Forum ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru dalam pengembangan yang berkelanjutan dari usaha bisnis perunggasan nasional supaya dapat menjadi lebih baik.
Forum ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru dalam pengembangan yang berkelanjutan dari usaha bisnis perunggasan nasional supaya dapat menjadi lebih baik.
POULTRYINDONESIA, Jakarta − Kondisi saat ini harga pakan yang kian naik dan belum seimbangnya supply demand berdampak pada peningkatan harga produksi. Hal tersebut menjadi persoalan yang dibahas dalam Indonesian Poultry Business Forum (IPBF) dengan tema Mitigasi, Penguatan, dan Pemerataan Industri Perunggasan Nasional: “Harga Pakan Menggila, dan Masih Perlukah SE Cutting?”. Acara ini digelar secara daring melalui aplikasi zoom, Rabu (8/6) dan dihadiri oleh pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang.
Dalam sambutannya, Arif P. Rachmat, selaku WKU Kadin Indonesia Bidang Pertanian berharap agar forum ini bisa menjadi sebuah ajang diskusi yang dapat menghasilkan pandangan baru dalam pengembangan perunggasan.
 “Diadakannya forum ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru dalam pengembangan yang berkelanjutan dari usaha bisnis perunggasan nasional supaya dapat menjadi lebih baik,” ucap Arif. 
Sementara itu, menurut Iqbal Alim, yang mewakili Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) menyampaikan bahwa perlu diterapkan kebijakan dalam menstabilkan gejolak pada industri perunggasan. Kebijakan tersebut meliputi peningkatan performa breeding farm dan produksi komersial, pengaturan distribusi DOC FS ayam ras secara proporsional dan merata serta memperbanyak kemitraan dengan pola sesuai Permentan 13/2017 tentang Kemitraan Usaha Peternakan. 
Baca Juga: Penyakit Zoonosis Mendominasi Penyebab Penyakit pada Manusia
“Selain itu penertiban kewajiban penguasaan RPHU dan rantai dingin 30% sesuai produksi livebird, dan peningkatan produksi olahan dan ekspor juga perlu dilakukan,” ujarnya.
Kusuma Dewi selaku Ketua Tim Bidang Peternakan dan Perikanan Direktora Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting, Kementerian Perdagangan yang mewakili Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag menyampaikan bahwa kebijakan cutting berdampak pada keseimbangan supply-demand daging ayam ras dan menjaga stabilitas harga.
“Sementara itu, dengan adanya kebijakan tersebut peternak mandiri kesulitan mendapat DOC broiler dengan harga yang wajar dan berkualitas baik, serta potensi merebaknya isu telur fertil dijual di pasar sebagai telur ayam konsumsi,” jelasnya.
Dalam kesemptan yang sama, Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, MT selaku Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Perekonomian menyampaikan bahwa upaya penguatan dan pemerataan Industri perunggasan Nasional meliputi peningkatan produktivitas dan daya saing industri perunggasan, pengembangan industri pengolahan telur, pengaturan tata niaga daging dan telur ayam ras secara proporsional, stabilisasi harga daging dan telur ayam ras, dan dorongan peningkatan eksor.
Dari latar belakang peternak, selaku Ir. Herry Dermawan selaku Ketua Umum Gabungan Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menegaskan bahwa gejolak harga pakan dan kebijakan cutting disebabkan salah satunya karena tidak stabilnya supply-demand. Sementara, kenaikan harga pakan telah membuat peternak tidak bisa berbuat banyak.
“ Kami hanya mengikuti regulasi pasar, dan tidak bisa berbuat apa-apa,” keluhnya.
 Senada dengan Heri, Singgih Januratmoko, SKh., MM. selaku Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia menyampaikan bahwa peternak berharap banyak kepada pemerintah untuk menormalisasi harga yang sudah naik. 
“Kenaikan harga pakan diikuti dengan kenaikan harga produksi, tapi margin keuntungan peternak masih sangat sedikit,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, juga turut hadir Ir. Musbar Mesdi selaku Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN)/ Wakil Ketua Komtap Peternakan Kadin, Dr. Desianto Budi Utomo selaku Ketum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Ir. Achmad Dawarni selaku Ketum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) serta drh. Cecep M. Wahyudin SH., MH selaku Ketua Bidang Hukum dan Humas Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUN).