Gambar tingkat keparahan pododermatitis berdasarkan RSPCA
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Pada sebuah wawancara Poultry Health Today (29/4), Edgar Oviedo, DVM, Ph.D selaku Poultry Specialist North Carolina State University mengatakan bahwa berdasarkan riset yang telah dilakukan selama 20 tahun kepincangan yang terjadi selain karena perutumbuhan broiler yang cepat dan bobot tubuhnya yang semakin meningkat, Edgar mengobservasi sebenarnya masalah ini terjadi pada awal kehidupan ayam. ”Masalah yang terjadi pada tulang tidak hanya terjadi pada mineralisasi saja atau kerusakan pada kolagen. Hal tersebut terjadi saat proses pembentukan embrio,” ungkapnya.
Upaya untuk menekan angka kejadian kepincangan juga dapat  diatasi mulai dari hatchery. Edgar mengatakan bahwa dengan menurunkan temperatur pada akhir masa inkubasi di hatchery dan management ventilasi yang baik. ”Penurunan temperatur akan menghasilkan pembentukan yang lebih baik tidak hanya pada tulang tetapi juga pada jaringan maupun imunitas. Ketika hal ini dilakukan maka dapat membantu menurunkan insidensi kepincangan sampai setengahnya. Efek pengaturan inkubasi yang baik ini juga akan berlangsung sepanjang umur ayam,” ujarnya.
Edgar tak memungkiri bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kepincangan pada ayam seperti transportasi, temperatur hari-hari pertama pada saat brooding, atau adanya gangguan terhadap asupan nutrisi. ”Butuh adanya ketelitian dalam pengawasan, banyak observasi, serta nalar untuk melihat adanya peluang terjadinya kepincangan. Saat ini dengan adanya bantuan teknologi seperti infrared atau dengan sensor elektronik lainnya akan lebih membantu untuk pendeteksian.”
Dari segi nutrisi, insidensi pododermatitis pada ayam dapat dilakukan dengan mengatur asupan protein kasar. Berdasarkan pemaparan Ruben Kriseldi selaku kandidat Ph.D dari Department of Poultry Science of Auburn University dalam Webinar berjudul ‘Broiler Nutrition and Feed Technology’, Rabu (3/6), menyatakan bahwa dengan mengurangi jumlah protein kasar pada pakan tidak hanya akan mencegah terjadinya menurunkan emisi amonia, tetapi juga pododermatitis. ”Kadar protein kasar yang rendah akan menurunkan water intake sehingga menurunkan kelembapan dari litter. Jadi kejadian pododermatitis dapat ditekan,” ucapnya.
Baca Juga: Ketidakseimbangan Mikrobiota dalam Usus Ayam
Kesehatan usus yang terjaga juga dapat membantu menurunkan angka terjadinya pododermatitis. Jika usus tidak sehat, contohnya seperti kasus enteritis, ayam akan mengalami diare, sehingga nutrisi dari pakan akan terbuang percuma bersama feses, selain itu litter akan menjadi basah. Kandungan nutrien yang terbuang tersebut juga akan mendukung pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu diperlukan strategi untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus agar nutrisi dapat terserap sempurna dan mencegah terjadinya diare.
Kasus kepincangan memang menjadi hal yang masih banyak ditemukan, apalagi pada broiler modern yang sangat rentan pada gangguan ini. Maka langkah penanggulangan yang perlu dilakukan terutama pada kasus pododermatitis diperlukan kontrol humiditas, ventilasi, asupan nutrisi, serta kondisi litter yang optimal agar isidensi pododermatitis dapat ditekan dan tidak mengganggu kualitas maupun kuantitas produksi. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2020 dengan judul “Cegah Kasus Pododermatitis Sejak Dini”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153