Oleh : Yogi Sidik Prasojo, S.Pt.,M.Agr*
Kedelai merupakan tanaman sumber protein yang penting bagi manusia dan ternak. Awal mula persebaran kedelai dimulai dari China bagian timur dan Korea sejak 3.000 tahun yang lalu. Kemudian kedelai diekspor melalui jalur laut menuju Jepang dilanjutkan menuju Nepal dan India Utara. Kedelai yang ada saat ini adalah hasil domestikasi kedelai liar di China untuk kepentingan pangan manusia.

Penerapan teknologi pemuliaan kedelai yang disesuaikan dengan karakter Indonesia, pemanfaatan teknologi tanam intercropping, pengurangan hama dan penyakit dengan minimal bahan kimia, serta penguatan sistem hilir (pemasaran dan penyimpanan) merupakan beberapa solusi yang dapat diterapkan dan dikembangkan di Indonesia.

Di Amerika Serikat, pertama kali tanaman kedelai digunakan sebagai pakan ternak dalam bentuk hay atau silase dikarenakan kandungan protein yang tinggi tetapi kemudian penggunaannya mulai bergeser untuk pangan hingga penghasil minyak. Di Indonesia, kedelai telah lama digunakan sebagai bahan pangan dan kebutuhannya dicukupi melalui impor. Pengalaman impor kedelai di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1659 dalam bentuk produk (kecap) dari Jepang dan berangsur mengalami peningkatan hingga tahun 1932 dilakukan percobaan penanaman di Indonesia tetapi hasil produksinya masih sangat kurang.
Baca Juga: Kualitas Pakan Memengaruhi Kesehatan Unggas
Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan, areal panen kedelai di Indonesia mengalami penurunan hingga 0,68 juta hektar dengan total produksi 0.98 juta ton. Kebutuhan kedelai di Indonesia berkisar 2,8 juta ton per tahun, sehingga total produksi dalam negeri masih tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dan diperlukan adanya penambahan impor. Total impor kedelai di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 2,7 juta ton dengan persentase terbesar didatangkan dari Amerika Serikat. Artinya Indonesia masih sangat bergantung dengan keadaan pertanian di negara lain. Sudah saatnya pemerintah Indonesia serius memikirkan dan mengembangkan keadaan pertaniannya.
Hingga saat ini, permasalahan kedelai di Indonesia terletak pada keterbatasan lahan untuk melakukan budi daya. Kedelai dianggap tidak cocok dengan iklim yang ada di Indonesia serta tidak memberikan keuntungan yang signifikan kepada petani dikarenakan tidak dapat bersaing dengan palawija lain dan adanya penambahan biaya pestisida yang tinggi karena tingginya serangan hama dan penyakit pada tanaman kedelai. Presiden Indonesia, Joko Widodo dalam pidatonya baru-baru ini juga menyampaikan bahwa minimnya ketertarikan petani Indonesia untuk melakukan budi daya kedelai adalah kalah bersaingnya harga kedelai lokal dan kedelai impor yang sangat murah.
Berkenalan dengan kedelai
Kedelai merupakan tanaman yang sensitif terhadap pencahayaan. Tanaman kedelai hanya memerlukan kurang dari 12 jam masa penyinaran untuk mampu memulai fase reproduksi. Lebih dari itu, besar kemungkinan kedelai tidak mampu memulai fase reproduksi dan tidak menghasilkan biji.
Di Amerika Serikat, kedelai dibagi menjadi beberapa kelompok menurut fase reproduksi dan lama penyinarannya (maturity group) yang disesuaikan dengan lama penyinaran di setiap negara bagian. Hal itu karena kedelai tidak akan tumbuh dengan optimal apabila ditanam di daerah yang tidak sesuai dengan fisiologi biji kedelainya. Selain tumbuh optimal, adanya keanekaragaman varietas berdasarkan lama penyinaran ini berdampak baik terhadap faktor ketersediaan dan siklus kebutuhan kedelai di Amerika. Fase dan jadwal tumbuh yang berbeda-beda berdampak pada waktu berbuah yang berbeda di setiap negara bagian. Pengelompokan kedelai yang disesuaikan dengan lama penyinaran ini lahir karena proses yang panjang dalam melakukan penelitian dan pengamatan terhadap kedelai yang dianggap penting untuk kebutuhan hidup manusia. *Kandidat doktor peternakan di Miyazaki University, Jepang
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 ini dilanjutkan pada judul “Memperkuat Keberadaan Kedelai di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153