POULTRYINDONESIA, Bogor – Tahun ini, acara Festival Ayam dan Telur (FAT) sebagai event untuk penurunan angka stunting kembali digelar. Dengan menggandeng Pemerintah Kota Bogor, FAT digelar di halaman masjid Al Kahfi, Kiara Residence, Kel. Curug, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor, Sabtu (18/5).
Dalam sambutannya, Dudi Fitri Susandi, M.Si selaku camat Bogor Barat menerangkan bahwa Kecamatan Bogor Barat akan senantiasa melakukan ikhtiar dan berkontribusi untuk menurunkan angka stunting di Kota Bogor.
“Kecamatan Bogor Barat terdiri dari 16 Kelurahan dan merupakan wilayah yang berada di Kota Bogor. Awalnya stunting terjadi pada Tahun 2023, dan untuk mengatasinya kami bekerja sama dengan puskesmas-puskesmas yang berada di wilayah Kecamatan Bogor Barat, sehingga lahirlah sebuah program bernama grosting. Program ini merupakan hasil kolaborasi bersama 32 stakeholder, utamanya IPB University. Dalam hal ini Ketua Agrianita melakukan penugasan pendampingan dan pelatihan pada 100 kader untuk mendampingi anak-anak stunting. Satu kader bertanggung jawab untuk 10 anak. Selain itu terdapat iuran ASN masing-masing sebesar 45.000/bulan”. jelas Dudi
Dudi pun mengutarakan dalam sambutannya, bahwa saat ini Kecamatan Bogor Barat telah mendirikan inovasi Bernama RANTE (Rabu Makan Tempe). Program ini dibimbing langsung oleh Profesor ahli tempe Indonesia yang secara kebetulan beralamat di Kecamatan Bogor Barat.
“Berkat lahirnya grosting dan inovasi rante angka stunting di Kecamatan Bogor Barat yang awalnya mencapai angka kurang lebih 700, hari ini menurun menjadi 500. Bahkan saat ini Kecamatan Bogor Barat merupakan Kecamatan terkolaborasi terbanyak untuk menurunkan stunting”, ungkap Dudi.
Sementara itu, Ruri Sarasono selaku ketua Global Permata Perkasa (GPP) menyampaikan bahwa penyelenggaraan FAT pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011. Dimana kala itu dicanangkan oleh Menteri Pertanian dan diawali dengan bantuan secara simbolis. Tidak hanya itu, dirinya juga menjabarkan beberapa hal mengenai stunting.
“Stunting akan berdampak pada berbagai hal seperti, gagal tumbuh pada balita, metabolisme yang tidak optimal, penurunan kapasitas intelektual, penurunan kualitas SDM dan ekonomi. Stunting disebabkan oleh berbagai hal salah satunya yaitu karena kurangnya akses. Oleh sebab itu, penurunan stunting haruslah mencapai angka 14%,” ujar Ruri yang berharap program dari FAT berjalan tepat sasaran.
Kemudian, Hery Antasari selaku Walikota Bogor dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada camat, para bunda stunting dan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan FAT.
“Satu hal yang menjadi indikator penilaian oleh Kemendagri bagi para walikota dan gubernur adalah capaian penurunan stunting. Saat ini Kota Bogor adalah salah satu dari 10 kota/kabupaten di Jawa Barat yang angka stuntingnya mengalami penurunan. Oleh sebab itu saya mengapresiasi kepada camat, lurah, bunda stunting dan berbagai pihak yang terlibat atas pencapaian ini,” ucapnya.