Oleh: drh. Desianto Budi Utomo., Ph.D.*
Tahun depan bisa jadi merupakan tahun yang agak berat untuk dijalani. Ketika berbicara makro ekonomi dunia yang berkaitan langsung dengan industri pakan. Saat ini menurut pengamatan dari penulis, harga Soybean Meal per November 2022 telah mencapai Rp9.000,00 dan bisa mencapai angka Rp10.000,00. Selain itu, keadaan ini juga diperparah dengan harga kurs Dolar Amerika Serikat yang semakin hari terlihat menguat terhadap rupiah.
Diprediksi tahun 2023 akan menjadi tahun yang terasa lebih sulit untuk dijalani. Banyak aspek ketidakpastian dan anomali yang terjadi dan sangat berbeda dari apa yang sudah dijalani pada tahun – tahun sebelumnya. Namun demikian selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan.
Bahkan, saat tulisan ini dibuat, harga Dolar AS terhadap rupiah berada di angka Rp15.600,00. Kita semua mengetahui bahwa masih terdapat berbagai macam bahan pakan impor yang secara kuantitas mencapai 30 – 35 % dari total formulasi pakan. Akan tetapi, secara nilai ekonomis, bahan pakan impor tersebut menyumbangkan 60 – 65 % dalam komponen biaya pakan.
Jika digambarkan lebih detail, jumlah bahan pakan impor sebut saja salah satunya penggunaan premix dalam pakan memang hanya sedikit. Tetapi jika dirupiahkan, penggunaan premix yang biasanya hanya 0,5 % dalam formulasi, bernilai rupiah sangat tinggi. Penyebabnya bisa bermacam – macam, dari harga bahan pakan di negara asalnya meningkat, harga angkut dan transportasi bahan pakan dari negara asal juga meningkat, nilai tukar Rupiah yang menurun terhadap Dolar AS, akan sangat berpengaruh terhadap biaya produksi dari pakan. Hal tersebut yang membuat penulis merasa bahwa tahun depan akan dilanda ketidakpastian yang bisa berubah setiap saat. Bisa jadi sangat prospektif, maupun juga sebaliknya.
Jika kita melakukan kilas balik terkait apa saja yang sudah terjadi sepanjang tahun 2022, sektor perunggasan masih dalam situasi yang sama. Dimana permasalahan yang sama masih sering kali muncul sepanjang tahun 2022, kompleksitas permasalahan yang sama dari beberapa tahun terakhir. Jika dianalogikan, industri perunggasan memang bergerak secara dinamis, namun masih di tempat yang sama. Beberapa rumusan solusi yang dihasilkan, belum bisa menghasilkan sebuah solusi untuk jangka panjang yang permanen. Salah satu contoh kasus, yaitu Surat Edaran Cutting DOC dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan. Ketika SE tersebut dilakukan, ternyata masih terjadi kondisi ovesupply di tingkat peternak dengan parameter harga di tingkat peternak yang masih fluktuatif naik dan turun. Bahkan, kondisi saat ini membuat banyak dari peternak mandiri yang harus gulung tikar akibat tidak mampu menahan beban harga jual di bawah biaya pokok produksi.
Tekanan harga jual livebird yang sering kali berada di bawah biaya pokok produksi, terus – menerus dialami oleh para peternak, sehingga pada akhirnya tidak mampu bertahan lagi. Penulis merasa harus meluruskan bahwa banyak peternak yang mengatakan bahwa kejadian tersebut dikarenakan harga pakan yang tinggi, padahal kenyataannya adalah harga pakan tinggi tidak akan ada masalah jika harga livebird yang dijual oleh para peternak bisa mendatangkan keuntungan atau berada di atas biaya pokok produksi.
Pada tahun 2023 mendatang, penulis merasa bahwa industri perunggasan masih akan terus eksis, akan tetapi pertumbuhannya akan tertahan jika dibanding lima tahun yang lalu. Tertahannya pertumbuhan bisa dilihat dari pandemi global Covid-19 yang menyebabkan perputaran ekonomi terganggu, hingga persoalan geopolitik, yaitu konflik Rusia dengan Ukraina yang menyebabkan suplai gandum dunia yang sangat terganggu. Mengingat kedua negara tersebut merupakan penyuplai gandum terbesar ke-2 untuk Ukraina dan ke-3 untuk Rusia.
Pada dasarnya, Industri perunggasan di tahun 2023 tidak akan kolaps karena didukung oleh pola konsumsi masyarakat yang bertumpu pada komoditas perunggasan sebagai sumber pangan protein hewani masyarakat, sebesar 65%. Selain itu, di negara yang memiliki populasi penduduk sebesar 274 juta jiwa ini, untuk konsumsi per kapita perunggasan sendiri masih rendah, sehingga ruang untuk tumbuh dan berkembang masih bisa ditingkatkan lagi. Akan tetapi, semua aspek tersebut memang sangat bergantung pada tingkat daya beli masyarakat. Ketika daya beli masyarakat turun, maka akan sangat berpengaruh terhadap industri pakan. Jikalau permintaan masyarakat untuk konsumsi komoditas perunggasan turun, maka otomatis permintaan para peternak untuk pakan ayam juga akan mengikuti.
