
Oleh : Ir. Budi Indarsih, M.Agr.Sc.Ph.D*
Siapa sangka, unggas kecil yang tadinya dianggap hewan liar ini menjadi salah satu usaha ternak yang terus berkembang di masyarakat. Hal ini diawali oleh himbauan pemerintah yang mengatakan bahwa burung puyuh merupakan hewan ternak sumber protein hewani alternatif, sehingga meningkatkan antusias peternak untuk beternak burung puyuh. Tak terkecuali di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Warna dan bintik kerabang telur burung puyuh memengaruhi ketebalan dan daya tetasnya. Selain itu, konduksi dan penyerapan panas serta pertukaran udara juga dipengaruhi oleh warna dan ketebalan kerabang.
Selain karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi pada telurnya (6 gram/butir), burung puyuh juga dikategorikan sebagai hewan ternak yang mudah untuk dipelihara. Tidak hanya karena bereproduksi dengan cepat, namun burung puyuh juga dikenal memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Selain itu, pakan dari ternak ini pun juga mudah didapat. Baik dari pakan konvensional, sampai bahan pakan non-konvensional, seperti limbah pertanian dan industri.
Burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) merupakan salah satu jenis unggas yang sedang berkembang di Provinsi NTB. Berdasarkan laman https://data.ntbprov.go.id/, populasi burung puyuh di NTB pada tahun 2020 sekitar 73.429 ekor meningkat 19,04 % dari tahun 2019 yang berada dio 61.739 ekor. Kabupaten Lombok Tengah menjadi daerah yang menyumbang populasi terbesar. Dalam perkembangannya, burung puyuh memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di Lombok. Pasalnya, selain sebagai ternak penghasil telur yang baik, untuk puyuh jantan juga kerap kali dimanfaatkan sebagai ajang lomba suara. Hal ini mendorong berkembangnya bisnis penetasan telur puyuh skala rakyat di kalangan masyarakat.
Berbagai faktor yang dapat memengaruhi hasil penetasan unggas antara lain genotipe, lama dan tingkat suhu penyimpanan telur, kualitas internal dan eksternal telur, nutrisi, bobot badan induk dan pejantan dan umur kawin. Selain itu, musim, sistem perkembangbiakan, rasio jantan-betina serta status kesehatan juga tak boleh diabaikan. Dengan kata lain, tidak semua telur fertil dapat menetas dengan daya tetas yang diharapkan. Pada ayam mutiara (Guinea Fowl-Numida meleagris) dan broiler breeder terbukti bahwa daya tetas dipengaruhi oleh warna kerabang telur. Penelitian pada burung puyuh juga menunjukkan kerabang warna coklat menghasilkan daya tetas 84, 0% dan kerabang warna biru 68, 7 %. Telur puyuh mempunyai berbagai warna kerabang disertai bintik yang sangat bervariasi. Hal ini dimungkinkan dapat memengaruhi daya tetasnya. Untuk menjawab ini, tim peneliti Fakultas Peternakan Universitas Mataram mencoba meneliti tentang penetasan telur burung puyuh dengan memfokuskan pada perbedaan warna kerabang dan bintiknya.
Pada riset ini, warna kerabang dan bintik telur burung puyuh dibagi menjadi 3 jenis. Pertama, kerabang warna putih tanpa bintik atau sedikit bintiknya. Kedua, kerabang warna coklat muda dengan sedikit bintiknya. Ketiga, kerabang warna coklat tua, hitam atau bintik hitam memenuhi kerabangnya.
Tata cara penetasan pada riset ini diawali dengan pembersihan telur, diberi tanda, ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan warna dan bintik kerabangnya. Kemudian telur dimasukkan ke dalam inkubator dari triplek yang berukuran 60×60 cm. Setelah itu, telur dibiarkan dari hari 1-4 tanpa dibalik dengan suhu konstan 38oC. Peneropongan (candling) dilakukan pada hari ke 5, 7, dan 14. Hal ini bertujuan untuk mengetahui telur fertil dan kematian embrio, dengan senter. Candling dengan cara ini lebih mudah dilakukan untuk melihat kondisi internal telur burung puyuh, karena kerabangnya yang berbeda dengan telur unggas lain.
Pembalikan telur dilakukan 3 kali sehari (hari ke-5 sampai hari ke-14) dan dihentikan pada hari ke-15. Telur dibiarkan sampai menetas dengan suhu 38,5oC dan kelembapan 60-70%. Indikator pengamatan dan perhitungan performa penetasan mencakup daya tetas, kematian embrio (awal, tengah dan akhir) serta kualitas tetas.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, warna kerabang memengaruhi ketebalannya. Telur warna coklat tua mempunyai ketebalan 0,29±0,01 mm. Selain itu, kerabang yang paling tipis terdapat pada telur warna putih tanpa bintik, dengan tebal 0,22±0,01 mm. Kemudian, pada telur burung puyuh yang berwarna coklat muda dengan sedikit bintik memiliki ketebalan 0,25±0,01 mm.
