Seiring peningkatan permintaan, minat masyarakat untuk membudidayakannya ikut naik (PI-Nijo)
Perunggasan merupakan salah satu penghasil protein hewani yang tergolong murah, mudah didapat dan diproduksi, mempunyai kandungan gizi yang baik, serta hampir disukai oleh berbagai lapisan kalangan masyarakat. Saat ini, produk ayam ras baik telur maupun daging masih mendominasi proporsi dalam pemenuhan kebutuhan akan protein hewani ini. Pasalnya, iklim bisnis ayam ras telah menjelma menjadi sebuah industri yang maju dan terintergrasi mulai dari hulu hingga hilir.

Di tengah kedigdayaan industri ayam ras, bisnis itik muncul sebagai alternatif pilihan bagi berbagai kalangan. Produk itik, dapat menjadi variasi kuliner yang tak kalah menggiurkan. Di sisi lain, bisnis itik patut diperhitungkan sebagai kuda hitam usaha di ranah perunggasan

Seiring kemandirian industri ayam ras  terdapat bisnis itik yang telah lama berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Dalam sejarahnya, itik petelur lebih dulu berkembang apabila dibandingkan dengan itik pedaging. Tak ayal apabila telur asin sebagai produk andalan dari peternakan itik petelur telah lama mewarnai khazanah kuliner Indonesia.
Namun dalam kurun waktu 10–15 tahun terakhir, diversifikasi produk telah terjadi pada bisnis itik di Indonesia. Di mana masyarakat yang semula hanya mengenal telur sebagai produk dari ternak itik, saat ini telah memanfaatkan daging itik sebagai sumber bahan pangan yang populer. Tentu hal ini tak lepas dari dari tren kuliner berbahan daging itik yang sedang melanda masyarakat Indonesia, sehingga banyak tersaji berbagai kuliner itik baik di warung-warung tenda di pinggir jalan, hingga di rumah makan mewah maupun hotel berbintang lima. Fakta tersebut membuat pasar dari bisnis itik semakin luas sekaligus meningkatkan kontribusi itik terhadap pemenuhan protein hewani di masyarakat.
Kondisi permintaan pasar
Saat ini peluang dari bisnis itik petelur masih cukup menjanjikan. Pasalnya, selain harganya yang lebih tinggi dari pada telur ayam, harga telur itik pun cenderung stabil. Walaupun relatif lebih mahal, permintaan akan telur itik terbilang cukup tinggi. Terutama untuk industri makanan seperti pembuatan telur asin, restoran hingga katering.
Baca juga : Berbagai Tantangan di Masa Mendatang
Tingginya permintaan akan telur itik ini diakui oleh, Benny Pandapotan Nainggolan, selaku pemilik dari CV Moving Serving Rising atau Eggy Telur Asin Pedas. Wirausahawan muda yang pemproduksi telur asin dengan berbagai inovasi rasa ini melihat bahwa bisnis itik ke depan mempunyai prospek yang besar. Selain permintaan pasar yang besar, inovasi produk olahannya masih minim, sehingga masih terdapat banyak kesempatan untuk dikembangkan. Selain itu, belum adanya industri yang masuk ke dalam bisnis ini membuat kompetisi tidak begitu berat.
“Baik main di pembibitan, pemeliharaan, maupun produk hilir, seperti telur asin maupun kuliner lain sangat berpeluang. Kuliner itik ini terus tumbuh, belum lagi tren gaya hidup sehat membuat produk itik dan ayam kampung lebih disukai masyarakat,” jelas Benny kala berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring melalui aplikasi Zoom, Selasa (8/2).
Terkait iklim bisnis telur asin, dirinya menjelaskan bahwa telur asin ini mempunyai pasar dan nilainya sendiri. Selain itu, fluktuasi harganya tidak terlalu tinggi yang berkisar antara Rp300,00-Rp500,00 per butir. Di sisi lain, pemain di bisnis ini masih sedikit, sehingga persaingannya tidak terlalu ketat. Lebih lanjut, berdasarkan riset pasar yang dilakukan oleh Benny dan timnya, perputaran telur asin di daerah Jabodetabek per bulan sekitar 6 juta butir telur asin.
“Apabila harga sebutir telur asin Rp2.000,00 jadi perputaran per bulannya sekitar 1,2 miliar. Angka ini cukup besar, karena pelaku usaha telur asin dipegang oleh UMKM dan belum ada industri yang masuk kedalamnya,” tegas Benny. Selain pasar lokal, ia juga menyoroti pasar ekspor yang tingkat permintaannya sangat besar. Hanya saja, Benny mengakui bahwa saat ini bisnis telur asin terkendala dengan tidak adanya jaminan mutu dan kualitas bahan baku telur itik dari para peternak.
Tak hanya pada telur itik, pertumbuhan kondisi bisnis juga terjadi pada itik pedaging. Pasalnya saat ini di berbagai daerah, terlebih kota besar, daging itik ini sudah lumrah dijumpai di warung makan pinggir jalan, ataupun di daftar menu restoran kelas menengah ke atas. Menu kuliner daging itik, serta produsen daging itik siap olah pun sudah relatif mudah dijumpai. Selain itu, pertumbuhan tren kuliner daging itik ini secara perlahan juga membuat anggapan di masyarakat bahwa daging itik susah dimasak mulai memudar.
Pertumbuhan bisnis itik pedaging ini dirasakan langsung oleh Ang Hendra, pemilik PT Putra Perkasa Genetika (PPG). Kala dijumpai secara langsung di kantornya, Hendra mengaku bahwa dirinya memulai terjun di bisnis itik ini sejak 10 tahun lalu. Mulai dari berbudi daya skala kecil untuk menghasilkan daging semata, hingga terus berkembang dan berorientasi pada bidang pembibitan.
“10 tahun lalu saya melihat bahwa pilihan masyarakat untuk daging unggas sangat terbatas pada ayam, sehingga saya mencoba memulai terjun di bisnis itik ini. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan pasar yang semakin baik, maka kita mencoba mengarah kepada pengembangan genetik,” kelakarnya.
Melalui bendera PPG, Hendra telah berhasil menghasilkan itik Gunsi 888 yang merupakan galur itik pedaging hibrida hasil persilangan antara itik peking dan itik khaki cambell yang telah memiliki hak paten dari Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pertumbuhan itik Gunsi 888 ini terbilang cepat dan bisa dipanen hanya dalam waktu 35 hari dengan berat berkisar 1,4 kg sampai 1,5 kg per ekor dan 2,2 kg umur 52 hari.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2022 dengan judul “Menakar Peluang Bisnis Itik. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153