POULTRY INDONESIA, Jakarta — Comfort zone (zona nyaman) menjadi musuh bagi manusia jika ingin berkembang. Sebab, pada kondisi ini tidak ada perkembangan berarti, bahkan terkesan berhenti. Namun, tidak demikian dengan broiler, di mana ayam ini justru butuh comfort zone untuk tumbuh secara optimal.
Hal ini seperti disampaikan oleh Anggun Pasini, S.Pt, selaku Manager Farm Naratas PS, Ciamis, dalam sebuah seminar dengan tema “Ayam Sehat Dimulai dari Kandang” yang berlangsung secara daring via aplikasi Zoom Meeting, Kamis (15/9).
Menurut Anggun, broiler memiliki daya hidup yang bagus, pertumbuhan cepat, dan Feed Convertion Rate (FCR) lebih efisien. Namun, ayam jenis ini mudah stress. Sedang akibat dari stress sendiri dapat menyebabkan feed intake menurun, pertumbuhan terganggu, uniformity tidak tercapai dan angka deplesi meningkat.
“Comfort zone sangat diperlukan untuk menjamin kenyamanan ayam. Comfort zone ini semakin mudah tercapai dengan kandang tertutup (closed house). Sebab, dengan kandang tertutup akan menyediakan suhu dan kelembaban yang sesuai dengan kebutuhan ayam, sehingga meminimalisir stres akibat perubahan kondisi lingkungan,” terangnya.
Baca Juga: Charoen Pokphand Indonesia Resmikan Kandang Closed House Universitas Padjadjaran
Selain itu, lanjutnya, untuk menjamin kenyaman ayam agar terhindar dari serangan penyakit, maka perlu diterapkan sistem biosecurity secara ketat. Sistem ini merupakan desain praktis untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit infeksius dalam farm maupun keluar lingkungan farm.
Menurut Anggun, ada tiga prinsip dasar dalam penerapan biosecurity, yaitu isolasi,pengendalian lalu lintas dan sanitasi. Isolasi adalah menjauhkan ayam dari orang, kendaraan dan benda yang dapat membawa agen penyakit dan menciptakan lingkungan tempat ayam menjadi terlindungi dari pembawa penyakit. Pengendalian lalu lintas adalah membatasi jumlah orang, kendaraan dan alat-alat yang akan masuk dan keluar ke area farm.
“Sedang sanitasi dilaksanakan dengan menerapkan C&D (Clean and Disinfectant) kandang, yang bertujuan membunuh kuman, pengendalian hama pembawa kuman dan pembuangan bangkai secara rutin untuk meminimalisir kontaminasi,” pungkasnya.