Dari segi kapasitas dan kapabilitas, penulis merasa para peternak di Indonesia telah mampu untuk melakukan kegiatan produksi dengan sangat efisien. Justru, saat ini tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk menyerap produksi dari para peternak. Sebagai gambaran, industri pakan sebagai penyokong kegiatan budi daya para peternak masih memiliki idle capacity sebesar 30%, jadi kalaupun permintaan masyarakat terhadap ayam ras itu melonjak hingga 30%, industri ini masih siap untuk memenuhi permintaan tersebut. Maka dari itu, di saat harga bahan pakan global sedang tidak menguntungkan, bagaimana caranya agar para pelaku usaha pakan lokal dapat memaksimalkan potensi dari bahan pakan lokal semisal bungkil inti sawit, dedak, onggok, dan bila perlu dilakukan kerja sama dengan para peneliti untuk meningkatkan kecernaan sekaligus mengurangi faktor anti nutrisi dari bahan pakan tersebut.
Faktor lain yang menyebabkan industri perunggasan masih prospektif dikarenakan industri ini bergerak di bidang pangan yang termasuk kebutuhan primer. Masyarakat bisa mengurangi alokasi belanja untuk kebutuhan lain seperti baju baru selama masih ada baju lainnya yang layak dipakai, menahan belanja untuk mengganti kendaraan seperti motor atau mobil baru selama masih ada kendaraan yang layak. Akan tetapi, kebutuhan untuk pangan memang tidak bisa tidak bisa ditunda.
Dengan segala prospek yang dimiliki oleh sektor perunggasan, memang masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh industri perunggasan terutama di budi daya. Budi daya para peternak di Indonesia harus bisa dijalankan secara efisien, agar ancaman yang nyata, yaitu importasi daging ayam dari Brasil. Tak berhenti di situ saja, ketika daging ayam dari Brasil mampu menembus pasar Indonesia, maka negara produsen lainnya sudah siap untuk mengikuti jejak Brasil untuk membanjiri pasar daging ayam di Indonesia. Seharusnya setiap stakeholder perunggasan di Indonesia mampu menciptakan iklim yang solid dan saling bergandengan tangan untuk melawan musuh bersama. Sayangnya, sampai saat ini kenyataan yang terjadi di lapangan belum dapat meningkatkan daya saing. Indikator dari daya saing produk perunggasan, yaitu dapat menghasilkan ayam dengan FCR yang tinggi, penggunaan teknologi dalam urusan perkandangan, penurunan mortalitas, dan aspek manajemen lainnya yang diperlukan untuk melawan importasi dari luar negeri.
Penulis ingin bersikap realistis dalam menyambut tahun 2023 di mana memang akan terasa lebih sulit untuk dijalani. Banyak aspek ketidakpastian dan anomali yang terjadi dan sangat berbeda dari apa yang sudah dijalani pada tahun – tahun sebelumnya. Jika mengambil salah satu contoh kasus, seperti yang terjadi di komoditas jagung. Harga jagung ketika musim panen di mana biasanya terjadi tren penurunan harga, saat ini yang terjadi di lapangan malah sebaliknya. Tren kenaikan harga justru terjadi saat musim panen. Anomali tersebut mungkin tidak akan hanya terjadi pada komoditas jagung saja, tetapi bisa juga terjadi pada komoditas – komoditas atau barang lain.
Maka dari itu, penulis ingin mengajak seluruh stakeholders di bidang perunggasan agar bahu-membahu melawan ancaman tunggal, yaitu importasi daging ayam dari negara lain. Selanjutnya, upaya peningkatan efisiensi mesti dilakukan untuk meningkatkan daya saing supaya dapat menembus pasar global, baik di level budi daya maupun di industri pakan. Kolaborasi dengan para periset dan akademisi dibutuhkan agar para pembudi daya bisa melakukan kegiatannya secara efisien dengan dukungan hasil riset yang ada. Sedangkan untuk industri pakan secara khusus, penulis mengimbau supaya bisa berkolaborasi dengan para akademisi dan periset untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mampu meningkatkan penggunaan bahan pakan lokal dalam formulasi ransum. Hal tersebut semata – mata untuk mempersiapkan lonjakan permintaan hingga 30%, mengingat industri ini bergerak di bidang pangan yang mana masyarakat tidak mungkin untuk meninggalkan kebutuhan akan pangan. *Staf Ahli Majalah Poultry Indonesia, Ketua Umum GPMT
Artikel ini merupakan rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...