Oleh : Dr. drh. Desianto B. Utomo. Ph.D*
Sebagai informasi, hampir 90% dari produksi pakan nasional dari 110 pabrik anggota GPMT, memproduksi pakan unggas. Artinya, setiap kenaikan maupun penurunan dari populasi unggas, akan sangat berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi. Harga pakan yang terbentuk saat ini tidak ada kaitannya dengan harga jual livebird di lapangan, melainkan dari biaya produksi dari pakan itu sendiri. Biaya pokok produksi pakan, sangat dipengaruhi oleh harga bahan pakan penyusun ransum. 
Sedangkan jika berbicara mengenai populasi unggas, walaupun dari pemerintah dalam hal ini yaitu Dirjen PKH Kementerian Pertanian telah melakukan upaya pengendalian yaitu Surat Edaran Cutting HE dan afkir dini PS untuk menjaga agar populasi tidak oversupply tampaknya belum bisa efektif untuk mengontrol secara tuntas harga livebird. Ketika di hilir pemerintah sulit untuk mengendalikan populasi maka hendaknya pemerintah mulai memikirkan cara untuk mengontrol suplai livebird jangka panjang dengan mengendalikan importasi GPS. Untuk importasi GPS sendiri memang sedang hangat diisukan terkait dengan liberalisasi kuota impor dengan harapan akan terjadi titik keseimbangan baru ketika impor GPS tanpa kuota diberlakukan. Hanya saja ketika pelaksanaannya aturan impor GPS tanpa kuota harus dikawal dengan ketat, jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam artian tidak memiliki fasilitas untuk memelihara GPS tapi tetap mendapatkan izin. 
Perjalanan awal tahun lalu memang kami cukup optimis karena pada akhir tahun 2022 itu memang masih terlihat menjanjikan dibandingkan dengan periode yang sama yaitu akhir tahun 2021. Kemudian di semester pertama kami melihat dari perjalanan sepanjang 2023 hingga mejelang akhir tahun itu tidak bisa tumbuh sesuai prediksi karena permintaan terhadap pakan berkurang yang disebabkan oleh permintaan terhadap daging ayam itu turun. Jika dikaitkan dengan daya beli masyarakat ketika semester satu itu memang belum terlihat growth yang kita harapkan di angka 3-5% sedangkan pada kuartal 3 akhir jika dilihat dari data dan realita di lapangan, harus realistis bahwa target pertumbuhan industri pakan harus terkoreksi yaitu di angka 1,5%.
Baca juga : Memperkuat Daya Saing Industri Perunggasan
Yang mendesak saat ini adalah bahan baku lokal yaitu jagung. Realita di lapangan, stok jagung memang sudah menipis, termasuk pada saat ini (30/10) stok jagung rata – rata pabrik pakan secara nasional berada di sekitar 30 hari. Sementara itu, produksi pakan yang terus berjalan menyebabkan penggunaan jagung sebagai salah satu bahan pakan utama menjadi lebih besar dibandingkan dengan pembelian jagung, maka tentu stok jagung nasional semakin hari akan semakin turun. Beberapa feedmill itu memang sudah mengurangi penggunaan jagung untuk formulasi pakan karena khawatir pada periode Desember –  Januari itu memasuki masa kritis untuk ketersediaan jagung.
Kita harus mengapresiasi PLT Mentan yaitui Arief Prasetyo Adi yang menyatakan bahwa stok 5 juta ton untuk jagung di akhir tahun itu mesti dikoreksi karena memang realita di lapangan tidak ada stok sebanyak itu. Artinya industri harus realistis menyadari bahwa produksi jagung tahun ini memang berkurang jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena adanya el nino. Kemudian karena hingga saat ini pada bulan Oktober belum terjadi hujan, maka akan menyebabkan para petani akan memundurkan waktu tanam dari jagung itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan para petani jagung di Indonesia masih mengandalkan sistem tadah hujan yang sangat mengandalkan turunnya hujan. Walaupun memang ada sebagian dari petani jagung yang menggunakan sistem pengairan diluar tadah hujan, akan tetapi masih relatif sedikit jika dibandingkan dengan para petani yang menggunakan sistem tadah hujan. Maka jika perkiraan menurut BMKG baru terjadi hujan pada akhir November atau awal Desember akan menyebabkan mundurnya masa panen ke bulan Akhir Februari atau awal Maret 2024.
