Semakin beragamnya jenis tantangan yang dihadapi industri perunggasan, maka semakin kuat pula SDM yang harus dibentuk. Karena masa depan perunggasan dimulai dari kualitas SDM-nya.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia diperkirakan akan memasuki puncak bonus demografi pada periode 2028 hingga 2035. Pada saat itu, Indonesia akan memiliki lebih dari 65 juta tenaga kerja muda produktif dalam rentang usia 15 hingga 29 tahun, yang mana kondisi ini merupakan bonus demografi terbesar yang pernah dimiliki Indonesia sejak kemerdekaannya.
Bonus demografi adalah momentum langka yang mungkin hanya terjadi sekali dalam peradaban suatu negara, ketika proporsi penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk berusia non-produktif. Jika dikelola dengan baik, bonus demografi ini dapat menjadi momentum kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional. Begitupun sebaliknya, peluang besar ini bisa berubah menjadi suatu petaka karena SDM yang ada berjumlah banyak dan tidak memiliki kualitas yang memadai.
Sementara itu, industri perunggasan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang, baik dari segi produksi, inovasi teknologi, maupun ekspansi pasar. Masa depan industri perunggasan sangat cerah, kebutuhan pasar domestik dalam negeri cukup besar mengingat penduduk Indonesia pada tahun 2025 mencapai 284,4 juta jiwa dan diperkirakan pertumbuhan penduduk akan terus meningkat.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI), Budi Guntoro dalam wawancara tertulis pada Rabu, (23/4) menyampaikan bahwa pada tahun 2024, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional sebesar 13,5%. Dari angka tersebut, peran perunggasan bisa dikatakan cukup vital. Dimana populasi unggas nasional (ayam pedaging) sebesar 3,11 miliar ekor sedangkan petelur 379 juta ekor, dengan pertumbuhan populasi ayam sebesar 1.45% per tahun.
Terlebih, industri perunggasan menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional. Ini menunjukkan bahwa perunggasan merupakan salah satu industri yang cukup signifikan dalam menyediakan lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi, terutama yang memiliki latar belakang pendidikan peternakan yang memiliki kontribusi sekitar 80,77% terhadap total produksi ternak nasional.
Namun, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan secara maksimal jika ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan memiliki kompetensi yang relevan dengan tantangan zaman. Tanpa persiapan SDM yang memadai, bonus demografi justru dapat menjadi bencana demografi, industri perunggasan akan sulit bersaing, bahkan bisa mengalami stagnasi di tengah ketatnya persaingan global dan pesatnya perkembangan teknologi.
Sayangnya, masih banyak lulusan pendidikan tinggi di bidang peternakan yang belum benar-benar siap menghadapi dunia kerja. Dalam wawancara dengan beberapa pelaku industri, mereka mengaku menemukan adanya gap kompetensi yang cukup besar, terutama dalam hal penguasaan teknologi closed house, analisis performa produksi, manajemen biaya, juga keterampilan komunikasi profesional.










