POULTRY INDONESIA, Surabaya – Kesehatan lingkungan menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan, tidak hanya terbatas pada kesehatan manusia, tumbuhan, dan hewan. Dalam mengatasi persoalan resistensi antimikroba (AMR/Antimicrobial Resistance), solusi tidak cukup hanya dengan mencari alternatif antibiotik. Membangun keharmonisan lingkungan justru harus menjadi prioritas utama yang dipikirkan dan dilaksanakan secara menyeluruh.
Hal ini disampaikan oleh Hasbullah Abdurrahman, dari Bidang Konsultasi dan Advokasi Sain dan Teknologi UPNT ADHPI, yang juga merupakan Dewan Pakar ASOHI. Ia menjadi narasumber dalam Talk Show: Antimicrobial Resistance (AMR), Ancaman Global Bagi Manusia, Hewan, dan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Forkompedia dan Indolivestock di Grand City Convex, Surabaya, Jumat (4/7).
Menurut Hasbullah, upaya mengatasi AMR harus dimulai dengan menghentikan sikap saling menyalahkan antar pihak. Semua pihak bertanggung jawab atas munculnya AMR. Fokus penanganan tidak hanya terbatas pada pengelolaan antibiotik dan media veteriner, tetapi juga harus mencakup tata kelola produksi dan distribusi antimikroba secara menyeluruh.
“Penekanan pada pendekatan epidemiologi AMR harus lebih diutamakan daripada sekadar mikrobiologi atau farmakologi. Kita harus membangun pemahaman bahwa bakteri dan mikroorganisme lain jauh lebih penting bagi kehidupan di bumi dibandingkan ras manusia. Mikroba bisa hidup tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa mikroba. Maka dari itu, kesehatan global harus lebih diutamakan dibandingkan pertumbuhan ekonomi atau keserakahan,” jelasnya.
Hasbullah menambahkan bahwa meskipun AMR dapat terjadi secara alami, konsumsi antibiotik yang berlebihan secara signifikan mempercepat proses resistensi tersebut. Penggunaan antibiotik pada hewan ternak memiliki keterkaitan erat dengan kejadian resistensi pada manusia. Antibiotik yang digunakan dalam sektor peternakan dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
“Lebih dari 90% antibiotik yang dikonsumsi oleh hewan ternak akan diekskresikan dan akhirnya terlepas ke lingkungan, seperti tanah dan permukaan air. Menurut laporan Majelis Umum PBB tahun 2016, salah satu penyebab utama resistensi antibiotik adalah penggunaan antibiotik pada hewan ternak,” pungkasnya.