Permasalahan lainnya yang mungkin ditemui adalah penyerapan panen yang kurang optimal karena pada periode tersebut sudah mulai masuk masa puasa dan lebaran. Masa optimal penyerapan jagung itu biasanya pada 2 minggu pertama puasa, sedangkan ketika sudah mulai memasuki waktu lebaran, penyerapan jagung akan sulit untuk optimal karena berbagai macam pembatasan untuk kendaraan berat ketika melintasi jalan raya mendekati hari raya idulfitri. 
Walaupun bahan pakan seperti jagung yang notabene salah satu bahan pakan yang krusial dalam pembuatan ransum pakan, peternak tidak perlu risau atas kualitas pakan yang diterima. Dalam formulasi yang digunakan para formulator untuk membuat sebuah pakan jadi, hanya memperhatikan faktor kebutuhan nutrisi yang ingin dituju. Sedangkan untuk mencapai kebutuhan nutrisi tersebut, formulator bisa mencari titik keseimbangan tertentu walaupun misalkan bahan pakan utama yang biasa digunakan itu cukup mahal atau tersedia secara terbatas. Aspek yang mungkin harus diperhatikan oleh para peternak saat ini adalah bahwasanya dari pihak Direktorat Pakan Ditjen PKH Kementan telah mengeluarkan SNI untuk pakan broiler dengan standar mutu 1 atau mutu 2 yang berbeda di periode sebelumnya hanya terdapat satu mutu saja. Artinya saat ini peternak diberi fleksibilitas untuk bisa menyesuaikan kebutuhan di lapangan sesuai dengan preferensi.
Penulis tak henti hentinya ingin mengingatkan bahwa selain permasalahan dan tantangan yang terjadi di internal negara Indonesia, ancaman lain yang sudah nyata adanya adalah ancaman importasi daging ayam dari negara – negara produsen karkas dunia. secara aturan WTO, Indonesia sudah kalah ketika digugat oleh Brasil terkait dengan importasi produk unggas ke Indonesia. Cepat atau lambat, mereka akan bisa menembus pasar Indonesia. Maka dari itu, perlu adanya langkah efisiensi secara masif. Langkah para peternak di Indonesia yang mulai mengadopsi dan mengadaptasi sistem perkandangan closed house  perlu diapresiasi, karena dengan penggunaan kandang closed house, maka efisiensi produksi akan lebih mudah dicapai. Sedangkan efisiensi adalah kunci supaya produk unggas asal Indonesia bisa bersaing secara global.
Kalau dalam aspek budidaya tidak bisa efisien dan menekan biaya pokok produksi, maka akan sulit untuk bersaing secara global. Sedangkan biaya pokok produksi yang cukup besar dalam usaha budi daya yaitu adalah biaya pakan. Maka supaya harga pakan bisa lebih kompetitif, diberi fasilitas supaya biaya bahan pakan tidak terlampau tinggi semisal peraturan anti dumping yang bisa meningkatkan harga bahan pakan ketika sampai di Indonesia. 
Selain itu untuk bidang pakan, sebaiknya para pelaku usaha di bidang pakan dalam urusan memperoleh izin NPP sebaiknya diberi jalan keluar yang bisa mempersingkat waktu keluarnya izin. Perlu diketahui bersama bahwa ketika laboratorium yang digunakan untuk mengukur asam amino itu sangat terbatas, maka dari itu apakah bisa difasilitasi untuk syarat pengajuan izin NPP itu menggunakan laboratorium yang telah terakrediatasi oleh KAN, artinya laboratorium swasta yang terakreditasi itu bisa diyakinkan tetap bisa digunakan untuk uji pakan dengan tetap menjaga independensi. *Ketua Umum GPMT, Staf ahli Majalah Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com