Jagung merupakan bahan pakan utama penyusun ransum pakan ternak
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kehadiran seorang wanita tidak dapat dipandang sebelah mata dalam upaya pembangunan peternakan Indonesia. Seperti halnya di bidang ilmu dan teknologi pakan, peran besar wanita berhasil menjadi inspirasi dan semangat untuk wanita lain dalam kiprahnya di bidang kegiatan masing-masing.
Untuk itu, dalam rangka meneladani semangat dan perjuangan Ibu Kartini, Indonesia Livestock Alliance (ILA) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), Majalah Poultry Indonesia, Fakultas Peternakan UGM dan Prodi Peternakan UNTIDAR menyelenggarakan webinar melalui aplikasi Zoom dengan tema “’Ilmu & Teknologi Pakan untuk Kemajuan Peternakan Indonesia” Rabu (21/4).
Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN. Eng selaku Ahli Hijauan Pakan & Agrostologi Fapet UGM menjelaskan terkait inovasi pengembangan pakan hijauan. Rekayasa hijauan merupakan proses pemasukan gen lain ke dalam suatu tanaman. Dalam hal ini, Nafiatul banyak menjelaskan terkait pengembangan rumput Gama Umami.
“Rumput Gama Umami merupakan mutasi rumput gajah yang telah diradiasi sinar gamma sehingga menghasilkan rumput yang lebih unggul dibandingkan dengan tetuanya,“ jelasnya.
Di Akhir sesi diskusi Nafiatul juga membacakan salah satu pesan dari Ibu Kartini, serta mengajak seluruh wanita Indonesia untuk selalu memaksimalkan usaha yang disertai doa untuk kemajuan peternakan Indonesia.
Baca Juga: Jagung Bermasalah Saat Industri Unggas Terus Tumbuh
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Lilis Hartati, S.Pt., M.P. Ahli Nutrisi & Teknologi Pakan Prodi Peternakan, Faperta UNTIDAR, menjelaskan terkait potensi pemanfaatan bahan pakan lokal Indonesia.
Dirinya menegaskan bahwa sebagai negara agraris Indonesia sangat kaya akan bahan pakan baik dari produk pertanian, hasil samping pertanian hingga limbah pertanian. Namun dirinya menyadari bahwa juga masih terdapat berbagai masalah dan tantangan dalam pemanfaatan serta pengembangan bahan pakan lokal ini, di antaranya ketersediaan belum terjamin, kualitas rendah terlebih ketika pasca panen, perilaku pemalsuan, keamanan pakan, serta persaingan antara pangan, pakan hingga bahan bakar.
“Untuk mengoptimalisasi bahan pakan lokal yang ada hal yang pertama adalah pemetaan dan identifikasi ketersediaan bahan lokal di masing-masing daerah,” tuturnya.
Melanjutkan pemaparan Lilis, Annisa Octa Arifa Yusuf, S.Pt selaku Technical Sales Manager Alltech Indonesia menjelaskan terkait strategi pemilihan feed additive yang tepat untuk meningkatkan produktivitas ternak.
Menurutnya, posisi feed additive sangatlah penting dan tidak bisa lepas dari perkembangan dunia peternakan saat ini. “Meskipun sebagai bahan pelengkap dan dibutuhkan dalam jumlah kecil, namun keberadaannya harus tetap ada. Untuk pemberiannya sendiri bisa dengan dicampurkan ke dalam pakan, dilarutkan ke dalam air minum atau diberikan dalam bentuk mineral blok,” ujarnya.
Annisa menambahkan dalam memilih feed additive kita harus memerhatikan kebutuhan ternak, mempunyai tujuan realistis dalam pemberian, memerhatikan faktor eksternal (cuaca, iklim, geografis), melakukan percobaan dan analisis usaha.