Tabel 1. Ketebalan kerabang (mm) dan performa penetasan telur burung puyuh
Parameter |
Perlakuan |
||
(mm) |
Kerabang warna putih dan sedikit bintik |
Kerabang warna coklat muda dan sedikit bintik |
Kerabang warna coklat tua dan penuh bintik |
Kerabang embrio mati awal |
0,18±0,03 |
0,23±0,04 |
0,25±0,06 |
Kerabang embrio mati tengah |
0,14±0,02 |
0,15±0,03 |
0,19±0,04 |
Kerabang embrio mati akhir |
0,11±0,03 |
0,14±0,09 |
0,16±0,03 |
Kerabang telur fertile |
0,22±0,01c |
0,25±0,01b |
0,29±0,01a |
Kerabang telur infertile |
0,23±0,01c |
0,28±0,01b |
0,31±0,03a |
Kerabang telur yang menetas |
0,08±0,01c |
0,11±0,02ab |
0,14±0,02a |
Untuk daya tetasnya, telur burung puyuh yang berwarna coklat tua, hitam atau bintik hitam dengan tebal 0,29±0,01 mm mempunyai daya tetas terendah, yakni 75,1±3,5%. Kemudian, telur burung puyuh yang berwarna coklat muda dengan sedikit bintik dengan tebal kerabang 0,25±0,01 mm memiliki daya tetas tertinggi, yakni 85,4±2,9%. Sedangkan telur burung puyuh yang berwarna putih tanpa atau sedikit bintik memiliki daya tetas diantara kedua warna telur burung puyuh yang lainnya, yaitu 81,8±0,9%.
Pengaruh warna dan ketebalan kerabang terhadap daya tetas telur burung puyuh disebabkan adanya perbedaan kemampuan pori-pori kerabang untuk mengatur konduktivitas air dan kehilangan air selama inkubasi. Laju pertukaran gas dan kehilangan uap air melalui kerabang telur sangat memengaruhi kelangsungan hidup embrio yang sedang berkembang. Meskipun membran kerabang mempunyai resistensi terhadap pergerakan air, kerabang juga merupakan penghalang utama untuk difusi gas. Konduktivitas termal atau kemampuan menghantarkan panas kerabang telur lebih rendah dibandingkan dengan udara, sehingga ketebalan kerabang merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perpindahan panas secara konduksi.
Tabel 2. Warna kerabang dan performa penetasan telur burung puyuh
Parameter(%) |
Perlakuan |
||
Kerabang warna putih dan sedikit bintik |
Kerabang warna coklat muda dan sedikit bintik |
Kerabang warna coklat tua dan penuh bintik |
|
Kematian embrio awal |
2,7±2,7 |
4,3±1,4 |
6,2±1,4 |
Kematian embrio tengah |
6,3±1,4 |
6,9±1,4 |
10,7±2,7 |
Kematian embrio akhir |
9,1±2,0 |
3,5±3,0 |
8,0±2,5 |
Daya tetas telur fertile |
81,8±0,9b |
85,4±2,9a |
75,1±3,5c |
Daya tetas total telur |
75,0±2,5b |
82,5±2,5a |
70,0±2,5c |
Kualitas tetas |
89,0±3,6b |
91,9±1,8a |
84,5±2,6c |
Ketebalan kerabang juga memengaruhi kemampuan embrio untuk piping atau memecah kerabang, sehingga akan meningkatkan kematian DOQ (day old quail). Hal ini berarti bahwa telur berwarna agak gelap, bobot telurnya lebih berat dan memengaruhi daya tetas. Telur ukuran kecil dan besar mempunyai daya tetas lebih rendah dibanding telur ukuran sedang.
Data ketebalan dan warna kerabang memberikan indikasi bahwa adanya perbedaan bobot telur. Telur berwarna terang dan sangat terang memiliki kerabang telur yang lebih tipis dengan jumlah pori yang lebih besar dan permeabilitas air yang lebih besar, dibandingkan dengan telur berwarna sedang dan gelap. Hal ini membuat telur jenis berpeluang lebih besar untuk kehilangan air atau kehilangan berat lebih cepat pada telur ukuran sedang dan besar.
Semakin tebal kerabang telur, membuat embrio akan kesulitan keluar dari telur. Disisi lain, kerabang telur yang terlalu tipis menyebabkan kerabang mudah retak dan pecah. Telur dengan kerabang tipis yang tidak mengalami kerusakan memungkinkan hilangnya uap air lebih tinggi selama proses inkubasi. Hal ini mengakibatkan dehidrasi dan kematian embrio yang lebih tinggi. Unggas yang baru menetas dari telur kerabang tipis mengalami penurunan daya hidup dan berpengaruh terhadap performa produksi periode berikutnya.
Secara keseluruhan, riset ini menyimpulkan bahwa warna dan bintik kerabang telur burung puyuh memiliki pengaruh terhadap ketebalan dan daya tetasnya. Konduksi dan penyerapan panas serta pertukaran udara dipengaruhi oleh warna dan ketebalan kerabang. Dari riset yang dilakukan, menyebutkan bahwa warna kerabang coklat muda dengan sedikit bintik menunjukkan performa penetasan tertinggi sehingga dapat digunakan sebagai pedoman memilih telur tetas dalam usaha penetasan telur burung puyuh. *Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Mataram









