POULTRYINDONESIA.COM, Klaten −Beberapa bulan terakhir kondisi ayam petelur menjadi perhatian utama berbagai stakeholder peternakan unggas. Hal tersebut dikarenakan berbagai persoalan yang terjadi seperti fluktuasi harga, oversupply, tingginya harga pakan, dan sebagainya. Persoalan tersebut lebih lanjut dibahas dalam webinar yang dilaksanakan oleh Yayasan Kesatriaan Entrepreneur Indonesia dengan tema “Ada Apa dengan Ayam Petelur?” melalui Zoom Meeting, Selasa (19/7).
Menurut Arif Afiata S. Pt., selaku Research and Development, PT Widodo Makmur Unggas Tbk dalam webinar tersebut menyampaikan bahwa kondisi industri ayam petelur di Indonesia masih banyak persoalan yang dihadapi. Selain itu. sebagian besar industri masih bergantung pada impor termasuk ketersediaan Grand Parent Stock (GPS).
Baca Juga: Produk Unggas dari Indonesia Resmi Masuk Singapura
“Masalah makro ayam petelur di Indonesia adalah fluktuasi harga telur, surplus telur di Indonesia, impor GPS yang berlebih, kenaikan harga pakan, dan performa produksi yang tidak stabil,” jelas Arif dalam penyampaian materinya.
Ia juga menambahkan bahwa fluktuasi harga telur yang signifikan dimulai dari Agustus 2021 dimana telur mencapai Rp 12.000/kg dan masih rendah di awal tahun 2022 sampai keadaan membaik pasca Hari Raya Idulfitri sampai sekarang cukup stabil di harga Rp 25.000/kg. Fluktuasi tersebut disebabkan oleh kenaikan harga pakan dan harga sapronak.
Panjangnya mata rantai penjualan telur juga menurut Arif dapat mempengaruhi harga jual. Rantai pasok dari kandang seharusnya bisa diefektifkan dengan dijual langsung ke berbagai sektor seperti pasar modern, pasar tradisional, dan produsen makanan berbahan telur, sebelum nantinya sampai ditangan konsumen tanpa adanya selisih harga yang signifikan.
“Rantai pemasaran yang efisien dan proses pemasaran yang efektif diharapkan dapat meningkatkan konsumsi produk telur dan olahannya oleh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.