampung dan/atau kandang dengan pengawasan yang ketat tanpa harus pemerintah terus-menerus memberikan bantuan makanan bergizi. 
  3. Pengalokasian dana desa untuk program ketahanan pangan melalui pengembangan budi daya ayam kampung.
  4. Membangun kesadaran masyarakat arti penting pemenuhan gizi keluarga terutama dalam mencegah stunting melalui upaya beternak ayam kampung.    
  5. Penerapan hasil pengembangan ayam kampung baik sebagai penghasil daging dan telur oleh lembaga penelitian maupun perguruan tinggi kepada masyarakat sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat.
Semoga langkah-langkah ini dapat mewujudkan kembali gairah beternak ayam kampung untuk pemenuhan gizi keluarga terutama dalam mencegah stunting. *Dosen Ilmu Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet UNPAD)
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com