Oleh: Iman Hernaman*
Pemalsuan bahan pakan dengan mencampurkan batu kapur pada dedak padi akan mengalami penurunan kandungan nutrien serta akan berdampak negatif bagi ternaknya.
Dedak padi merupakan hasil samping proses penggilingan gabah yang berasal dari lapisan terluar beras pecah kulit. Penggilingan padi bisa menghasilkan beras giling sebanyak 65% serta limbah hasil gilingan sebesar 35%, dimana terdiri atas sekam (23%) dan dedak serta bekatul (10%) dan sisa persen lainnya berupa kotoran. Dedak padi adalah limbah yang dihasilkan pada proses penggilingan padi yang pertama, sedangkan bekatul adalah limbah yang dihasilkan pada proses penggilingan padi yang kedua.
Bahan pakan ini sering digunakan sebagai pakan ternak. Penggunaan dedak padi sebagai bahan pakan babi cukup tinggi, yaitu mencapai 30-40% di dalam ransum, sedangkan  dalam ransum unggas ada batasnya, yaitu 0-15% untuk ayam petelur fase starter; 0-20% untuk ayam petelur fase grower fase layer. Untuk ayam broiler, berkisar antara 5-20%, dan tidak lebih dari 20% karena akan dapat menurunkan produktivitas ayam. Sementara itu, penggunaan dedak padi sebagai campuran pakan itik cukup besar, yaitu sekitar 25-30% dari seluruh komponen pakan. Dengan demikian, penggunaan dedak padi cukup besar untuk pakan unggas dan babi. 
Ketersediaan dedak padi bersifat fluktuatif, sehingga mempengaruhi harga dari dedak padi. Permintaan yang tinggi terhadap dedak padi tidak diikuti dengan produksi yang meningkat menyebabkan harga dedak padi yang melonjak, sehingga terjadinya praktik pemalsuan dedak dengan cara mencampurkannya dengan zat atau bahan lainnya. Praktik pencampuran zat lain dalam dedak umumnya dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan menjadi lebih besar yang dilakukan oleh oknum supplier ataupun pedagang bahan pakan. Dedak padi yang sudah dicampur dengan zat lain akan mengalami penurunan kandungan nutrien dalam ransum ternak serta akan berdampak negatif bagi ternaknya.  Akhir-akhir ini sering dilaporkan dan hasil diskusi dengan praktisi industri pakan bahwa terdapat kasus dimana dedak padi telah banyak dicampur dengan batu kapur atau dikenal dengan tepung batu (limestone).
Pemalsuan Bahan Pakan
Pemalsuan bahan pakan adalah praktik mengganti atau mencampurkan bahan pakan asli dengan bahan lain yang tidak memiliki nilai nutrisi atau memiliki kandungan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan volume pakan, mengurangi biaya produksi, atau untuk keuntungan semata. 
Pemalsuan pakan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: 1) Bahan subal adalah bahan yang tidak memiliki nilai nutrisi, seperti sekam padi, dedak halus, atau tanah, yang ditambahkan ke dalam pakan; 2) Bahan lain yang memiliki sifat fisik mirip dengan bahan pakan asli, tetapi memiliki kandungan nutrisi yang berbeda, juga dapat digunakan untuk memalsukan pakan; 3) Bahan pakan asli dapat diolah atau dicampur sedemikian rupa sehingga kandungan nutrisinya berkurang, contohnya dengan menambahkan bahan yang menghambat penyerapan nutrisi.
Pemalsuan pakan dapat berdampak negatif terhadap hewan ternak, seperti: 1) Bahan subal atau bahan yang tidak dapat dicerna dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti diare atau sembelit; 2) Jika pakan palsu mengandung nutrisi yang kurang atau tidak lengkap, hewan ternak dapat mengalami kekurangan nutrisi, yang berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan; 3) Pakan palsu dapat mengurangi efektivitas pakan, sehingga hewan ternak tidak tumbuh optimal, yang berdampak pada produksi dan keuntungan peternak. 
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com