Konsistensi kualitas dan mutu produk menjadi tantangan pengembangan bisnis itik (PI-Yafi)
Produk asal itik, baik telur maupun daging sering kali dihargai lebih mahal dari pada produk serupa yang dihasilkan oleh ayam. Rasanya yang khas membuat nilai tambah tersendiri bagi produk perunggasan yang satu ini. Walaupun harganya lebih tinggi, tak lantas menyurutkan minat masyarakat untuk membeli dan mengkonsumsinya. Terlebih dengan tren perkembangan kuliner berbahan dasar itik, membuat prospek bisnis didalamnya akan semakin menarik.

Pertumbuhan permintaan terhadap produk itik menjadi peluang sekaligus tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan bisnis itik di Indonesia. Pasalnya ekosistem bisnis itik ini akan saling bertaut antar satu dan lainnya. Keberhasilan pelaku kuliner tak bisa lepas dari dukungan peternak yang apabila dirunut lebih jauh juga dipengaruhi oleh sektor hulu

Fakta tersebut sekaligus memberi tantangan dan peluang bagi pemangku kepentingan untuk dapat mengoptimalkan keadaan, sehingga tren pertumbuhan ini dapat diarahkan sesuai dengan harapan. Pasalnya proses perjalanan telur dan daging itik hingga siap dihidangkan, sering kali harus berjibaku dengan berbagai tantangan. Tak bisa dipungkiri, bahwa masih banyak persoalan yang harus diuraikan dalam bisnis itik ini. Mulai dari ketersediaan genetik yang unggul, sisi hulu (bibit dan pakan), kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada, hingga hilirisasi dan tata niaganya.
Dr. Ir. Rd. Triana Susanti, M.Si., Peneliti Pemuliaan dan Genetika Ternak, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menjelaskan bahwa pada dasarnya semua jenis unggas bisa dikategorikan sebagi jenis petelur atau pedaging. Namun di lapangan masih banyak masyarakat yang belum memahami betul jenis itik yang digunakan untuk menghasilkan produk sesuai permintaan pasar.
“Penggunaan jenis itik yang dikehendaki pasar sering tercampur aduk, itik apa untuk memproduksi apa. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini pun daging itik masih banyak dipenuhi dari itik petelur betina afkir dan itik petelur jantan. Tentu dari segi efisiensi akan kalah dengan jenis itik pedaging seperti peking,” terang Triana saat diwawancarai Poultry Indonesia secara daring, Kamis (10/2).
Namun demikian, hal ini tak lepas dari belum adanya jenis itik unggul sebagai penghasil telur maupun sebagai penghasil daging di Indonesia. Triana menjelaskan, untuk saat ini Balitbangtan telah berhasil melakukan inovai dan menghasilkan jenis itik petelur unggul yang diberi nama itik master. Itik master adalah itik hasil persilangan antara itik mojomaster-1 (jantan) dan itik alabimaster-1 (betina).
Keunggulan dari itik master adalah umur bertelur pertama lebih cepat 18-20 minggu (126-140 hari). Lebih cepat dibandingkan dengan alabio dan mojosari. Kemudian produksi telur relatif lebih tinggi dan pertumbuhan itik lebih cepat dengan puncak produksi yang relatif tinggi yakni 93,7% dengan rataan produksi telur 260 butir/tahun dan rasio konversi pakan 3.29.
Sedangkan, bagi Triana untuk jenis itik pedaging masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebenarnya Balitbangtan telah melakukan persilangan antara itik peking jantan dengan itik mojosari putih betina yang disebut dengan itik PMp Agrinak sebagai jenis unggul itik pedaging. Namun menurutnya hal ini belum mencapai titik final.
“Dalam pengembangan lanjutan, sebenarnya itik PMp Agrinak kita gunakan sebagai galur betina untuk itik pedaging yang kemudian akan disilangkan dengan entog sebagai galur jantan. Namun untuk keberadaan genetik entog yang bagus pun sangatlah susah,” jelasnya beralasan.
Dirinya menambahkan bahwa untuk galur itik pedaging yang telah banyak beredar di masyarakat berasal dari itik peking, yang ketersediaannya bergantung pada impor. Selain itu, dari pembibitan swasta juga telah ditemukan inovasi itik gunsi, yang dapat menjadi alternatif pengembangan itik pedaging di Indonesia.
