Oleh: drh. Sulaxono Hadi*
Infectious Laryngo Tracheitis (ILT) merupakan penyakit akibat infeksi virus Gallid herpesvirus I (GaHV-1) dari genus Iltovirus, famili Herpesvirus, subfamili Alphaherpesvirinae. Infeksi virus ILT (ILTV) dapat menyerang unggas layer maupun broiler. Infeksinya pun dapat bersifat perakut dengan onset serangan yang cepat.

Infeksi Infectious Laryngo Tracheitis dapat menyebabkan kematian, penurunan bobot badan, penurunan produksi telur, pembengkakan ongkos pengendalian penyakit yang bermuara pada kerugian secara ekonomi. Untuk itu, pencegahan dan pengendalian harus benar-benar diupayakan.

Infeksi yang bersifat subakut berjalan lambat dalam beberapa hari, sedangkan infeksi yang bersifat kronis menjadi sumber bahaya laten bagi usaha peternakan, karena virus ILT tetap bersembunyi pada tubuh unggas. Virus yang ada pada tubuh unggas akan menyebar ke lingkungan (shedding) dan sewaktu-waktu dapat muncul kembali, pada saat unggas mengalami stres dan kondisi tubuh yang menurun.
Kerugian dari penyakit ini berupa kematian, penurunan bobot badan, penurunan produksi telur, dan pembengkakan ongkos pengendalian penyakit. Pada layer, kematian berkisar antara 1 hingga 6 persen dan penurunan produksi telur mencapai 12 persen (Tamilmaran et al., 2020). Namun, penurunan produksi juga bisa mencapai kisaran angka 10 hingga 42 persen. Penurunan produksi lebih banyak dijumpai pada ayam-ayam yang tidak divaksin, namun seropositif (Salhi et al., 2021).
Masa inkubasi, berlangsung sekitar 6 hingga 12 hari yang dimulai dari virus masuk tubuh hingga munculnya gejala klinis. Mortalitas kasus pada kejadian serangan perakut mencapai 50 persen, 10 hingga 30 persen pada kondisi  subakut, dan 1 hingga 2 persen pada kondisi kronis.
Gejala klinis yang tampak antara lain ayam tampak lesu, terdapat pembengkakan pada kelopak mata, serta produksi air mata yang berlebihan. Pada kasus perakut, terjadi gangguan pernafasan pada unggas. Unggas tampak menarik nafas dalam dengan mulut terbuka dan kepala menengadah ke atas.
Baca Juga: Buntut dari Endotoksin
Selain itu, pada dinding kandang, tempat pakan, tempat air minum, dan lantai kandang dapat ditemukan bercak-bercak merah segar atau kecoklatan. Perdarahan ini berasal dari saluran nafas atas, yakni trakea unggas, yang menumpuk dan dikibaskan keluar dari mulut. Pada infeksi yang bersifat subakut, perdarahan hebat pada mukosa saluran nafas atas tidak terjadi, akan tetapi eksudat pada saluran nafas atas bersifat mukeous tanpa disertai adanya perdarahan.
Kemudian pada kasus kronis, unggas hanya mengalami batuk-batuk dan ditemukan adanya discharge atau leleran pada hidung dan mata. Leleran pada mata yang mengering menyebabkan perlengketan pada kelopak mata, sehingga mata ayam yang terserang virus ILT akan menutup.
Epidemiologi
Serangan virus ILT menimbulkan masalah pada beberapa industri perunggasan di beberapa negara. Kejadian wabah penyakit yang bersifat epidemik pernah terjadi di Algeria pada tahun 2017 dan setiap tahunnya terjadi kasus sporadik pada layer (Salhi et al., 2021). Layer yang terserang akan mengalami kesulitan bernafas.
Pada proses nekropsi layer yang mati akibat penyakit ini, akan ditemukan sinusitis, konjungtivitis, tracheitis hemoragis, dan laryngotracheitis. Morbiditas dan mortalitas serangan ILTV bervariasi. Morbiditas bisa berkisar antara 50 hingga 100 persen, sedangkan mortalitasnya berkisar antara 0,1 hingga 70 persen (Bagust et al, 1995 dan Molini et al, 2019).
Serangan ILTV juga bisa terjadi pada broiler usia menjelang panen 4 minggu (Tsiouris et al., 2021), dan ditemukan sinusitis, konjungtivitis, pembengkakan dan kongesti sinus periorbital dan epithel konjungtiva mata. Virus ILT juga dapat menyerang pada ayam-ayam kampung yang dipelihara di halaman rumah. Angka prevalensi serangan ILTV pada ayam kampung di Ethiopia tercatat mencapai angka 19,4 persen atau berkisar antara 13,3 hingga 34,4 persen (Tesfaye et al., 2019). *Medik Veteriner Ahli Madya, Balai Veteriner Banjarbaru
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153