Oleh : Sigit Prabowo*
Dalam kacamata penulis, tantangan perunggasan di Indonesia masih berupa tingginya Biaya Pokok Peternak (BPP). Dampak jika terlu berlangsungnya harga BPP yang tinggi, maka karkas ayam akan terus menerus mahal, sedangkan sudah banyak negara yang menginginkan memasukkan produk unggas ke Indonesia contohnya Brasil dengan alasan harga yang lebih murah dibandingkan daging ayam lokal.
Konsumen tentu menginginkan daging ayam yang murah dan halal tanpa memandang darimana asal karkas ayam itu diproduksi, baik dari impor atau lokal. Karena ketika karkas atau daging ayam Brasil masuk ke pasar domestik, para produsen lokal kemungkinan besar akan sulit untuk bertahan dalam persaingan tersebut.
Baca juga : Sejarah Perkembangan Perunggasan Nasional
Sedangkan untuk tingkat regional, negara yang tergabung dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) harus patuh dengan perjanjian bea masuk 0% yang berlaku sejak tahun 2015. Lalu untuk tingkat pasar global, negara negara yang tergabung dalam WTO (World Trade Organization) juga harus patuh terhadap apapun putusan sidang WTO, terlebih Indonesia juga merupakan salah satu negara pendiri WTO. Selepas Indonesia kalah di Forum Double Panel WTO, mengakibatkan perdagangan bebas untuk komoditas perunggasan tidak bisa terelakkan lagi, saat ini yang bisa dilakukan adalah mencari alasan yang sifatnya hanya untuk mendunda kedatangan produk tersebut.
Terutama pada saat Indonesia kalah dari Brasil pada gugatan 17 Oktober 2017, dan juga Juni 2019 yang membuat Indonesia haris membuka pintu untuk daging ayam Brasil. Imbasnya perdagangan bebas untuk komoditas ayam dan telur tidak bisa dihindari lagi. Terlebih jika sudah memasuki pasar global, maka sudah tidak ada lagi alasan untuk membatasi dan menyekat suatu produk. Telur dan terutama broiler, sudah menjadi komoditas dunia, artinya berbagai perusahaan besar yang punya modal kuat, didukung teknologi, SDM unggul, menguasai sumber daya genetik dan bahan pakan, sekaligus memiliki akses ke pasar global yang akan memiliki peran dominan dalam bisnis perunggasan.
Bagi peternak broiler kelas menengah bawah yang lemah dari sisi permodalan dan teknologi, tidak memiliki akses pasar, nampaknya akan sulit bertahan di bisnis tersebut. Sedangkan bisnis perunggasan secara global sudah berubah, mau tidak mau, suka tidak suka, jika ingin tetap melakukan usaha budi daya sebaiknya bergabung menjadi mitra atau plasma.
Harmonisasi bisnis perunggasan
Penulis ingin mengibaratkan jika bisnis perunggasan adalah sebuah konser paduan suara dengan iringan orkestra yang dipimpin oleh seorang konduktor atau dirigen, maka dibutuhkan kerja tim yang kuat serta konsisten demi membangun kebersamaan. Disini dibutuhkan juga seorang konduktor atau dirigen yang mampu memimpin sebuah orkestra perunggasan supaya terbangun harmonisasi untuk menghasilkan simfoni perunggasan yang indah dan enak dipandang.
Penulis juga ingin mengibaratkan jika perunggasan adalah sebuah gaun yang indah, maka perlu disiapkan sosok desainer dan penjahit yang mampu menjahit sebuah konsep desain berupa regulasi menjadi gaun indah yang bisa dinikmati oleh setiap pelaku usaha perunggasan, sekaligus mempercantik hubungan antara para pelaku usaha di dalamnya. Disini juga diperlukan peran asosiasi mesti ambil peran pada posisinya masing – masing, saling mengisi supaya menghasilkan harmonisasi yang indah dipandang, sekaligus erat dalam lingkup kebersamaan. Lalu peran pemerintah adalah sebagai konduktor perunggasan sangat penting agar ketiga stakeholder besar yaitu perusahaan perunggasan, peternak mandiri (petelur dan broiler), dan konsumen bisa merasakan manfaatnya. Selain itu, dibutuhkan juga kearifan dari pihak perusahaan korporasi dan peternak mandiri untuk bisa saling bekerjasama.
Agar industri perunggasan nasional dapat bermartabat dan adil membagi kesejahteraan dalam menghadapi pasar global (WTO) diperlukan beberapa langkah sebagai berikut.
-
Bebaskan importasi GPS dan bahan pakan (terutama jagung)
-
Bentuk ekosistem usaha yang sehat melalui Publlic Private Partnership sehingga efisiensi secara nasional dapat tercapai
-
Ketika kuota itu dibebaskan berarti telah menumbuhkan bisnis ayam ras di Indonesia agar DOC Parent Stock harganya bisa murah, wajar, dan bersaing. Dampaknya, harga DOC Final Stock bisa terjangkau oleh para peternak mandiri yang hanya memiliki usaha budi daya.
Idealnya masing-masing pelaku usaha perunggasan di Indonesia harus siap menata diri, mengoreksi diri, agar memiliki daya saing yang kuat untuk berkompetisi di pasar global. *Anggota Dewan Pembina Pinsar Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2021 dengan judul “Sejarah Perkembangan Perunggasan Nasional”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153