Baca juga : Menakar Peluang Bisnis Itik
Lebih lanjut, hal ini akan berkaitan erat dengan bibit yang kemudian akan beredar dan dibudidayakan oleh masyarakat. Triana melihat, saat ini ketersediaan bibit dan pembibitan dengan standar kualitas dan mutu tertentu masih sangat terbatas. Fenomena yang banyak terjadi saat ini adalah pembibitan lokal, yang proses seleksi, pemilihan, hingga penetasannya belum diperhatikan secara baik. Dengan praktek pembibitan yang seperti ini, maka kualitas bibit yang dihasilkannya pun tidak akan seragam, serta mutu dan kualitasnya tidak terjamin.
“Kebanyakan di lapangan itu, peternak masih menggunakan sistem ekstensif dengan diumbar. Dengan praktik semacam ini, maka perkawinan tidak dapat terkontrol, sehingga apabila ini terjadi terus menerus yang saya takutkan akan terjadi perkawin silangan yang luar biasa, dan justru akan mengancam keberadaan itik lokal asli Indonesia,” terang Triana.
Disisi lain, dirinya juga menyoroti terkait banyaknya peternak yang menggunakan sistem ekstensif dalam proses budi daya itiknya. Menurutnya banyak peternak yang masih tidak mau untuk mengeluarkan modal pakan di awal.
“Sebenarnya mereka tau kalau dipelihara secara intensif, produksi itik akan lebih baik dan efisien, namun tetap saja masih tidak mau menyediakan modal awal untuk pakan,”ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam hal budi daya itik ini masih sangat variatif dan teknik yang belum standar. Di mana masing-masing peternak mempunyai caranya sendiri. Dengan tata cara budi daya semacam ini, ditambah dengan kualitas bibit yang beragam maka akan sangat susah untuk menjaga kualitas produk yang akan dihasilkan. Hal ini pun juga diakui Triana, sebagai tantangan dalam pengembangan bisnis itik.
Kualitas produk
Seperti halnya mata rantai yang saling bertaut, tren perkembangan kuliner itik juga tidak bisa lepas dari kondisi bisnis di sisi hulu dan budidayanya. Pasalnya, kualitas hidangan berbahan dasar itik yang tersaji di meja makan, akan sangat bergantung pada kualitas supply daging atau telur yang dihasilkan oleh peternak. Kemudian apabila dirunut lebih jauh lagi, performa di sisi budi daya juga banyak dipengaruhi oleh iklim di sisi hulu.
Hal ini dirasakan langsung oleh, Hendri Prabowo selaku pemilik Restoran Bebek Kaleyo. Saat menjadi pembicara webinar yang diadakan oleh Poultry Indonesia, Sabtu (29/8), dirinya banyak menceritakan terkait tantangan yang acap kali dirasakan oleh pelaku usaha kuliner berbahan dasar daging itik. Menurutnya problem pada kuliner itik ini adalah ketersediaan daging itik yang sangat fluktuatif baik dari segi jumlah, harga maupun kualitas.
“Apalagi di era tahun 2012-2017 pasokan itik luar biasa tidak menentu. Dalam kurun waktu Januari–Juni pasokan selalu kurang, sehingga kala itu itik yang kualitasnya di bawah standar pun terpaksa harus kita terima. Namun pada bulan lainnya terjadi pasokan yang sangat banyak sekali, sehingga kita tidak punya tempat untuk menyimpan,” jelasnya.
Dirinya melanjutkan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan oleh pihaknya untuk menjawab tantangan yang ada, mulai dari pengadaan cold storage skala kecil untuk lebih menyeimbangkan  pasokan hingga 2 kali membangun usaha peternakan sendiri. “Upaya pembuatan peternakan itik pertama gagal. Hal ini dikarenakan kualitas bibit yang kami pelihara sangatlah beragam. Ternyata meskipun wujud DOD sama, namun perkembangannya menjadi itik dewasa sangatlah berbeda, mulai dari tingkat pertumbuhan, kualitas karkas dll. Singkat cerita upaya tersebut hanya berjalan 1,5 tahun dengan kerugian yang cukup dalam,” ceritanya sambil nostalgia.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2022 dengan judul “Memetakan Jalan Pelik, Bisnis Itik. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153