Nodul paru-paru ayam yang terserang Aspergilosis
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Aspergillus sp dapat tumbuh pada pakan dan berbagai bahan pakan dan menghasilkan toksin (mycotoxin), yang dapat menimbulkan penyakit yang disebut mycotoxicosis. Mycotoxin yang dihasilkan oleh Aspergillus sp kadang kala menjadi bahaya laten disetiap peternakan yang berada di daerah tropis, karena racun ini dapat menyebabkan serangan atau gangguan kesehatan pada ternak yang dapat berujung pada kematian yang dikenal sebagai Mycotoxicosis. Kurang baiknya manajemen penyimpanan bahan pakan maupun pakan jadi, menyebabkan terjadinya invasi mycotoxin pada sebuah peternakan, sehingga apabila suatu peternakan telah terinvasi oleh mycotoxin maka jangan diharapkan produksi optimal akan tercapai.
Bahan-bahan yang mudah dicemari kapang Aspergillus merupakan sumber utama bagi infeksi Aspergillosis. Pada peternakan unggas, pakan merupakan salah satu dari bahan-bahan di sekitar ternak yang dapat merupakan sumber infeksi Aspergillosis tersebut. Aspergillus selalu ditemukan pada pakan dan bahan-bahan lainnya sebagai kapang saprofit bersama kapang lainnya, tetapi oleh faktor-faktor tertentu, misalnya daya tahan tubuh ternak menurun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat, dan sistem manajemen yang tidak baik, maka ternak menjadi peka dan kapang Aspergillus menjadi patogen bagi ternak-ternak tersebut.
Cara pengendalian cemaran mikotoksin umumnya dilakukan dengan pencegahan, dilanjutkan dengan pemberantasan atau mengurangi kapang dan mikotoksin yang dihasilkan. Pengendalian dimulai di tempat penyimpanan dilanjutkan pada pakan atau bahan penyusun pakan. Pencegahan dan pengendalian cemaran kapang pada tempat penyimpanan dilakukan dengan mengurangi kelembapan hingga di bawah 70%.
Selanjutnya dilakukan pemberian CO2, kedap udara, fumigant (fosfin/PH3), dan metil bromida untuk menurunkan populasi cemaran kapang. Pemberian ventilasi yang memadai pada tempat-tempat penyimpan bahan pakan juga dapat mengurangi pertumbuhan dan mencegah metabolisme kapang. Dinding permukaan bangunan penyimpan bahan pakan harus rata dan pada cat tembok ditambahkan zat antikapang untuk mengurangi pertumbuhan kapang pada dinding. Penyimpanan pakan dan penyusunnya hendaknya juga tidak terlalu lama. Selama penyimpanan di gudang pabrik pakan, suhu dan kelembapan yang tinggi akan mendukung pertumbuhan kapang.
Baca Juga : Gopan Ajak Peternak Modernisasi Kandang
Cara yang umum dilakukan untuk mencegah cemaran mikotoksin adalah dekontaminasi secara fisik melalui pencucian, menggunakan bahan kimia, dan secara biologik (pengendalian biologis, menambah nilai gizi pada pakan yang tercemar, dan menambah senyawa pengikat toksin). Bila cemaran kapang sudah ditemukan maka perlu ditambahkan bahan pengikat mikotoksin pada pakan, yaitu imbuhan pakan yang dapat mengikat mikotoksin di dalam saluran pencernaan dan membuangnya melalui sekresi.
Bahan pengikat mikotoksin yang baik adalah pada tingkat konsentrasi yang rendah mampu mengikat beragam mikotoksin pada level yang tinggi, stabil terhadap panas dan pH, dan tidak mengikat nutrisi lain yang berguna untuk pertumbuhan. Belum ada pengobatan yang efektif dan ekonomi untuk keracunan mikotoksin. Faktor ekonomis menjadi pertimbangan peternak untuk melakukan pengobatan akibat keracunan mikotoksin.
Beberapa pengikat mikotoksin seperti alfafa, sodium bentonit, zeolit, arang aktif, dan kultur khamir (Saccharomyces cerevisiae) dapat digunakan untuk mengurangi racun. Obat tradisional seperti sambiloto dan bawang putih dapat pula digunakan. Sebaiknya selain diberi pengikat mikotoksin, hewan juga perlu diberi asupan elektrolit, vitamin, dan gizi yang cukup.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Ancaman Aspergilosis Selalu Sadis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153