Biosekuriti bukan sekadar aturan kebersihan, tapi pagar pertahanan utama yang menentukan tingkat produktivitas sebuah peternakan

Dalam budi daya unggas, keberhasilan suatu produksi tidak hanya ditentukan oleh pakan berkualitas atau manajemen kandang yang efisien. Ada satu hal mendasar yang kerap menjadi pembeda antara peternakan yang sukses dan yang terus-menerus dihantam masalah penyakit yaitu biosekuriti.

Menurut Irfan Hidayat selaku Marketing Feed CPI Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimtara), biosekuriti merupakan serangkaian tindakan dan prosedur untuk mencegah masuk, berkembang, dan menyebarnya agen biologis berbahaya seperti virus, bakteri, maupun parasit di lingkungan peternakan. “Biosekuriti itu ibarat pagar pertahanan. Kalau pagar ini kuat, penyakit tidak akan punya celah untuk masuk, apalagi berkembang dan menyebar,” ujar Irfan saat ditemui di IKN pada Rabu, 8/10.

Menurut Irfan, banyak peternak masih memandang biosekuriti sebagai sesuatu yang rumit dan mahal, padahal justru sebaliknya, biosekuriti adalah investasi jangka panjang yang sangat menentukan hasil produksi. “Sederhana sebenarnya. Biosekuriti itu sistem yang dibuat untuk melindungi ternak kita, ayam kita agar tidak terpapar penyakit dari luar. Tapi sayangnya, hal sesederhana ini sering dilupakan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penerapan biosekuriti tidak dimulai saat ayam sudah masuk kandang, melainkan jauh sebelumnya, bahkan sejak penentuan lokasi kandang. “Pemilihan lokasi itu bagian dari biosekuriti juga. Kandang harus jauh dari pemukiman, jauh dari lalu lintas, dan tata letak kandang, mulai dari gudang pakan, mess karyawan, sampai gerbang, semuanya punya peran dalam melindungi ayam dari sumber penyakit,” paparnya.

Dengan penerapan yang benar, biosekuriti dapat menekan risiko terjangkit dari penyakit, meningkatkan efisiensi pakan, serta mengurangi stres ayam. Menurutnya, kalau biosekuriti jalan, ayam lebih sehat, stres berkurang, maka hasil panen jauh lebih optimal. “Tujuan biosekuriti juga sederhana, mencegah penyakit, mengendalikan bila terjadi wabah, dan meningkatkan produktivitas. Karena ayam yang sehat pasti lebih efisien, pakan lebih hemat, bobot lebih cepat naik, dan hasil lebih stabil,” tambahnya.

Prinsip Utama Biosekuriti: Isolasi, Lalu Lintas, dan Sanitasi

Irfan menjelaskan bahwa ada tiga prinsip utama yang menjadi fondasi biosekuriti di setiap peternakan. Pertama adalah isolasi, yaitu memisahkan unggas sehat dari potensi sumber penyakit untuk mencegah penularan. Kedua, kontrol lalu lintas, yang berfungsi membatasi siapa dan apa saja yang boleh masuk ke area kandang agar tidak membawa bibit penyakit dari luar. Dan yang ketiga, sanitasi, mencakup upaya menjaga kebersihan di seluruh aspek peternakan, mulai dari kandang, peralatan, kendaraan, hingga pekerja. “Setiap orang yang masuk ke kandang wajib ganti baju dan sepatu, tanpa kompromi. Kelihatannya sepele, tapi kalau aturan itu dilanggar sekali saja, akibatnya bisa fatal bagi kesehatan ayam dan hasil produksi,” ujarnya.

Selain itu, sistem tiga zona (merah, kuning, hijau) juga penting diterapkan. Zona merah adalah area luar (parkir dan penerimaan barang), zona kuning sebagai area transisi (tempat ganti pakaian dan disinfeksi), dan zona hijau adalah area produksi yang hanya bisa diakses oleh personel steril. “Desain kandang pun perlu diperhatikan. Kalau kandang tunggal, sebaiknya menghadap timur supaya dapat sinar matahari pagi. Itu disinfektan alami,” tambahnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com